Sketsa News
Home Berita Terkini, Headlines, News, Opini Irjen Tito Karnavian Kembali Ke Polda Metro Jaya

Irjen Tito Karnavian Kembali Ke Polda Metro Jaya

20140501_071949_9441_l

Sketsanews.com – Polisi yang satu ini adalah satu-satunya polisi yang punya cara paling unik untuk bisa berkenalan dengan diri saya sebagai seorang wartawati.

Tito Karnavian namanya, saat ini berpangkat Inspektur Jenderal, dengan jabatan sebagai Asisten Perencanaan.

Berdasarkan keputusan terbaru Kapolri di akhir pekan ini, Irjen Tito Karnavian dipromosikan menjadi Kapolda Metro Jaya atau Metro 1 untuk menggantikan Irjen Unggung Cahyono.

Dari awal, Tito berusaha keras menunjukkan ketulusan sebagai kawan tapi dari awal pula saya tetap membuat jarak dengan siapapun juga polisi yang bertugas di jajaran Anti Teror Polri.

Saat pertama kali ia berusaha memperkenalkan dirinya kepada diri saya adalah saat ia masih bertugas di jajaran Densus 88 Anti Teror Polri.

Tahun 2007, ada sebuah acara di Rupatama Polri dan saya hadir disitu.

Seperti biasa, para wartawan akan berkerumun dan duduk berkelompok menjadi satu.

Saya di kursi terdepan, di dampingi sahabat baik saya, Almarhum Shanty Sibarani dari Harian Media Indonesia.

Shanty Sibarani meninggal dunia pada tanggal 26 Desember 2014 lalu.

Ketika ada acara di Rupatama Mabes Polri di tahun 2007 itu, Shanty sempat pergi sejenak, tiba-tiba dari arah belakang, punggung saya dicolek oleh seseorang.

“Mbak, boleh kenalan?” tanya polisi itu.

“Oh, boleh” jawab saya, lalu saya menoleh ke arah belakang untuk melihat siapa yang mengajak berkenalan.

“Nama saya Tito Karnavian” kata polisi itu lagi.

Begitu polisi yang mencolek saya itu menyebutkan namanya, saya langsung menjawab ketus tetapi tetap membalas jabatan tangannya.

“Oh lu yang namanya Tito Karnavian? Eh, itu ya, Densus 88, jangan diskriminasi sama wartawan-wartawan yang meliput kegiatan kalian. Saya banyak dengar dari teman-teman wartawan, bagaimana kalian memperlakukan wartawan-wartawan di lapangan” kata saya judes.

Tito cuma tersenyum ramah.

Perkenalan pertama itu terjadi sekitar tahun 2007 (kalau saya tidak salah ingat).

Yang harus saya akui secara jujur, Tito tak pernah berubah dalam bersikap terhadap diri saya.

Tito rupanya paham betapa saya selalu keras mengecam sejumlah operasi Densus 88 Anti Teror yang dipermasalahkan dalam pemberitaan nasional.

Jarak yang saya buat dan sikap saya yang kurang mau bersahabat dengan Tito selama bertahun-tahun, salah satunya adalah karena diawal Tito memperkenalkan dirinya di tahun 2007 itu, saya tergolong wartawan baru di jajaran Mabes Polri.

Saya mulai meliput aktif di jajaran Mabes Polri sejak tahun 2005.

Kemana saya melangkah, dan dalam acara apapun saya hadir di Mabes Polri, saya akan selalu tandem dan menempel dengan wartawati senior Almarhum Shanty Sibarani.

Sehingga sebagai anak baru dan junior yang harus tahu diri, apa kata senior dan apa permintaan senior, harus saya turuti.

Kurang dekatnya Tito dengan kalangan wartawan sepanjang ia bertugas di Densus 88 Anti Teror, informasi mengenai itu rupanya sampai ke telinga Kabareskrim Bambang Hendarso Danuri (BHD).

BHD yang sangat amat dekat dengan saya punya cara tersendiri untuk mencoba agar saya tak terpengaruh pada sikap antipati wartawan lain pada Tito dan jajaran Densus.

Sepanjang BHD menjadi Kabareskrim, saya adalah satu dari sangat sedikit wartawan senior yang boleh langsung masuk ke ruang kerjanya di Bareskrim dari pintu belakang.

Satu kali BHD mengundang saya datang ke ruang kerjanya.

Abang saya ini tahu bahwa saya termasuk sangat keras memegang prinsip.

BHD tahu saya suka membaca buku.

Persis ketika saya duduk di hadapannya, BHD pura pura membaca dan menanda-tangani setumpuk surat-surat yang ada didepannya.

DI hadapan saya tergeletak sebuah buku.

Saya baca sekilas nama penulisnya, Tito Karnavian.

“Ini Tito yang di Densus itu, Mas” tanya saya kepada BHD.

“Dan, Tito ini anak baik. Dia pintar luar biasa. Rajin sekali bikin buku dan dia pasti kasih saya kalau sudah selesai bukunya”.

BHD selalu memanggil saya dengan sebutan Komandan.

BHD sangat ingin saya mau bersahabat baik dengan Tito.

Omongan BHD soal TIto, saya ceritakan ke senior saya, (Almarhum) Shanty Sibarani bahwa Tito baik, sangat pintar dan bla bla bla.

Mbak Shanty menjawab singkat, “Gak usah didengerin”.

Penugasan Tito sebagai Kapolda Papua pun tak luput dari sorotan para wartawan setempat.

Seorang wartawati senior yang meliput di wilayah lokal Papua pun senada kritikannya dengan (Almarhum) Shanty Sibarani.

Beberapa informasi yang tak enak soal TIto disampaikan kepada saya.

Untuk kalangan wartawan, kekerabatan dan solidaritas yang cukup tinggi antar sesama jurnalis akan membuat rasa saling percaya itu sangat kuat melekat.

Sepanjang yang menyampaikan informasi itu adalah sesama wartawan, saya cenderung percaya.

Tapi yang membuat saya respek, dimanapun Tito melihat kehadiran saya, ia tak pernah berlama-lama membuang waktu.

Pasti, tidak pernah tidak, Tito akan langsung datang menghampiri saya.

Sejauh apapun saya berdiri, ia datang dengan niat yang tulus untuk menyapa dan berjabatan tangan.

Dan saya tak pernah mau berjabatan tangan dengan Tito.

Sebelum ia tiba didepan saya, maka saya sudah balik badan untuk cepat-cepat pergi dari situ,

Bertahun-tahun hal yang sama, selalu terjadi seperti itu.

Jenderal berbintang 2 ini tak pernah menyerah dan tak pernah mau berhenti untuk berusaha untuk menjadi sahabat saya.

Delapan tahun, seorang Tito tak pernah mengubah sikap ramahnya pada saya untuk menawarkan persahabatan.

Dan untuk yang pertama kalinya sepanjang 8 tahun, saya mau menyapa Tito seusai ia selesai menunaikan sholat Jumat (5/6/2015) kemarin di Mabes Polri.

Tito terkejut saya datang ke arah dirinya karena tak pernah terjadi seperti itu.

TIto cepat menyapa dan menanyakan kabar saya.

Saya berbincang sebentar tentang hal ihwal rencana Mabes Polri membangun gedung baru untuk Bareskrim.

Tito sebagai Asisten Perencanaan sangat berkompeten untuk menjelaskan tentang rencana itu.

Ia menjelaskan sedikit bahwa anggaran Rp. 300 Milyar yang dibutuhkan untuk membangun gedung baru Bareskrim, harus mendapat persetujuan bersama dari pihak Pemerintah dan DPR.

Kami tak bisa berbincang lama karena Tito kedatangan tamu dari Kantor Menkopolhukkam.

Sebelum ia masuk ke Gedung Utama Mabes Polri, Tito memberikan kode barcode blackberrynya untuk saya pindai.

Saya masih duduk di Balai Wartawan Bareskrim, nama Tito saya lihat sudah masuk di blackberry saya dengan kode bertuliskan, “Tieto”.

Tito lahir di Palembang tanggal 26 Oktober 1964.

Tito adalah seorang reserse handal yang memang dibesarkan di jajaran Polda Metro Jaya.

Walau dalam perjalanan waktu, ia banyak berkecimpung dalam penanganan anti terorisme.

Tapi harus diakui, kariernya sebagai polisi, sangat kuat melekat di dunia reserse.

Polda Metro Jaya sudah seperti rumah untuk Tito.

Simaklah perjalanan karier Tito sejak awal tugasnya di jajaran kepolisian dari mulai tahun 1987:

Perwira Samapta Polres Metro Jakarta Pusat (1987)
Kanit Jatanras Reserse Polres Metro Jakarta Pusat (1987–1991)
Wakapolsek Metro Senen Polres Metro Jakarta Pusat (1991–1992)
Wakapolsek Metro Sawah Besar Polres Metro Jakarta Pusat
Spri Kapolda Metro Jaya (1996)
Kapolsek Metro Cempaka Putih Polres Metro Jakarta Pusat (1996–1997)
Spri Kapolri (1997–1999)
Kasat Serse Ekonomi Reserse Polda Metro Jaya (1999–2000)
Kasat Serse Umum Reserse Polda Metro Jaya (2000–2002)
Kasat Serse Tipiter Reserse Polda Sulawesi Selatan (2002)
Koorsespri Kapolda Metro Jaya (2002 – 2003)
Kasat Serse Keamanan Negara Reserse Polda Metro Jaya (2003 – 2005)
Kaden 88 Anti Teror Polda Metro Jaya (2004 – 2005)
Kapolres Serang Polda Banten (2005)
Kasubden Bantuan Densus 88 Anti Teror Polri (2005)
Kasubden Penindak Densus 88 Anti Teror Polri (2006)
Kasubden Intelijen Densus 88 Anti Teror Polri (2006 – 2009)
Kadensus 88 Anti Teror Polri (2009-2010)
Deputi Penindakan dan Pembinaan Kemampuan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) (2011-21 Sept 2012)
Kapolda Papua (21 Sept 2012-16 Juli 2014)
Asrena Polri (16 Juli-sekarang)

Bahwa Tito dipuji sebagai polisi yang sangat amat cerdas oleh Mantan Kapolri Bambang Hendarso Danuri, ini memang harus diakui kebenarannya.

Sebab dari lulusan Akabri angkatan 1987, Tito adalah lulusan terbaik kepolisian dan meraih penghargaan Bintang Adhi Makayasa.

Setiap ia menjalani pendidikan formal dan non formal, didalam dan diluar negeri, Tito sering dan memang selalu menjadi lulusan terbaik.

Yang menjadi kekurangannya hanya 1 bahwa ia kurang begitu akrab dengan kalangan wartawan.

Ukuran keakraban, harus dinilai dari seberapa respek dan seberapa antusias para wartawan menjalani persahabatan.

Walau khusus terhadap diri saya, selama 8 tahun terakhir ini Tito sudah menunjukkan dan membuktikan kegigihannya untuk sekedar bisa berteman.

Penugasannya yang baru sebagai Kapolda Metro Jaya adalah sebuah amanah dan kepercayaan yang tinggi dari atasan.

Tugas ini harus dilaksanakan Tito dengan sebaik-baiknya.

Terbuka peluang yang sangat besar untuk Tito untuk naik menjadi Kabareskrim pada tahun depan untuk menggantikan Komjen Budi Waseso, jika pada akhirnya Presiden Joko Widodo akan menunjuk Komjen Budi Waseso untuk menjadi Kapolri yang baru menggantikan Jenderal Badrodin Haiti yang akan pensiun pertengahan tahun depan.

Polda Metro Jaya adalah satu-satunya Polda di Indonesia yang bertipe AK.

Polda di seluruh Indonesia, terbagi dalam 3 tipe, yaitu tipe AK, tipe A, dan tipe B.

Tugas pertama Tito sebagai Metro 1 adalah pengamanan Ramadhan dan Idul Fitri.

Kemudian ia harus mampu memberantas segala gangguan keamanan yang meresahkan warga ibukota akhir-akhir ini.

Termasuk urusan begal motor, premanisme, oplosan kebutuhan pokok, narkoba, dan segala persoalan yang mencuat ke permukaan akhir-akhir ini di ibukota.

Menutup tulisan ini, saya sampaikan ucapan selamat.

Ke Polda Metro Jaya, Irjen Tito Karnavian kembali.

Polisi yang bersahaja ini kembali bertugas ke rumahnya sendiri yaitu ke jajaran Polda Metro Jaya.

Maka, yang bisa disampaikan kepada Tito adalah, jadikanlah Jakarta (dan sekitarnya) sebagai “rumah” yang sangat aman, nyaman dan penuh kedamaian.

Congratulations, Pak Metro 1.

Sumber : www.katakamidotcom.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: