Sketsa News

Berharap Mukjizat di Nepal

Sejumlah WNI masih hilang usai gempa. Tak ada bukti mereka sudah tewas.

Sketsanews.com – Sabtu, 25 April 2015, dunia dikejutkan dengan gempa berkekuatan 7,8 skala richter yang terjadi di Nepal. Gempa yang berpusat di sekitar ibukota Kathmandu itu meluluh lantakan hampir semua bangunan di sana.

Bahkan, gempa turut membuat longsor di wilayah Pegunungan Himalaya dan puncak Gunung Everest. Padahal, di bulan April tengah menjadi puncak musim pendakian bagi para pengadu nyali dari seluruh dunia. Ribuan orang tewas akibat gempa ini.

Selang dua minggu kemudian tepatnya tanggal 12 Mei 2015, Nepal yang baru tengah memulihkan diri dari gempa pertama, kembali dihajar oleh gempa kedua berkekuatan 7,4 skala richter. Jumlah korban jiwa pun terus bertambah.

Data yang dilansir VOA News edisi 31 Mei kemarin menyebut total korban tewas akibat dua gempa Nepal mencapai 8.693 orang, sementara korban luka mencapai 22.221 jiwa. Tak terhitung jumlah warga yang kehilangan tempat tinggal akibat dihantam dua bencana tersebut.

Indonesia pun turut memiliki warga yang tengah bermukim dan berkunjung ke sana. Menurut Duta Besar RI untuk Bangladesh dan merangkap Nepal, Iwan Wiranataatmadja, total terdapat 66 WNI yang diketahui selamat.

Namun, masih terdapat tiga orang di antaranya yang belum bisa dihubungi. Mereka adalah Alma Parahita, Kadek Andana dan Jeroen Hehuwat. Ketiganya diketahui tengah berencana untuk mendaki ke Gunung Everest.

Terakhir, tim SAR dari Spanyol berakhir menemukan identitas Alma yakni berupa SIM dan KTP anggota pecinta alam Taruna Hiking Club (THC) asal Bandung. Menurut Iwan, hingga saat ini belum ada petunjuk lain mengenai keberadaan tiga pendaki tersebut. Kendati sulit rasanya untuk menemukan ketiganya, tetapi Iwan tak ingin menyimpulkan apa pun secara cepat.

“Masih belum ada petunjuk lanjutan. Identitas Alma ditemukan di area Lantang yang kerap banyak berdiri area penginapan sebelum mendaki ke Everest,” kata mantan Dubes RI untuk Iran itu yang ditemui VIVA.co.id beberapa waktu lalu secara khusus.

Sementara, menurut seorang saksi mata asal Swiss yang mengaku bertemu pasangan tersebut sehari sebelum gempa mengguncang, keduanya berencana untuk menetap satu hari lagi di sebuah guest house di Lantang.

Tetapi, rencana Tuhan tiada yang tahu. Iwan yang penasaran ingin melihat kondisi di area Langtang akhirnya terbang dengan helikopter ke area setinggi 3.400 meter dari permukaan laut. Area yang semula berdiri banyak penginapan, telah rata dengan tanah dan salju. Namun, sekali lagi Iwan tak ingin banyak berspekulasi, karena asumsi apa pun tidak didukung bukti dan saksi.

“Saya tidak bisa menyimpulkan ketiga pendaki tersebut ikut tertimbun di bawah, sebab tak ada saksi dan data,” ujar dia.

Kini, proses pencarian terhadap tiga WNI itu masih terus berlanjut, kendati tim dari Indonesia telah ditarik sepenuhnya kembali ke Tanah Air. Mereka mempercayakan upaya evakuasi kepada otoritas setempat. Indonesia pun telah mengirimkan bantuan kepada Pemerintah Nepal senilai US$2 juta atau Rp26 miliar.

Lalu, bagaimana kisah Iwan yang berupaya menemukan WNI dan menghubungi mereka di tengah krisis bencana? Hikmah apa saja yang dia peroleh ketika baru kali pertama terjun dalam misi kemanusiaan? Berikut perbincangan khusus VIVA.co.id di ruang kerja Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia di kawasan Pejambon, Jakarta Pusat beberapa waktu lalu:

Bagaimana kondisi Nepal setelah dihantam gempa pertama berkekuatan 7,8 skala richter?

Di Kathmandu, kondisi kerusakan cukup menyebar. Di area kampung-kampung bangunannya terbuat dari tanah liat dan kayu, sehingga mudah hancur jika terkena bencana. Kalau di wilayah kota, bangunan terbuat dari beton.

Justru, hal itu berbahaya untuk warga di area perkampungan, karena bahan bangunan mudah rubuh ketika terjadi gempa.

Ada sebuah peristiwa dari seorang tetangga mengenai kondisi satu keluarga. Sebenarnya, usai terjadi gempa pertama berkekuatan 7,8 skala richter, satu keluarga masih hidup. Keluarga tersebut terdiri dari Bapak, istri dan anak.

Perwakilan keluarga sudah mengatakan melalui ponsel bahwa mereka dalam keadaan baik dan memohon agar tak menggunakan buldoser di area itu. Tetapi, pada kenyataannya berbeda.

Petugas penyelamat malah mengerahkan buldoser, karena buruknya koordinasi di lapangan. Alhasil, satu keluarga itu terkubur hidup-hidup di bawah puing reruntuhan bangunan.

Jadi, di sana petugas minim pengalaman dan teknik untuk menolong orang lain.

kondisi nepal usai diguncang gempa

(Kondisi bangunan di Nepal usai dihantam gempa pertama berkekuatan 7,8 skala richter. Foto: Reuters)

Berapa banyak WNI yang tersisa di Nepal dan bagaimana keadaan mereka kini?

Saat ini masih tersisa 10 orang WNI. 26 orang WNI kan sudah kembali ke Tanah Air. Sisa 10 orang ini sengaja memilih untuk tetap tinggal, karena sudah kali kedua dihubungi, mereka tetap memilih untuk bermukim di sana.

Mungkin karena mereka merasa aman. Rumah mereka juga tak mengalami kerusakan yang parah. Mereka mengatakan: “biarlah, Pak kami di sini saja”. Sementara, WNI yang memilih pulang adalah mereka yang rumahnya rusak.

Tetapi, dari 10 orang WNI yang memilih untuk tinggal, ada juga yang berprofesi sebagai petugas medis?

Ada yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga, ada pula yang bekerja di organisasi internasional. Ke-10 WNI itu memang tinggal di sana dan statusnya bukan tengah berkunjung ke Nepal. Situasi mereka saat ini baik-baik saja.

Apakah ada bantuan dari pemerintah sekitar atau dari Indonesia untuk membantu memugar rumah WNI yang mengalami kerusakan?

Sejauh ini, belum ada rencana ke arah sana, sebab, saya percaya terhadap self assessmentmereka. Sumber daya kami pun juga terbatas. Kami tak memiliki kantor di sana dan hanya mengandalkan konsul kehormatan dan satu orang staf. Padahal, itu ada di luar ibukota Kathmandu. Tetapi, kami percaya, jika WNI di sana mengatakan keadaan mereka baik, maka mereka baik-baik saja.

Artinya, kalau mereka memang memiliki masalah, tentu telah ikut rombongan lain kembali ke Tanah Air. Tetapi, yang jelas mereka bisa dihubungi dan kami tahu tempatnya. Untuk sementara, kami anggap cukup.

Mengenai bantuan, saya rasa belum ada. Hampir semua dari WNI yang menetap di sana merupakan orang Indonesia yang menikah dengan warga lokal. Ada tiga orang WNI yang menikah dengan ekspatriat, sehingga suaminya bekerja di organisasi internasional, kemudian mereka ikut dan ditempatkan di sana.

Selain tiga pendaki asal Bandung, maka WNI lainnya sudah bisa dihubungi dan selamat?

Iya. Semua sudah bisa dihubungin dan diketahui dalam keadaan baik.

Bisa kah diceritakan bagaimana caranya menghubungi semua WNI yang berada di Nepal pasca gempa, sementara di saat bersamaan alat komunikasi terbatas.

Kami menggunakan cara sel. Jadi, setelah diketahui ada WNI di satu daerah, maka kami juga meminta tolong kepada mereka untuk sekaligus memeriksa keberadaan WNI lainnya. Atau kami meminta no kontaknya, lalu kami yang menghubungi.

“Bagaimana keadaan WNI di lokasi A misalnya. Oh si ini baik. Maka kami akan memeriksa untuk mengecek WNI lainnya di area yang sama”. Terus seperti itu.

Memang, tidak semua area bisa terjangkau dengan alat komunikasi. Banyak juga yang kami hubungi secara langsung. Setelah berhasil kami hubungi, banyak WNI yang memiliki rumah dalam keadaan rusak, sehingga memilih tinggal di tenda.

Memang ada WNI akan kembali ke Nepal, setelah situasi membaik, karena juga ada di antara mereka yang telah menjadi warga Nepal. Tapi, karena saya memiliki empati dan pada dasarnya kan mereka orang Indonesia.

Ada juga WNI yang sebenarnya telah beralih kewarganegaraan namun karena bencana gempa ini, dia menjadi sebatang kara. Akhirnya dia kembali ke Indonesia.

Sama seperti orang asing lainnya, siapa pun bisa berkunjung ke Indonesia, jadi dia membutuhkan visa dan dokumen lainnya.

Bagaimana upaya pencarian terhadap tiga pendaki asal Bandung dan apakah ada petunjuk lainnya yang ditemukan?

Sejauh ini belum ada. Mungkin publik sudah mengetahui kartu identitas seorang WNI bernama Alma ditemukan oleh tim SAR Spanyol. Indonesia kan tidak mengirimkan tim SAR.

Identitas itu ditemukan di area Langtang dan dibawa turun ke Kathmandu lalu diserahkan ke otoritas setempat. Oleh mereka, lalu ditumpuk begitu saja. Alhamdulilah, karena kita aktif dan menyisir rumah sakit hampir setiap hari, kami berhasil menemukan petunjuk.

Ada tiga tim yang setiap hari kami sebar untuk berkunjung ke tiga titik. Saat ada petunjuk identitas itu, kami juga bertanya kepada tim SAR yang menemukan. Mereka menyebut identitas itu ditemukan di area Langtang.

Kartu identitas Alma Parahita, pendaki WNI yang hilang di Nepal

(Kartu SIM salah satu pendaki asal Bandung, Alma Parahita yang ditemukan tim SAR Spanyol di Langtang, Nepal. Foto: Kementerian Luar Negeri RI)

Melihat kondisi area Langtang saat ini, apakah ada peluang untuk selamat?

Saya tidak tahu dan belum berani menyimpulkan. Dengan ditemukannya identitas Alma, maka saya memutuskan untuk melihat sendiri lokasi tersebut. Saya menggunakan helikopter untuk meninjau area Langtang di ketinggian 3.400 meter di atas laut. Tujuannya untuk memastikan area tersebut.

Bersama saya, turut serta tim dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tim Paskas, satu jurnalis, tim dari Taruna Hiking Club (asal tiga pendaki Bandung) dan satu orang dari Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri RI.

Saya ingin melakukan maksimal dari yang saya perbuat untuk membuat tenang keluarga dan masyarakat. Ketika tiba di lokasi, memang semuanya sudah berada di longsoran. Sudah tidak tersisa apa pun di bagian atas.

Ketika itu saya berdiri di atas permukaan tanah yang masih empuk dan di bawahnya es. Jadi, kalau longsor terjadi, maka saljunya dulu yang turun kemudian disusul dengan tanah dan batu. Ketika tiba di bawah, maka saljunya berada di bawah.

Dari penglihatan di lapangan dan pengetahuan sedikit yang dimiliki, longsoran tersebut termasuk dahsyat. Kita bisa bandingkan jika longsoran di daerah Pengalengan saja bisa mengambil korban jiwa, maka apalagi yang terjadi di Nepal.

Tetapi, saya tidak bisa menyimpulkan ketiga pendaki tersebut ikut tertimbun di bawah, sebab tak ada saksi dan data. Salah seorang saksi memang mengatakan pernah bertemu dengan salah satu di antara tiga pendaki sehari sebelumnya yakni tanggal 24 April.

Dia bersaksi bahwa dia berkomunikasi dari salah satu tiga pendaki dan mereka mengatakan masih akan tetap tinggal di sana. Hanya itu saja.

Tetapi, kenyataannya apakah mereka akan terus berada di sana, kami kan tidak tahu. Misalkan membatalkan niat menetap sementara dan langsung pergi, kami tidak tahu. Tetapi, ketika mendaki, mereka bersama enam porter dan dua pemandu. Semuanya orang lokal dan tidak ada satu pun dari keluarga delapan orang tersebut yang mengetahui keberadaan mereka.

Jadi, kedelapan orang itu pun ikut dinyatakan hilang hingga saat ini?

Ya. Jadi, Anda bisa saja sudah memiliki kesimpulan. Tetapi, kami kan tidak bisa mengatakan hal tersebut begitu saja.

Kami hanya memiliki asumsi saja, misal: “jika melihat ketinggian area seperti ini dan melihat longsoran, maka siapa yang bisa keluar dari sini?” Tetapi, Tuhan kan rumusnya tidak seperti itu.

Mujizat itu bisa saja terjadi. Nanti lah akan ditentukan, kapan proses penghentian akan dicari. Saya hanya menceritakan apa yang saya alami.

Di sana baunya sudah tidak enak. Itu menandakan bahwa bukan satu dua jenazah yang masih tertimbun di bawah.

Menurut keterangan, di plato yang tertimbun itu, terdapat sekitar 20 losmen atau guest house atau hotel. Namun, dari 20 tempat menginap itu, tidak ada satu pun yang muncul.

Apakah ada batas waktu untuk mencari tiga pendaki tersebut?

Yang bertugas melakukan pencarian adalah otoritas Nepal. Saya berbicara dengan panglima militer Nepal. Saya titipkan dan menyebut jika kebradaan mereka di sana untuk mencari keberadaan tiga WNI.

Kami titipkan data-datanya dan memohon jika ada di antara tim mereka yang menemukan, tim dari Indonesia bisa dihubungi. Kami juga sudah menitipkan alamat. Mereka merespons akan diperhatikan.

Rumus otoritas Nepal, menentukan korban bertahan paling lama sekitar 72 jam atau tiga hari. Lewat dari hari itu, sulit dikatakan ada korban bertahan.

Jadi di dalam konteks pencarian tiga pendaki di area Langtang setelah mempertimbangkan ketinggian, suhu udara dan cuaca, bagi tim Nepal kemungkinannya hanya tiga hari. Selebihnya itu adalah proses recovery.

Lewat dari tiga hari, maka otoritas Nepal mengasumsikannya berat untuk ditemukan?

Mereka mengasumsikannya demikian. Tetapi, bukan berarti setelah tiga hari, mereka akan menghentikan proses pencarian. Mereka hanya mengatakan kemungkinan untuk mencari korban selamat adalah 72 jam.

Hingga hari terakhir pun, mereka terus bekerja. Saya turun dari area Langtang, otoritas Nepal masih berada di sana.

Yang ingin saya jelaskan adalah betapa beratnya medan tersebut, di ketinggian 3.400 meter, di satu lembah dan kini telah tertutup dengan tanah, bebatuan dan salju.

Saya telah berbicara dengan ibu salah satu korban dan dia mengatakan tengah mencoba untuk mengikhlaskan kendati berat. Lagi pula siapa yang tak sedih ketika anak berangkat dan pamit secara baik-baik, lalu terkena bencana seperti ini. Terlebih, dua dari tiga pendaki itu adalah pasangan suami dan istri serta baru saja menikah.

Jadi, berapa tim dari Indonesia yang masih berada di Nepal?

Saat ini sudah tidak ada. Tetapi, saya dengar ada organisasi bernama Humanitarian Forum Indonesia (HFI) akan berangkat ke sana secara swadaya. Selain HFI, ada juga organisasi atau LSM yang ke sana swadaya seperti Tim Wanadri, Mer-C, ACT, Jakarta Rescue, PKPU, ada juga tim dokter.

Semula para dokter ini tengah mendaki ke sana, lalu setelah terjadi bencana ini, maka ikut bergabung membantu. Ada juga dokter yang setelah pulang, malah kembali ke Nepal untuk membantu.

Semua organisasi tersebut dikoordinasikan oleh BNPB selama berada di sana sampai kepulangan tim pertama tanggal 19 Mei. Lagipula, Pemerintah Nepal meminta agar relawan asing untuk pulang.

Evakuasi WNI dari Nepal akibat gempa berkekuatan 7,9 SR

(Tim evakuasi WNI dan pengirim bantuan kemanusiaan dari Indonesia yang akan berangkat menuju ke Nepal. Mereka berangkat menggunakan pesawat TNI Angkatan Udara. Foto: Kementerian Luar Negeri RI)

Bukan kah Pemerintah Nepal sempat meminta kepada Indonesia untuk memperpanjang masa tugas selama tiga bulan ke depan?

Saya ingin menjelaskan mengenai masalah itu. Karena Indonesia memiliki rumah sakit lapangan, rentang waktu untuk pembukaan rumah sakit yakni tiga minggu hingga 3 bulan. Namun, itu diserahkan kepada Indonesia. Bukan mereka yang meminta. Operasionalnya terserah kita. Kita mau pakai berapa.

Jadi, saat ini semua perlatan rumah sakit kami tinggalkan di Nepal, mulai dari generator, tenda yang besar untuk pengungsi. Yang kami bawa pulang hanya satu tenda operasi dan peralatannya. Kami membuka satu tenda pengungsi, satu rumah sakit lapangan dan satu tenda sekolah.

Sempat beredar rumor, kalau Pemerintah Nepal terkesan pilih-pilih dalam menerima bantuan. Seperti misal bantuan dari Taiwan dan Tiongkok, yang diterima dari Tiongkok. Apakah rumor itu betul?

Yang saya dengar untuk kasus Taiwan, jika mereka memberikan bantuan dengan mengatasnamakan pemerintah, itu yang ditolak, karena Nepal tak memiliki hubungan diplomatik dengan Taiwan.

Sementara, di saat bersamaan, Tiongkok telah tiba lebih dulu. Sama seperti Indonesia, Nepal hanya mengakui prinsip “One China Policy.”

Tapi dalam konteks bantuan non negara, ada juga yang berhasil masuk ke Nepal. Jadi LSM asal Taiwan yang tak membawa bendera pemerintah diizinkan untuk masuk.

Sementara terkait dengan bantuan yang diberikan oleh Amerika Serikat, Pemerintah Nepal tak memiliki kapasitas untuk melayani mereka. Terlebih saya lihat sendiri AS membawa peralatan yang lengkap.

Peralatan yang mereka bawa tidak hanya canggih, tetapi jika dioperasikan di daerah rawan, justru malah akan menimbulkan bencana baru.

Akhirnya Pemerintah Nepal mengatakan: “kami tak memerlukan peralatan itu”. Yang dibutuhkan oleh Nepal, adalah helikopter biasa. Itulah yang AS kirim. Sementara, helikopter reaptor itu hanya diparkir di bandara, sebab tidak sesuai dengan kondisi alam, ground handlingnya tak memungkinkan walaupun telah diurus sendiri oleh teknisi dari AS.

Bagaimana respons Pemerintah Nepal dari menerima bantuan Indonesia?

Mereka welcome dari awal sampai akhir. Tim dari Indonesia merupakan salah satu tim yang diapresiasi oleh Pemerintah Nepal, karena terlihat bertugas all out. Seperti misalnya rumah sakit lapangan yang didirikan Indonesia. Di hari pertama di tanggal 30 April saja sudah diantri oleh 421 pasien.

Sementara, saya tiba di sana pada tanggal 28 April menggunakan pesawat dari TNI Angkatan Udara. Pesawat komersial saat itu sudah sulit untuk mendarat.

Di udara saja, ketika saya ingin mendarat, harus satu demi satu. Sehingga puluhan pesawat mengantri di udara, sebab bandaranya kecil.

Gempa besar yang terjadi di Nepal sesungguhnya sudah diprediksi oleh ahli sains akan terjadi. Apakah sempat ada himbauan kepada para WNI yang dikeluarkan oleh KBRI Dakka terkait kemungkinan gempa saat itu?

Kalau saya tahu akan ada gempa tentu KBRI akan mengeluarkan himbauan. Tetapi hingga kemarin tidak ada informasi demikian.

Apakah kekuatan gempa di Nepal ikut terasa hingga ke Dakka, Bangladesh?

Gempa kedua yang berkekuatan 7,4 skala richter iya. Di gempa yang pertama saya tidak aware. Saya mendengar di Bangladesh juga terasa tetapi tidak di Dhakka.

Tetapi, untuk gempa kedua, terasa kuat, karena staf kami di KBRI, mereka semua turun dan mengungsi. Mereka langsung menghubungi. Saya katakan, saya baru turun dari kamar karena memang sangat kuat gempanya.

Di saat yang bersamaan pada tanggal 15 Mei itu, sedikitnya tercatat 22 kali gempa susulan. Ada yang terasa dan ada yang goyang-goyang.

Ketika gempa kedua terjadi, saat itu saya tengah mandi. Mereka itu berpendapat, karena berdasarkan kejadian gempa pertama, gempa kedua berlangsung sekitar pukul 12.00 waktu setempat. Jadi saya mandi saja. Begitu selesai, saya melihat cermin bergoyang. Wah, saya kaget.

Keluar dari kamar mandi, semua orang merasa heboh. Saya sampai terpleset. Kami saat itu sedang berada di base camp di Kathmandu Guest House. Setelah gempa kedua, kami pindah ke Part Village, sekitar 9 kilometer dari pusat kota.

Kami memutuskan pindah ke sana, karena bentuk rumahnya cottage dan terdapat lapangan. Beberapa kawan yang telah mengalami gempa besar sebelumnya, enggan beristirahat di dalam kamar, karena takut tertimpa reruntuhan bangunan, sehingga mereka memilih untuk tidur di area terbuka.

Sebelumnya, pada tanggal 15 Mei, tujuh orang WNI yang merupakan bagian dari tim nyaris terjebak ketika gempa kedua terjadi. Mereka tengah makan di satu rumah makan di lantai tiga di area dekat guest house.

Area makannya itu sempit dan tangganya hanya cukup dimuati satu orang. Sehingga mereka terpaksa berebut turun dengan penghuni lainnya. Jadi, pengalaman yang mereka alami lebih buruk dari saya. Saya saja yang mengalami, ikut trauma.

Sebelum gempa terjadi, banyak kah WNI yang berkunjung ke Nepal setiap tahun?

Kemarin saja ketika gempa terjadi, kami mencatat ada 66 orang. Data tersebut kami peroleh dari berbagai macam sumber.

Bahkan, sesudah gempa pun masih ada WNI yang mendaki ke Gunung Everest.

Apakah mereka tidak takut akan kembali terjadi longsor?

Itulah perkaranya. Kan saya juga tidak bisa melarang. Mendaki Gunung Everest merupakan tujuan akhir sama seperti ketika orang ingin naik haji. Itu merupakan gunung paling tinggi di dunia.

Untuk bisa mendaki Gunung Everest dibutuhkan biaya yang tak murah. Harus membuat pengaturan rencana, mengumpulkan dana, dan semua rencana itu harus tepat. Mereka juga harus memiliki izin dan membuat pengaturan.

Para WNI sudah merancang itu sejak lama, sementara saya tak bisa melarang. Itu yang saya tahu. Yang saya tak tahu, tiba-tiba sudah melapor dan berada di atas Gunung Everest.

Saya bisa mengetahui hal itu, karena mereka telah tiba kembali di Indonesia. Jadi, para WNI ini melapor di konsulat kehormatan di Nepal. Kami lalu menelepon. Mereka melapor dalam keadaan baik dan berada di titik koordinat sekian.

Mereka naik dari trek Ananpura dekat Pokara. Dua orang itu berjenis kelamin laki-laki. Informasi ini awalnya hanya dari mulut ke mulut saja. Memang sulit untuk melacak ini.

Dengan mereka terlacak, kami bisa melindungi. Tugas kami ini kan untuk melindungi, sementara, bagaimana mungkin kami bisa melindungi jika kami tidak tahu di mana keberadaan mereka saat ini. Oleh sebab itu, kami berharap para WNI ini bisa melapor kalau tiba di Nepal. Sayangnya, jarang yang melakukan hal itu.

Kondisi Base Camp di Gunung Everest Setelah Gempa di Nepal

(Kondisi base camp untuk pendakian ke Gunung Everest setelah dilanda longsor akibat gempa di Nepal. Foto: Reuters)

Setelah dua kali gempa, apakah pendakian menuju ke Gunung Everest sudah kembali dibuka?

Tergantung dari jalur mana. Kalau untuk di jalur Lantang tertutup. Titik pendakian ada beberapa.

Bagaimana informasi yang disampaikan oleh Pemerintah Nepal? Apakah ada penutupan jalur pendakian?

Sampai saat ini tidak ada, sebab buktinya orang tetap mendaki ke sana. Paling tidak saya tidak mendengar jika pemerintah mengeluarkan peringatan itu. Apalagi ditutup. Sebab, jika itu yang terjadi dan dilanggar oleh para pendaki, maka mereka bisa ditangkap.

Apakah sebagian besar WNI yang berkunjung ke Nepal untuk mendaki ke Gunung Everest?

Iya apa lagi yang dicari? Gunung Everest menjadi objek pariwisata utama. Sebenarnya ada dua, yaitu trekking dan climbing. Trekking itu jalan, walau terkadang mendaki gunung juga dan memiliki track sendiri.

Saat ini konsep dikembangkan oleh Pemerintah Nepal adalah home stay di rumah penduduk. Mereka menginap di rumah penduduk sekitar, disediakan makan, dan hidup layaknya orang lokal di sana. Sebagian besar pemasukan Pemerintah Nepal adalah dari objek pariwisata. Pendapatan yang diperoleh Nepal dari sektor itu tidak sedikit.

Apa tantangan terberat yang harus dihadapi di sana untuk mengevakuasi WNI
?

Keadaan lapangan, karena tidak semua daerahnya dikenal. Kebanyakan lokasi bencana di Nepal tidak berada di area kota. Sementara, kebanyakan selama bertugas di Kathmandu saya berada di kotanya saja. Jadi, saya tidak pernah berpikir ada bencana seperti ini.

Komunikasi yang berat. Infrastruktur seperti jalan, jembatan yang belum menunjang terhadap upaya-upaya penyelamatan.

Usai beberapa pekan melalui bencana gempa, bantuan apa yang sebenarnya dibutuhkan warga Nepal?

Dari pengamatan di lapangan ternyata akan lebih baik jika bantuan dikirimkan dengan menggunakan bahasa setempat. Selain itu, ada baiknya jika bantuan berupa makanan turut disesuaikan dengan selera makanan warga sekitar. Itu hasil temuan di lapangan dan telah kami catat untuk pengiriman bantuan ke wilayah bencana selanjutnya.

Sumber : www.viva.co.id

%d blogger menyukai ini: