Sketsa News
Home Berita Terkini, Opini Perang Bintang Dalam Pilpres 2014

Perang Bintang Dalam Pilpres 2014

ilustrasi-coblos-pemilu-sketsanewsMeski pilpres 2014 kali ini hanya ada dua kandidat pasangan capres-cawapres, dan hanya ada satu capres yang berlatar belakang TNI ( kalo tidak boleh disebut purnawirawan). Tetapi pada kenyataanya pilpres kali ini lebih terlihat sebagai pilpres perang bintang. Sangat nyata terlihat masing –masing pendukung pasangan capres-cawapres yang berlatar belakang purnawirawan TNI-POLRI saling serang satu sama lain demi membela capres dukunganya atau untuk menjegal lawan politik mereka. Dimulai dari serangan pendukung capres Jokowi-JK yang menggulirkan isu HAM yang pernah dianggap menimpa capres Prabowo Subianto ketika pecah kerusuhan Mei ‘98 pada masa reformasi 1998.

Tidak henti-hentinya para purnawirawan TNI yang menjadi pendukung capres Jokowi-JK, yang di motori oleh trio Jenderal TNI (Purn) Wiranto, Luhut Binsar Panjaitan dan AM Hendropriyono secara terus menerus menghembuskan isu pelanggaran HAM atas kasus penculikan aktifis 98 termasuk memainkan isu pemecatan dari TNI yang dialami oleh Prabowo. Tidak tanggung-tanggung, surat keputusan dari DKP (Dewan Kehormatan Perwira) yang mestinya menjadi surat rahasia intern TNI pun dibocorkan ke publik lewat media sosial.

Kubu para Jenderal purnawirawan pendukung pasangan capres-cawapres Prabowo-Hatta pun melawan. Seperti Mayor Jenderal (Purn) Kivlan Zein, pensiunan Jenderal kelahiran Langsa, Nanggroe Aceh Darussalam, Desember 1946 ini memang terkenal teguh memegang prinsip, apalagi jika terkait kedaulatan NKRI. Bahkan, Kivlan berani berseberangan dengan koleganya di dunia militer. Juru bicara pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, Kivlan Zen, menuding mantan Panglima ABRI, Jenderal TNI(Purn) Wiranto, turut bertanggung jawab dalam kasus penculikan aktivis pada tahun 1998.

Kivlan dengan lantang sempat mengungkapkan bahwa Jenderal (Purn) LB Moerdani dan Jenderal (Purn) Wiranto bersekongkol merencanakan kudeta terhadap Presiden Soeharto. Tak hanya itu, Kivlan juga menuding Wiranto telah “main mata” dengan Wapres Habibie untuk menggulingkan Soeharto. (Intelijen.co.id 15/10/2011)

Kivlan juga menuding para Jenderal purnawirawan yang anti terhadap Prabowo lah yang membocorkan surat keputusan Dewan Kehormatan Militer (DKP) yang mengkambing-hitamkan mantan menantu Presiden Soeharto itu, dalam operasi penculikan aktivis. “Wiranto terlibat. Dia yang paling tahu persoalannya dan Subagyo HS (mantan KSAD),” ujar Kivlan, saat menjelaskan soal kasus penculikan aktivis, seusai diskusi di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI), Depok, Rabu (18/6/2014) kemarin. ( Tribunnews.com/Kamis, 19/6 )

Jenderal lain pun ikut bicara, mantan Wakasad Letjen TNI (Purn) Suryo Prabowo mempertanyakan tanggung jawab atasan Prabowo dalam kasus penculikan yang dilakukan oleh Kopassus pada tahun 1998.

“Mengapa Jenderal Feisal Tanjung, Jenderal Wiranto, Jenderal Subagyo HS dan Jenderal Fachrul Razi yang merupakan atasan Langsung Letjen Prabowo kok seluruhnya melarikan diri dari tanggung jawab?” Kata anggota tim pemenangan Prabowo-Hatta ini dalam siaran pers yang diterima merdeka.com, Selasa (10/6).

Menurut Suryo, Prabowo sudah bersikap ksatria dengan bertanggung jawab pada sidang Dewan Kehormatan Perwira (DKP) atas kesalahan yang dilakukan anak buahnya

Masing-masing kubu Jenderal yang berseberangan nampaknya memang bukan hanya berbeda dukungan capres-cawapres kali ini saja, tapi sesungguhnya permusuhan mereka sudah terjadi semenjak mereka masih aktif berdinas di TNI. Sebut saja Kivlan Zein, bersama Prabowo Subianto, Kivlan berada dalam barisan “ABRI Hijau” yang dikenal dekat dengan kalangan Islam. Kelompok ini sukses melengserkan Jenderal Benny Moerdani dari kursi Panglima ABRI. Benny yang diplot menjadi wakil presiden, kabarnya didukung kelompok “ABRI Merah Putih”. (Intelijen.co.id 15/10/2011)

Letjen TNI (Purn) Hasnan Habib pernah mengungkapkan istilah ABRI Hijau dan ABRI Merah Putih ini muncul pada awal 1990-an. Tepatnya saat hubungan mantan Presiden Soeharto dengan kelompok-kelompok Islam, termasuk ICMI, tengah mesra-mesranya.

Puncaknya, ketika R Hartono menjadi KSAD, Feisal Tanjung menjadi Pangab dikotonomikan sebagai ABRI Hijau dan kunci ABRI Merah Putih dipegang Benny Moerdani, Try Sutrisno, dan Edi Sudradjat serta Wismoyo Arismunandar dan Hendropriyono. Termasuk didalamnya ada Luhut panjaitan yang pernah menjadi atasan Prabowo saat di Korps Baret Merah.

Menengok sejarah kelam atas pelanggaran HAM, maka sebenarnya kelompok ABRI merah-putih justru jelas-jelas terlibat dalam beberapa kasus pembantaian warga. Sebut saja kasus talang sari dimana AM Hendropriyono menjabat sebagai Komandan Korem Garuda Hitam, dianggap harus bertanggungjawab terhadap kasus tersebut tetapi hingga sekarang tidak pernah tersentuh ranah hukum.

Seakan menjadi senjata pamungkas untuk menjegal Prabowo, baru-baru ini mantan Panglima ABRI 1998 Jenderal (Purn) TNI Wiranto yang juga ketua umum Partai Hanura yang pernah gagal di Pilpres 2004 dan pilpres 2009 dan sekarang menjadi pendukung capres Jokowi-JK pun ikut angkat bicara dan menggelar jumpa pers. Wiranto mengungkapkan keterlibatan prabowo dalam kasus penculikan aktivis ’98 dan mengatakan Prabowo lah yang harus bertanggungjawab.

Sebelumnya amunisi serangan dari barisan Jenderal Purnawirawan kubu Jokowi-JK juga dilontarkan oleh AM Hendropriyono, sebuah penyataan yang sangat pedas dan menjatuhkan karakter lawan. Hendropriyono dengan sadis menyampaikan ke publik bahwa Prabowo menderita schozophrenia, psikopat dan dekat-dekat gila. (Inilah.com 4/6/2014)

Menurutnya, Prabowo mendapatkan nilai G4 (Grade 4) paling bawah, kalau ada stres bisa sedikit gila. Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa nilai G4 itu sudah dekat dengan schizophrenia.

Hal ini semakin menunjukan adanya perang bintang dalam pilpres 2014 kali ini, para mantan ABRI merah-putih yang belum terpuaskan dalam kejatuhan Prabowo di tahun 1998, kompak merapatkan barisan di belakang Capres Jokowi-JK. Secara skor, mereka sudah kalah 1-0 dengan Prabowo, karena kubu mereka yang diwakili Wiranto telah gagal untuk melaju menjadi capres. Pantas saja kalau saat ini, mereka berusaha mati-matian untuk bisa menjegal Prabowo-Hatta untuk bisa menjadi RI 1. Bagaimanapun mereka pasti khawatir apabila yang menjadi pemenang pilpres kali ini adalah pasangan Prabowo-hatta. Maka, karir politik dan bisnis serta kepentingan mereka bisa saja tamat. Seakan, sekarang inilah perang penentuan nasib masing-masing pihak untuk menunjukan siapa yang sesungguhnya berada di dalam jalan kebenaran. Sekarang inilah waktunya untuk habis-habisan mengeluarkan amunisi kesaksian rekam jejak masing-masing lawan karena bisa jadi masa Pilres mendatang mereka sudah tidak ada kesempatan lagi untuk berlaga karena faktor usia yang bertambah tua.

Situasi politik yang panas seperti saat ini tentu sangat mengkhawatirkan banyak pihak. Bukan karena persaingan pilpres yang sengit tetapi karena nampak jelas terlihat bahwa yang berperang sesungguhnya adalah para bintang. Para mantan Jenderal yang diakui atau tidak mereka masih punya pengaruh dan pengikut setia di tubuh TNI yang notabene pemegang senjata. Masyarakat khawatir akan pecah konflik horisontal pasca pilpres, dan lebih khawatir lagi apabila TNI ikut aktif terlibat karena pengaruh dari mantan pimpinan mereka yang sekarang ini terlibat konflik politik.

Belum lagi pengaruh faktor latar belakang dari para bintang tersebut yang dikelompokan dalam ABRI Hijau dengan ABRI Merah-Putih, yang itu artinya isu Agama yang mana sebuah isu yang sangat rawan dimainkan dalam terjadinya konflik horisontal. Apalagi adanya pengaruh konflik global horisontal yang secara nyata berdasar alasan Agama yang terjadi di negara-negara asia tengah dan afrika.

(Dodi/Sketsanews)

%d blogger menyukai ini: