Sketsa News
Home Berita Terkini, News, Opini Nasionalisme Mengorbankan Nilai Kemanusiaan

Nasionalisme Mengorbankan Nilai Kemanusiaan

pengungsi-myanmar-rohingya-ilustrasi-sketsanews
Derita Pengungsi Muslim Rohingya

Manusia yang tidak diinginkan, itulah sebutan pengungsi etnis Rohingya, karena mereka berasal dari Myanmar yang tidak diakui sebagai warganya. Salah satu dari 135 etnis yang ada di Myanmar ini, meninggalkan negaranya karena mengalami perlakuaan diskriminasi pemerintah junta militer Myanmar.

Mereka berusaha meninggalkan negaranya untuk mendapatkan keamanan dan kehidupan yang lebih baik. Dengan menggunakan kapal, mereka berlayar menuju ketempat yang sekiranya aman. Mereka menghadapi berbagai macam penderitaan, seperti lautan yang ganas, kelaparan, kehausan, penyakit, bahkan perdagangan manusia. Belum lagi mereka ditolak oleh berbagai negara yang mereka singgahi.

Berbagai negara tetangga juga menolak, baik secara halus maupun secara kasar dengan berbagai alasan. Panglima TNI Moeldoko menyatakan, akan melarang mereka masuk wilayah Indonesia dengan alasan mereka akan menambah masalah baru. “Dikhawatirkan ini akan memunculkan berbagai persoalan sosial. Kita sendiri menghadapi masalah masyarakat miskin masih banyak, kenapa kita mesti menanggung persoalan baru?” Kata Moeldoko dalam kuliah umum di Universitas Andalas (Unand), Padang, Sumatera Barat, Rabu (20/5/2015), sebagaimana dikutip dari situs detik.com.

Malaysia beberapa waktu lalu menolak menampung pengungsi Rohingya. Seperti yang dilansir Al Jazeera, Menteri Luar Negeri Malaysia, Anifah Aman mengatakan, “Saya kembali menegaskan, Malaysia menolak untuk menerima mereka.” Sebagaimana diambil dari merahputih.com, demikian jugaThailand.

Thailand, Malaysia dan Indonesia akan lanjutkan tindakan mencegah masuknya manusia perahu Rohingya ke kawasan kedaulatan mereka. Aksi ini tidak mempedulikan imbauan PBB untuk menolong pengungsi.

Malaysia dan Indonesia akan lanjutkan tindakan menyeret kembali perahu para pengungsi Rohingya ke laut lepas, untuk mencegah pengungsi mendarat di kawasan kedaulatan mereka. “Ketiga negara memutuskan untuk menolak kedatangan manusia perahu.” Ujar mayor jenderal Werachon Sukhondhapatipak, juru bicara pemerintah militer Thailand di Bangkok kepada kantor berita Reuters.

Pengusiran dan genosida yang dilakukan oleh pemerintah Myanmar terhadap muslim Rohingya sepertinya dibiarkan oleh berbagai pihak. PBB, ASEAN, OKI dan lainnya seolah diam seribu bahasa. Bahkan pejuang demokrasi peraih nobel perdamaian dari Myanmar Aung San Suu Kyi diam seribu bahasa, tidak bereaksi terhadap kejahatan terhadap Muslim Rohingya. Padahal peristiwa ini sudah berlangsung beberapa tahun, tetapi sampai sekarang belum usai.

PBB, ASEAN harus segera menyelesaikan muslim Rohingya, dengan menekan pemerintah Myanmar. Jangan sampai lembaga-lembaga yang bersifat Universal, bersikap tidak adil dalam bertindak. Bahkan bersikap pandang bulu terhadap ras dan agama.

Begitu juga pemerintah Indonesia harus mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab dan meletakkan sebentar Nasionalisme yang sempit. Jangan sampai ada sikap Nasionalisme yang membunuh nilai-nilai kemanusiaan.

%d blogger menyukai ini: