Sketsa News
Home Berita Terkini, Opini Pesta Pernikahan Meriah yang Sederhana Ala Jokowi

Pesta Pernikahan Meriah yang Sederhana Ala Jokowi

joko
Sketsanews.com – PRESIDEN kita, Joko Widodo, menikahkan anak pertamanya kemarin. Pesta pernikahan digelar meriah, namun sederhana di Solo, Jawa Tengah. Kalau rakyat biasa paling banyak hanya mengundang 200–500 orang tamu, dalam resepsi ini ada sekitar 4.000 undangan. Tentu saja saya tidak termasuk dalam daftar undangan, juga bukan panitia. Tetapi, sebagai rakyat, saya ikut mendoakan. Undangan terdiri atas 1.000 untuk warga Solo, 2.000 untuk relawan Jokowi-JK, dan 1.000 lainnya untuk para pejabat dan petinggi negara, politisi, dan tamu-tamu asing.

Ini yang saya suka: Kedatangan tamu sudah mulai ditata. Maklum, di mana-mana kita lihat tak ada orang yang menata antrean. Bahkan, membagi daging kurban saja kita tak pandai. Apalagi mengatur arus lalu lintas di jalan tol atau pelabuhan penyeberangan. Padahal, ada banyak alatnya, termasuk mekanisme harga.

Baiklah kita kembali ke soal penataan tamu respsi. Supaya para tamu tidak tumplek bleg pada satu sesi acara, tamu yang datang saat malam midodareni di rumah tak perlu datang lagi saat resepsi. Untuk tamu VIP dan VVIP, panitia menyiapkan aturan khusus.

Di Samarinda, saya bertemu dengan seorang tokoh agama yang kebetulan menerima undangan ke acara tersebut. Dia senang dengan pembagian waktu tersebut.

Dulu dia pernah hadir ke pernikahan anak seorang petinggi negara. Oleh karena waktunya tidak dibagi-bagi, dia terpaksa antre lebih dari satu jam hanya untuk bisa menyalami pasangan pengantin dan keluarganya. ”Buat orang tua seperti saya, antre seperti itu tentu melelahkan. Apalagi di sepanjang jalan tak ada kursi. Mudah-mudahan nanti saat mantu Pak Jokowi, antrenya tidak terlalu lama,” katanya penuh harap.

Cerita Rakyat Kecil

Banyak pernik-pernik lain seputar pesta nikah ini. Kebanyakan cerita, ini yang juga saya suka, tentang rakyat kecil yang terlibat dalam pesta pernikahan tersebut.

Misalnya, ada cerita Mukhtaroji, kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Banjarsari, yang menjadi penghulu untuk menikahkan putra orang nomor satu di negeri ini. Bagi Mukhtaroji, ini menjadi pengalaman yang luar biasa. Apalagi banyak media yang meliput dan undangan yang hadir. Untuk itu, dia terus melakukan persiapan supaya saat puncak acara tidak grogi.

Akad-Nikah-Gibran-Selvi-kua-banjarsari-mukhtaroji

Atasan Mukhtaroji, kepala Kementerian Agama Kota Surakarta, membantunya menyiapkan catatan khotbah nikah. ”Meski sudah hafal, kalau grogi, saya bisa saja lupa. Itu sebabnya, saya akan membawa catatan,” ucap Mukhtaroji, jujur.

Cerita lain adalah tentang 300-an tukang becak yang terlibat dalam acara tersebut. Untuk menampung mobil para tamu undangan, pihak Pemerintah Kota Solo menyiapkan dua lapangan yang berjarak sekitar 500 meter dari gedung resepsi. Para tamu diangkut dari dua lapangan ke gedung resepsi dengan memakai 300 becak tadi.

Presiden Jokowi memberi upah Rp 200.000 kepada setiap tukang becak. Supaya tampil lebih rapi, Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo juga akan memberi tukang-tukang becak itu belangkon dan baju lurik yang baru.

Cerita lain adalah sama dengan resepsi besar lainnya, yaitu tentang hotel-hotel di Solo yang habis di-booking para tamu yang bakal hadir dalam acara tersebut. Bahkan, banyak hotel yang menaikkan harga 10 persen–15 persen untuk H minus 5 dan H plus 5.

Beberapa tamu yang telat memesan terpaksa mencari hotel di kota-kota seputarnya, seperti Magelang atau DI Jogjakarta. Alhasil, pekan-pekan ini hotel-hotel di seputar Solo dan Jogjakarta kebanjiran tamu. Para pengelola dan pemilik hotel tentu senang.

Rezeki juga mengalir ke resto-resto dan pusat-pusat perbelanjaan. Selama dan sepulang menghadiri pesta pernikahan tersebut, para tamu undangan juga memborong oleh-oleh dan suvenir khas Solo atau Jogjakarta.

Beberapa Catatan

Ada beberapa hal yang bisa kita catat dari pesta tersebut. Pertama, tak ada stasiun TV yang punya hak eksklusif atas acara tersebut dan kemudian habis-habisan melakukan komersialisasi. Ini memang pestanya kedua mempelai, keluarga Jokowi dan besannya. Tapi, bagi warga Solo, ini juga menjadi pestanya mereka.

Beberapa waktu lalu kita pernah disuguhi acara pernikahan seorang artis dikomersialisasi habis-habisan oleh suatu stasiun TV dalam sebuah acara yang, menurut saya, berlebihan. Mudah-mudahan kali ini hal semacam itu tidak terjadi.

Catatan kedua, melalui acara pernikahan ini, Presiden Jokowi rupanya ingin menyampaikan beberapa pesan. Di antaranya, meski Jokowi seorang kepala negara, dia sama sekali tidak melibatkan para pejabat negara dalam pesta pernikahan anaknya. Jadi, mereka tetap bisa fokus dalam menjalankan pekerjaannya.

Bukan hanya itu, bahkan Presiden Jokowi menolak ketika ditawari menggunakan fasilitas negara atau menerima hadiah apa pun. Misalnya, dia menolak memakai Istana Cipanas atau Istana Bogor untuk pesta pernikahan anaknya. Dia memilih menikahkan anaknya di Solo.

Pesan lain, selama pesta pernikahan tersebut, Presiden Jokowi sama sekali tidak mengambil cuti. Dia tetap berkantor seperti biasa meski sebagian aktivitasnya banyak dilakukan di Solo.

Pesan berikutnya tentang kesederhanaan. Misalnya, emas untuk pengantin tidak dibelinya dari desainer ternama, melainkan cukup dari pedagang di Pasar Klewer, Solo. Harganya pun wajar, tidak membuat jantung kita berdegup. Tapi, apakah hal ini sudah pasti mampu membungkam mulut para haters? Tentu saja tidak! Namanya juga haters, mereka ada, siapa pun presidennya.

Namun bagi saya, pesta ini adalah cara lain dari Presiden Jokowi untuk menyampaikan pesan tentang revolusi mental yang belum jelas bentuknya. Mudah-mudahan kita bisa memahaminya.

Sumber: www.jawapos.com
%d blogger menyukai ini: