Sketsa News
Home Berita Terkini, Headlines, News, Opini Unjuk Rasa Anti-Muslim Menginspirasi Kebaikan

Unjuk Rasa Anti-Muslim Menginspirasi Kebaikan

Oleh : Dean Obeidallah

Dean Obeidallah adalah mantan pengacara, pembawa acara program mingguan SiriusXM “The Dean Obeidallah Show”. Ia kolumnis untuk The Daily Beast dan editor politik di blog The Dean’s Report. Twitter: @TheDeansreport.
6c19ab3e-02f6-4ada-98ed-288a3dfac5e2_169
Unjuk rasa tandingan datang dari gereja sekitar yang tidak setuju dengan aksi protes anti-Muslim di depan sebuah masjid di Phoenix. (Reuters/Nancy Wiechec)
Sketsanews.com –  “Sejarah harus mencatat bahwa tragedi terbesar dari periode transisi sosial saat ini bukanlah karena peperangan antar para orang jahat, melainkan karena diamnya orang-orang baik.

Saya pertama kali menyadari kekuatan kalimat yang diucapkan Dr. Martin Luther King Junior sekitar 20 tahun yang lalu. Kalimat itu meninggalkan dampak yang mendalam, mengilhami saya untuk menentang sentimen kebencian yang ditujukan kepada kaum minoritas, ketimbang hanya bersikap diam, khususnya dalam beberapa tahun terakhir, saya merasa perlu membela komunitas saya.

Itulah alasan saya melontarkan kalimat tersebut di hadapan Presiden Obama saat dia bertemu pemimpin 15 Komunitas Muslim Amerika pada awal tahun ini. Harapan saya, kalimat tersebut dapat menginspirasi Partai Demokrat di Amerika untuk tidak diam dalam menghadapi api kebencian yang disulut anggota Partai Republik terhadap Komunitas Muslim Amerika.

Di sisi lain, kami mendapat banyak dukungan banyak pihak dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari pemimpin komunitas hingga selebritis seperti Ben Affleck dan Russell Simmons. Namun, apa yang terjadi pada Jumat lalu benar-benar di luar dugaan.

Memproklamirkan diri sebagai “Patriot”, John Ritzheimer, menggelar aksi unjuk rasa anti-Islam di luar sebuah masjid di Phoenix, Arizona. Ritzheimer, seorang ateis yang pernah bertugas di Korps Marinir ingin berbagi pandangannya dengan seluruh penduduk Amerika bahwa “Islam yang benar adalah terorisme,” seperti yang dia katakan kepada penyiar berita CNN, Anderson Cooper.

Dia juga mengajak para pendukungnya untuk membawa senjata demi memastikan tidak ada pelanggaran atas Amandemen Pertama Amerika.

Ritzheimer memiliki hak untuk memprotes bahkan mengutuk sebuah kelompok minoritas di Amerika yang tidak dia sukai. Hak Ritzheimer untuk berunjuk rasa bahkan dibela oleh pemimpin Masjid Phoenix, orang yang menjadi target Rizheimer sendiri.

Sama seperti KKK dan Neo-Nazi yang memproklamirkan bahwa mereka memiliki hak untuk mengekspresikan kefanatikan mereka soal “kebenaran” tentang orang kulit hitam dan orang-orang Yahudi, Ritzheimer juga mempunyai hak untuk membagi “kebenaran’ tentang Islam.

Ketika aksi protes semakin mendekat, saya bertanya-tanya bagaimana komunitas muslim kecil di Phoenix dapat melalui hal ini. Bagaimana para orang tua menjelaskan ke anak mereka tentang sekelompok orang bersejata yang meneriakkan kemarahan dan menghina keimanan mereka di luar masjid?

Jumat malam lalu, Ritzheimer bersama dengan sekitar 200 pendukungnya, mengacungkan senjata dan meneriakkan kecaman yang keji dan kejam tentang Islam. Termasuk di antara para pengunjuk rasa adalah kelompok skin head dan seorang pria yang mengenakan baju putih bergambar Nazi. Sungguh merupakan pemandangan yang buruk dan menampilkan kebencian.

Namun kemudian, “orang baik” mulai mengambil sikap. Sejak sebelum dan selama protes berlangsung, tagar #NotmyAmerica yang menunjukkan dukungan bagi Komunitas Muslim menjadi trending topic nomor satu di Twitter. Berbagai orang dengan latar belakang yang berbeda menuliskan tweet, seperti berikut ini:

#TakeOnHate#NotMyAmerica

Dukungan terus berdatangan di Twitter dari semua penganut agama, bahkan dari yang mereka yang tidak memeluk agama, untuk melawan aksi unjuk rasa anti-Muslim. Tentu, ada sebagian pengguna Twitter yang memuji para pengunjuk rasa, namun dengan jumlah yang lebih sedikit dibanding mereka yang menentang fanatisme.

Dan kemudian, sesuatu yang luar biasa indah terjadi di luar masjid. Ketika pemimpin Masjid Phoenix, Usama Shami tidak membalas mereka dengan unjuk rasa tandingan, justru Gereja Kristen yang berada di dekat masjid melakukan perlawanan.

Ketika Shami tampil dalam program radio, My Siriusxm pada Sabtu pagi, para pendukung yang sama banyaknya keluar untuk melawan para pengunjuk rasa, utamanya karena usaha pihak gereja. Dan, tidak seperti kata-kata menyakitkan yang dilontarkan para pengunjuk rasa anti-Muslim, para pendukung mengusung kalimat penuh cinta dan toleransi untuk semua warga Amerika.

Saya bertanya kepada Shami bagaimana dia menjelaskan apa yang terjadi di luar Masjid ke anak-anaknya? Shami menjelaskan bahwa dia membawa dua anaknya keluar masjid pada saat protes terjadi dan memperlihatkan kepada mereka dua kelompok, para pembenci dan para pendukung.

Mengapa? Agar mereka bisa melihat bahwa di Amerika ada kelompok yang mengusung kebencian, dan ada pula kelompok baik yang tak segan membantu orang yang membutuhkan. Saat itu, Shami menyatakan bahwa kelompok pendukung adalah orang-orang Amerika yang terbaik.

Shami benar. Selalu terdapat kebencian di bangsa kita yang besar terhadap kelompok minoritas, baik berdasarkan ras, etnis, orientasi seksual atau agama. Namu, selama orang-orang baik di Amerika menolak untuk diam, mereka akan mengalahkan intoleransi. Dan semakin cepat orang-orang tak hanya diam, semakin cepat pula kita akan menang.

Sumber : www.cnnindonesia.com
%d blogger menyukai ini: