4 Langkah Bank Indonesia Stabilkan Nilai Rupiah

Mantan Wakil Presiden yang juga mantan Gubernur Bank Indonesia Budiono (kanan) memberikan selamat kepada Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (kanan) usai pelantikannya di Mahkamah Agung, Jakarta, 24 Mei 2018. ANTARA

Mantan Wakil Presiden yang juga mantan Gubernur Bank Indonesia Budiono (kanan) memberikan selamat kepada Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (kanan) usai pelantikannya di Mahkamah Agung, Jakarta, 24 Mei 2018. ANTARA

Mantan Wakil Presiden yang juga mantan Gubernur Bank Indonesia Budiono (kanan) memberikan selamat kepada Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (kanan) usai pelantikannya di Mahkamah Agung, Jakarta, 24 Mei 2018. ANTARA
Mantan Wakil Presiden yang juga mantan Gubernur Bank Indonesia Budiono (kanan) memberikan selamat kepada Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (kanan) usai pelantikannya di Mahkamah Agung, Jakarta, 24 Mei 2018. ANTARA

Sketsanews.com, Jakarta – Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan pihaknya berfokus membuat kebijakan moneter untuk stabilisasi nilai tukar rupiah. Perry mengatakan akan menempuh empat langkah jangka pendek.

Hal pertama yang dilakukan adalah menggelar rapat dewan gubernur (RDG) bulanan tambahan pada Rabu, 30 Mei 2018. Menurut Perry, rapat tambahan akan membahas upaya memperkuat nilai tukar rupiah. Selain itu, untuk menjaga inflasi berada di kisaran level 2,5-4,5 persen pada 2018-2019.

“Bukan RDG emergency, ini RDG bulanan tambahan,” kata Perry saat konferensi pers di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Senin, 28 Mei 2018.

Sebelumnya, nilai tukar rupiah melemah pada April-Mei 2018. Bahkan angkanya menembus level Rp 14.200 per dolar Amerika Serikat. Alhasil, BI menambah suku bunga acuan 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 basis poin (bps), dari 4,25 persen menjadi 4,50 persen.

Langkah kedua, menurut Perry, adalah melanjutkan dan memperkuat intervensi ganda (dual intervention) yang dilakukan sejak 2013. Menurut Perry, BI tak hanya berupaya menstabilkan nilai tukar rupiah, tapi juga menstabilkan pasar surat berharga negara (SBN). Caranya dengan membeli SBN dari pasar sekunder.

Ketiga, menjaga kecukupan likuiditas, khususnya di pasar uang rupiah dan swap antarbank. Perry mengatakan telah membuka term repo.

Keempat, berkomunikasi secara intensif dengan pelaku pasar, perbankan, dunia usaha, dan para ekonom untuk membentuk ekspektasi yang rasional. Tujuannya menghindari perkiraan nilai tukar yang cenderung melemah atau overshooting dari sisi fundamental.

Keempat langkah ini, menurut Perry, sangat penting untuk memperkaya informasi dan data untuk menstabilkan kurs rupiah. “Kalau informasi terbatas, ekspektasinya bisa ke mana-mana. Tapi kalau informasinya kita kasih terus, ekspektasinya bisa mengerucut dan normal,” ujar Perry. “Sehingga gejala-gejala over yang sekarang terjadi bisa dimitigasi.” (wal/tempo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: