Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, Internasional, News 30.000 Warga Sipil Dievakuasi dari Ghouta Timur

30.000 Warga Sipil Dievakuasi dari Ghouta Timur


Seorang anak lelaki melihat dari jendela bus yang mengangkutnya dalam evakuasi dari kota terkepung Douma di Ghouta Timur, dekat Damaskus, Suriah, 13 Maret 2018. (REUTERS/BASSAM KHABIEH)

Sketsanews.com, Damaskus – Sebanyak 30.000 warga sipil dievakuasi dari daerah yang dikuasai pemberontak di area Ghouta Timur, dekat ibu kota Suriah, Damaskus menurut siaran kantor berita resmi Suriah, SANA.

Evakuasi massal itu dilakukan melalui dua tempat penyeberangan, satu di Daerah Hamouriyeh dan satu lagi di dekat fasilitas Sumber Daya Air di Harasta di Ghouta Timur.

Pengungsian yang sedang berlangsung merupakan bagian terkini dari serangkaian evakuasi massal saat warga berusaha menyelamatkan diri dari daerah yang dikuasai pemberontak di Ghouta Timur sejak Kamis (15/3).

Pada Sabtu pagi, Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia menyatakan 50.000 warga sipil telah mengungsi dari Ghouta Timur dalam 72 jam terakhir.

Proses semacam itu memungkinkan dilakukan karena kemajuan militer Suriah di dalam Ghouta Timur, sementara banyak orang mengatakan pemberontak sebelumnya menghalangi mereka meninggalkan wilayah itu dan kemajuan militer membuka jalan buat mereka.

Militer Suriah belum lama ini menyatakan militer telah merebut 70 persen Ghouta Timur, setelah memecah daerah itu menjadi dua bagian guna memfasilitasi pertempuran melawan bermacam kelompok gerilyawan di sana.

Ghouta Timur, wilayah pertanian seluas 105 kilometer persegi yang terdiri atas beberapa kota kecil dan lahan pertanian, menimbulkan ancaman terakhir bagi ibu kota Suriah karena kedekatannya dengan permukiman yang dikuasai pemerintah di sebelah timur Damaskus dan serangan mortir yang berlangsung dan ditujukan ke daerah permukiman di ibu kota Suriah.

Empat kelompok utama pemberontak saat ini berada di dalam Ghouta Timur, yaitu Tentara Islam, Failaq Ar-Rahman, Ahrar Ash-Sham, dan Komite Pembebasan Levant –yang dikenal dengan nama Front An-Nusra, yang memiliki hubungan dengan Al-Qaida.

Lembaga kemanusiaan PBB telah menyuarakan kekhawatiran mengenai situasi kemanusiaan yang memburuk bagi 400.000 orang di wilayah tersebut, tempat para pegiat mengatakan 1.000 orang telah tewas sejak akhir Februari akibat pembombardiran sengit dan operasi militer. Dilansir dari Antara.

(Eni)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: