Sketsa News
Home Berita Terkini, Headlines, Internasional, News, Wawancara Ramadhan Bikin Hubungan RI-Australia Jadi Adem

Ramadhan Bikin Hubungan RI-Australia Jadi Adem

duta-besar-dubes-australia-paul-grigson_sketsanews

Sketsanews.com – Ibarat permen dua rasa, hubungan Indonesia dan Australia kadang manis, terkadang pula asam. Bagi mereka yang skeptis, hubungan dua negara bertetangga ini lebih dilihat sarat dengan konflik.

Namun, bagi mereka yang optimistis, berbagai masalah yang muncul justru membuat hubungan Indonesia-Australia menjadi lebih dinamis. Sebagai diplomat, Paul Grigson termasuk golongan ini.

Duta besar baru Australia untuk Indonesia itu yakin bahwa apa pun perbedaan dan friksi yang membuat tegang dua pemerintah tidak lantas membuat hubungan kedua bangsa menjadi ikut retak. Justru itu membuat keduanya semakin dewasa dan saling memahami, walau tidak harus selalu sepakat karena masing-masing punya kepentingan yang prinsipil.

Salah satu isu yang belakangan ini membuat tegang kedua pemerintah adalah penanganan para migran gelap atau manusia perahu. Persoalan bermula dari adanya tuduhan terhadap Angkatan Laut Negeri Kanguru, yang diduga menyogok sindikat penyelundup manusia yang membawa 65 pencari suaka yang mengarah ke Australia.

Kru kapal yang terdiri dari enam orang dilaporkan menerima bayaran masing-masing senilai US$5.000 atau setara Rp65 juta. Tujuannya, agar kapten kapal batal mengantarkan puluhan pencari suaka ke negeri impian dan kembali ke Indonesia.

Kementerian Luar Negeri RI dan kelompok oposisi di Australia menanggapi serius tuduhan ini. Sebab, jika terbukti benar, pemerintahan PM Tony Abbott dianggap melakukan pelanggaran berat di mata hukum. Belum lagi, Australia juga melanggar prinsipnya sebagai negara penandatangan Konvensi PBB tahun 1950.

Menteri Luar Negeri RI, Retno LP Marsudi, meminta klarifikasi dari Australia mengenai kebenaran tuduhan tersebut. Melalui Dubes Grigson, Menlu Retno bertanya apakah aksi pembayaran itu benar terjadi. Penjelasan yang disampaikan Menlu Julie Bishop secara tertulis tidak memuaskan Menlu Retno.

“Isi surat tidak berisi hal baru dan tak menjawab sama sekali pertanyaan yang ditanyakan oleh Menlu,” ujar juru bicara Kemlu, Arrmanatha Nasir ketika dihubungi VIVA.co.id melalui telepon.

Ketegangan itu muncul tak lama usai Dubes Grigson kembali ke posnya di Indonesia. Sebelumnya, Grigson sempat dipanggil pulang untuk berkonsultasi pasca Kejaksaan Agung mengeksekusi mati dua gembong narkoba, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran pada 29 April lalu. Australia begitu marah karena permintaan mereka yang diajukan berkali-kali tak digubris oleh Presiden Joko Widodo.

Kini Grigson dihadapkan pada tantangan lainnya untuk menjelaskan kebijakan pemerintahnya yang begitu keras terhadap pencari suaka. Salah satu yang kerap diprotes Indonesia yakni kebijakan dorong perahu. Maka, muncul spekulasi di media, hubungan kedua negara kini kembali tegang.

Kedua Menlu belakangan ini jarang berkomunikasi. Mantan Menlu RI, Marty Natalegawa, ketika menghadiri sebuah acara di Universitas Nasional Australia (ANU) di Canberra seolah membenarkan spekulasi tersebut. Marty sempat mengatakan hubungan kedua Negara ada di titik kritis.

Namun, semua spekulasi itu ditepis oleh Grigson. Bagi dia, apa yang terjadi saat ini tak lebih adanya perbedaan pendapat dan kebijakan antara kedua pemerintah. Ditemui olehVIVA.co.id di kediamannya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, pada Senin, 29 Juni 2015, Grigson mengatakan wajar jika kedua negara berbeda pendapat.

“Karena Indonesia dan Australia adalah dua negara yang berbeda. Kami pun memiliki kepentingan nasional yang berbeda pula. Oleh sebab itu, konyol jika kita berharap akan selalu sepakat mengenai isu apa pun,” ujar Grigson.

Alih-alih fokus pada perbedaan yang dimiliki kedua negara, Grigson lebih mencurahkan perhatiannya pada kesamaan Australia dan Indonesia. Salah satunya menjalin hubungan yang lebih erat di antara komunitas Muslim kedua negara. Sebagai contoh, di bulan Ramadhan ini, dia masih melanjutkan program tur masjid di tiap hari Jumat.

“Saya juga rutin mengadakan acara buka puasa, bahkan saya ingin lebih sering mengadakan. Ada dua alasan penting mengapa saya menyelenggarakannya, pertama acara ini penting bagi warga Indonesia, kedua, saya menyukainya,” kata Grigson dalam bincang-bincang dengan jurnalis VIVA.co.id saat menggelar acara Buka Puasa di rumahnya awal pekan lalu.

Ini kali pertama turut merayakan Ramadhan di Indonesia, bagaimana kesan Anda?

Saya sangat menikmati Ramadhan. Saya sangat beruntung karena begitu banyak tamu yang hadir untuk berbuka puasa di rumah dinas saya. Saya sangat bersyukur akan hal tersebut, karena warga Indonesia juga sibuk untuk berbuka puasa dengan pihak lain seperti keluarga dan kolega. Saya juga menikmati hidangan yang disajikan di saat berbuka puasa.

Tentu saya menantikan bisa merayakan Ramadhan selanjutnya di Jakarta.

Apa ada perbedaan yang Anda lihat dari warga Indonesia ketika mereka bekerja sebelum dan saat memasuki bulan Ramadhan?

Saya pikir ada perbedaannya. Seperti di banyak tempat lainnya, di Kedutaan Australia di Jakarta, kami memberikan kelonggaran bagi pegawainya, sehingga mereka bisa pulang lebih awal dan berkumpul bersama keluarga dan kerabat. Apa yang saya rasakan di Indonesia yaitu adanya suasana yang begitu khidmat dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadhan.

Berpuasa di siang hari kadang bisa menjadi tantangan. Tetapi, warga Indonesia tetap bisa menghadapi hal tersebut. Ini menjadi pengalaman yang hebat bagi saya melihat warga Indonesia menjalankan keyakinannya.

Apakah Kedutaan Australia memiliki program khusus di bulan Ramadhan ini untuk memperkuat hubungan antar warga kedua negara?

Setiap hari Jumat, kami berusaha untuk mengunjungi masjid yang berbeda dan kegiatan tersebut tetap kami lanjutkan di bulan Ramadhan ini. Kami juga menggelar buka puasa dengan beberapa kolega di kediaman dinas saya.

Pendahulu saya, Dubes Greg Moriarty, telah melakukan kegiatan serupa beberapa kali, tetapi tahun ini kami akan berupaya untuk meningkatkan kegiatan tersebut dua atau tiga kali lebih sering.

Ada dua alasan seringnya menyelenggarakan buka puasa bagi warga Indonesia, karena bagi mereka ini penting dan menjadi kesempatan bagi kami untuk berterima kasih kepada rekan-rekan kami dari Indonesia atas kerja samanya dengan Australia. Kedua, karena saya menyukai kegiatan buka puasa.

Apakah Anda pikir bulan Ramadhan bisa menjadi momen yang baik untuk mendinginkan hubungan kedua negara yang sempat tegang?

Saya pikir ada benarnya. Sangat menarik karena ketika saya berkunjung ke beberapa masjid dan universitas, mereka tidak menanyakan isu politik. Malah, mereka bertanya mengenai bagaimana Islam dan kehidupan seorang Muslim di Australia. Menurut saya itu tanda yang baik, karena mereka tertarik dengan komunitas di Australia.

Sejujurnya, ketika saya pergi ke masjid, terkadang saya tak ingin selalu ditanya mengenai politik, tetapi ternyata warga tertarik ke hal lain, mengenai sejarah Islam di Australia dan berapa banyak warga Muslim di Australia. Total, terdapat sekitar 500 ribu umat Muslim di Australia.

Saya pikir, tidak semua warga Indonesia memahami betapa besar dan betapa penting komunitas muslim di Australia. Jadi, menurut saya Ramadhan adalah elemen dalam hubungan komunitas kedua negara agar terus meningkat.

Pertanyaan macam apa yang paling sering ditanyakan publik kepada Anda ketika berkunjung ke masjid?

Pertanyaan paling umum yang sering ditanyakan yaitu bagaimana Komunitas Muslim di Australia hidup. Warga Indonesia beranggapan jumlah umat Muslim di Australia jauh lebih kecil dibandingkan di sini. Baru-baru ini saya dikunjungi oleh keluarga. Sayangnya, tidak ada dari mereka yang berasal dari Sydney.

Padahal di Sydney, banyak terdapat umat Muslim. Kolega saya mengatakan selama bulan Ramadhan, toko-toko yang menyajikan makanan baru buka pada pukul 18.00 dan itu telah berlangsung lama. Jadi, saya pikir, Ramadhan juga dianggap sebagai momen penting di Australia sama seperti di Indonesia. Cara merayakannya pun sama.

Ketika saya berkunjung ke masjid, warga antusias untuk bertanya mengenai informasi tersebut, ada berapa banyak umat Muslim, dari mana mereka berasal, apakah mereka menjalankan bulan Ramadhan dan pembangunan masjid.

Terkait dengan pembangunan masjid, mereka bertanya apakah sulit atau mudah untuk membangun masjid di Australia. Saya menjawab aturan pembangunan masjid sama saja seperti membangun gereja.

Mereka banyak tertarik untuk bertanya mengenai informasi dan menurut saya itu bagus. Saya turut menjelaskan bahwa Muslim pertama yang tiba di Australia berasal dari Afghanistan di akhir abad ke-19. Mereka terkejut mendengarnya. Jadi, banyak informasi bagus yang bisa saya bagikan.

Apakah Anda masih melihat adanya kesalahpahaman dalam pemikiran warga Indonesia mengenai Australia, kebijakan pemerintah Anda dan kehidupan Muslim di sana?

Kadang saya pernah ditanyai apakah wanita diizinkan untuk mengenakan jilbab. Aturan mengenai penggunaan jilbab di Australia, mereka bebas mengenakannya. Sebagai contoh polisi wanita juga diizinkan mengenakan jilbab. Aturan itu sudah diberlakukan cukup lama di Australia.

Pasukan wanita di angkatan militer juga diizinkan mengenakan jilbab. Tentu, tidak ada masalah jika Anda mengenakan jilbab di sekolah dan universitas. Kesalahpahaman semacam itu mudah untuk dibicarakan.

Justru setelah warga di sini mengetahui begitu banyak pasukan militer di Australia mengenakan jilbab, mereka begitu terkejut. Reaksi serupa juga ditunjukkan ketika tahu bidang pekerjaan lainnya tak mempermasalahkan wanita berhijab.

Saya harus katakan di beberapa kota besar seperti Brisbane, Melbourne, Sydney, Perth, Canberra dan Hobart, tidak ada yang terkejut jika melihat seseorang mengenakan jilbab. Itu merupakan pemandangan umum.

Sulit jika menjelaskan hanya secara lisan, sebab Anda harus merasakannya langsung, baru kemudian Anda mengerti.

Bagaimana dengan kumandang azan di Australia, apakah masjid di sana dibatasi menyuarakan azan?

Memang ada batasan di Australia, tetapi batasan itu tidak hanya berlaku untuk masjid, begitu pula dengan gereja. Namun, pembatasan itu biasanya terkait dengan ruang untuk parkir kendaraan, lahan dan isu semacam itu. Di Australia ada pembagian zona untuk penggunaan lahan.

Sebagian digunakan untuk rumah tinggal, sebagian lagi dialokasikan untuk pertanian, industri dan sebagian diberikan untuk kepentingan lain. Jadi, bangunan semacam gereja, masjid diberikan lahan khusus, seharusnya tidak ada masalah.

Saya tahu mengenai isu masjid di Canberra yang sempat Anda ceritakan. Saat ini, mereka tengah mencari masjid kedua dan kini tengah mencari lahan yang lebih luas. Mereka telah ditawari satu area lahan di mana tidak begitu banyak batasan aturan. Masalah itu kini telah ditangani oleh Pemerintah ACT Canberra. Jadi, bukan berarti mereka tak diberi izin pembangunan masjid.

Ada banyak sekali masjid di Australia dan saya rasa jumlahnya akan terus bertambah, karena populasi umat Muslim di Australia juga ikut bertambah. 40 persen Muslim Australia lahir di Australia, sementara sisa 60 persen merupakan kaum imigran. Komunitas itu akan terus bertambah sehingga mendorong tingginya permintaan terhadap pembangunan masjid dan sekolah Islam.

Duta Besar Australia untuk Indonesia, Paul Grigson

Duta Besar Australia untuk Indonesia, Paul Grigson, (kanan) tengah memukul bedug ketika berkunjung ke Masjid Istiqlal Jakarta pada 1 April 2015. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

Anda mengatakan, agama Islam di Australia kali pertama dikenalkan oleh Muslim dari Afghanistan. Bukankah pertama kali dibawa muslim Indonesia dari Makassar?

Betul sekali. Kontak komunikasi pertama kedua warga negara dilakukan oleh para pedagang dari Makassar. Mereka berlayar menuju ke bagian utara Australia. Kontak Muslim pertama kemungkinan memang dibawa dari Indonesia, tetapi komunitas Muslim pertama kemungkinan besar datang dari Afghanistan.

Hal tersebut dibuktikan dari sebuah foto berisi sebuah masjid yang terkenal di Australia. Masjid itu seperti gedung cottage berusia lebih dari 200 tahun. Jadi, itu merupakan foto yang sangat indah.

Jadi, memang ada sejarah kontak komunikasi yang sudah lama dilakukan antara warga Australia dengan para pedagang. Sementara, imigran pertama yang menetap dalam bentuk komunitas datang dari Afghanistan.

Warga Afghanistan yang datang dengan menunggangi unta (Afghan Cameleers) membantu untuk proses desain interior. Jadi, mereka memainkan peranan penting dalam hal penempatan komunitas.

[Catatan redaksi: penunggang unta dari Afghanistan kali pertama tiba di Melbourne, Australia pada Juni 1860. Saat itu tiga orang Afghanistan tiba dengan membawa 24 unta sebagai bagian dari ekspedisi Burke dan Wills. Ekspedisi itu bertujuan untuk menjelajah Australia dimulai dari Melbourne di bagian selatan menuju ke Teluk Carpentaria di bagian utara. Jarak yang ditempuh mencapai 3.250 kilometer]

Tetapi, dalam perdagangan, kami memiliki bukti lainnya, sudah ada kontak bisnis antara warga kedua negara. Bahkan, itu berlangsung sejak lama. Terkadang, jika kita membicarakan perbedaan politik di antara kedua negara, kita melupakan mengenai kontak tersebut.

Selain kontak dalam hal perdagangan, ada juga kontak antar warga di bidang pendidikan. Seperti yang Anda ketahui, Australia menjadi salah satu tujuan utama bagi warga Indonesia untuk menuntut ilmu. Tren nya bahkan selalu meningkat. Australia selalu bangga dengan hal itu.

Keuntungan bagi warga Indonesia menuntut ilmu di sana, mereka mendapat pendidikan yang baik, dekat dari rumah, dan merasa aman. Itu lah yang penting bagi kami. Itulah tautan hubungan yang tak bisa terjadi berulang kali di tingkat pemerintahan.

Warga kedua negara juga diketahui masih saling berkunjung. Kami memiliki data statistik seberapa sering warga kedua negara saling kunjung. Dari data tersebut, terlihat jumlah warga Australia yang berkunjung ke Indonesia kian meningkat dan sebaliknya.

Bisa saja kita memiliki berbagai perbedaan terkait kebijakan di tingkat pemerintahan dan hal tersebut akan selalu terjadi. Tetapi, pada faktanya warga kedua negara tetap saling berkunjung. Di situ lah kita harus mulai berhenti untuk merasa khawatir, karena tidak berpengaruh terjadi angka kunjungan warga Australia dan Indonesia.

Kita adalah negara yang berbeda namun saling dekat.

Jadi, maksud Anda perbedaan kebijakan di bidang politik di kedua pemerintahan, tak akan berpengaruh terhadap hubungan antarwarga?

Saya belum melihatnya, terutama sejak hubungan kedua negara menghangat. Saya rasa penting untuk membuat sebagian orang yang belum memahami, kita akan selalu memiliki perbedaan.

Tidak mungkin kita akan selalu sepakat dalam semua hal. Konyol jika berharap itu terjadi, karena tak akan pernah.

Jika sifat hubungan kedua negara sebagian besar hanya difokuskan kepada hal yang tak disepakati, tentu hal tersebut akan membuat hubungan menjadi buruk. Malah, bisa saja kian memburuk, karena dalam beberapa hal penting, ada saja perbedaan yang muncul.

Sebab, kita adalah dua negara berbeda yang memiliki kepentingan nasional masing-masing. Tetapi, bukan berarti, kedua negara tidak bisa bekerja sama. 95 persen bidang lainnya, masih bisa dijadikan bidang untuk kerja sama. Dalam beberapa kasus, kita melewatkan kesempatan itu.

Saya kerap mengatakan kepada orang-orang yang bekerja bersama saya, tugas saya di sini untuk menyelesaikan permasalahan, sementara staf lain di Kedutaan harus fokus untuk terus membangun dan memperkuat hubungan itu.

Saya harus katakan, terkadang ada beberapa hal yang ditulis di media baik itu Indonesia atau Australia, bahwa hubungan kedua negara berada di titik paling buruk yang pernah terjadi atau hubungan memburuk, tetapi pada faktanya kedua pemerintah, seperti Menteri Luar Negeri Julie Bishop bahagia melihat kegiatan saya berkunjung ke masjid. Kedatangan saya ke masjid pun disambut baik.

Saya menyelenggarakan acara buka puasa dan banyak warga yang bersedia hadir. Saya juga diundang untuk berbuka puasa oleh Kementerian Luar Negeri dan Istana Kepresidenan. Saya juga berkunjung ke universitas dan beberapa kali sempat ditanyakan mengenai politik, tapi saya bisa maklum, karena mereka mahasiswa.

Tetapi, pada dasarnya tidak ada tindakan bodoh atau konyol yang dilakukan warga kedua negara. Kendati berbeda pendapat, tetapi warga tetap ramah menyambut kami. Tentu saja perbedaan itu selalu bisa didiskusikan.

Tiga pekan lalu, saya mengundang beberapa jurnalis dan mereka bertanya kepada saya, “Apakah saya khawatir?” Saya katakan, saya tidak khawatir mengenai hal apa pun, karena perbedaan yang ada bisa dikelola.

Selain itu, banyak bidang lainnya yang bisa dijalin kerja sama, tentu bukan bidang yang ini.

Salah satu kerja sama yang terlihat nyata dan ini bukti yang paling mudah, kami baru saja membuka gedung Konsulat Jenderal di Makasar. Buat kami, untuk membangun gedung Konsulat Jenderal di sana membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Di sana akan dipekerjakan antara tiga hingga empat staf warga Australia. Mereka akan membantu untuk mengurus isu di bidang bisnis dan keamanan.

Kapan Gedung Konsulat Jenderal di Makassar akan dibuka?

Saya berharap gedung tersebut bisa beroperasi pada pertengahan tahun 2016. Tetapi, semoga bisa lebih cepat lagi. Jika kami berpikir tidak ada kesempatan untuk mengembangkan kerja sama kedua negara, maka kami tak akan menghabiskan dana sedemikian besar.

Hal lainnya, jika Anda melihat jumlah mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di Australia tahun lalu meningkat. Begitu juga dengan turis asal Indonesia. Kami sedang berupaya berdialog dengan pengusaha Indonesia agar meningkatkan investasinya di Australia. Kami sangat berharap investasi dari Indonesia ke Australia terus meningkat.

Jadi, saya sama sekali tidak khawatir. Saya katakan kepada para jurnalis itu: “ketika saya mulai khawatir, maka begitu pula dengan Anda”.

Apakah banyaknya pemberitaan soal  hubungan kedua negara menunjukkan kian tingginya minat kedua warga negara mengetahui lebih jauh mengenai Indonesia dan Australia?

Bisa saja saya keliru mengenai masalah ini. Saya tak memiliki tanda atau hasil riset untuk mendukung pendapat saya. Saya pikir, warga Australia dan Indonesia pada umumnya memiliki lebih banyak kesamaan dari yang kita duga.

Jika Anda berpikir, apa yang sedang dipikirkan oleh publik, maka mereka akan berpikir untuk bisa mencari pekerjaan, pendidikan yang terbaik untuk anak-anak mereka, dan membuat mereka merasa aman. Jika Anda berpikir apa yang dipikirkan oleh warga Australia pada umumnya, maka mereka berpikir tiga hal tadi.

Warga Indonesia pada umumnya ketika membaca koran dan memiliki opini mengenai politik, maka bisa saja mereka berpikir Negeri Kanguru keliru atau benar. Tetapi, yang penting, bukan itu pola pikir mereka sehari-hari dalam menjalani hidup.

Hal tersebut juga berlaku bagi warga Australia. Ketika mereka membaca koran, mereka berpikir bisa saja Indonesia benar atau keliru, tetapi tetap saja saya harus bekerja. Terkadang, kita tidak cukup memperhatikan nilai tersebut.

Dan itulah yang menarik mengenai komunitas Muslim, sebab fokus perhatian komunitas Muslim di Australia lebih kepada tiga hal tadi: apakah bisa memperoleh pekerjaan dengan mudah, tentu saja bisa, apakah ada sekolah Muslim bagi anak-anak untuk menuntut ilmu, ada banyak sekolah Muslim di sana.

Apakah mereka menjadi target yang dibatasi perjalanannya, kami mengusahakan hal tersebut tidak terjadi. Karena pembicaraan mengenai topik yang dibicarakan oleh pejabat tinggi, pada dasarnya tak selalu dibahas oleh warga pada umumnya.

Makanan yang dikonsumsi oleh warga Australia dan Indonesia juga sangat berbeda. Tetapi, ada satu menu yang disukai kedua negara yaitu makanan gurih dan asin serta manis. Mereka sangat menyukai makanan yang manis dan asin.

Jika mereka melihat bentuk makanannya mungkin berbeda, tetapi zat pembuatnya sama saja. Seperti yang telah disampaikan, saya belum merasa khawatir dan belum yakin juga apakah kekhawatiran itu diperlukan, karena adanya perdebatan mengenai hubungan. Karena isunya begitu luas dan kami akan mencari kesamaan kepentingan di mana kedua negara bisa bekerja sama.

Apakah keadaan hubungan semacam ini bisa dikatakan normal?

Saya tidak tahu. Saya berharap tahun depan tidak akan ada lagi perdebatan dan ketidaksepakatan. Tetapi, saya malah terkejut jika kedua negara tidak sepakat, karena seperti yang telah saya katakan, Indonesia dan Australia adalah dua negara yang berbeda dan memiliki kepentingan yang berbeda pula.

Triknya, jangan dicari perbedaannya, tetapi bagaimana kita bisa berbagi dan mencari kesamaan kepentingan.

Hubungan Indonesia dan Australia sangat menarik, seperti layaknya suami isteri. Sering bertengkar lalu berbaikan kembali. Anda setuju dengan hal itu?

Saya pikir itu adanya benarnya. Jika Anda melihat Dubes Indonesia di Australia, Bapak Nadjib Riphat Kesoema, dia melakukan tugasnya dengan baik.

Dia kerap bepergian ke berbagai penjuru Australia, dia bertemu dengan banyak orang, saya pikir warga Australia menyambut baik keberadaannya di sana, banyak orang yang kenal dengan Pak Nadjib, Beliau bukan seorang Dubes di Australia yang tengah menghadapi kesulitan.

Dia bekerja keras dan berupaya untuk membaur dengan beragam lapisan masyarakat. Beliau juga menjual potensi Indonesia tetapi di waktu bersamaan aspirasi yang ada di sana.

Sama saja seperti yang kami lakukan di sini. Itu indikasi yang juga baik. Jika memang hubungan kedua negara buruk seperti yang dikatakan orang-orang, maka kalian tak akan melihat saya di sini. Begitu pula warga Australia tak akan melihat Pak Nadjib di sana.

Saya memang belum berkomunikasi dengan Beliau baru-baru ini. Tetapi, saya yakin Beliau juga sibuk seperti saya. Jadi, jika Anda melihat di hubungan lainnya, pendidikan, bisnis, pariwisata, warga kedua negara tetap saling kunjung.

Warga Indonesia juga sangat ramah dan dermawan kepada saya. Saya pun berharap, Pak Nadjib juga mengatakan hal yang sama mengenai warga Australia.
Proyek bilateral apa yang akan direalisasikan kedua pemerintah tahun ini?

Satu isu penting yang perlu diatasi oleh kedua negara, yakni Australia memberikan dana pembangunan kepada Indonesia, hingga bisa terjalin satu kemitraan. Bidang ekonomi merupakan sektor yang paling menjanjikan untuk dikembangkan, ada beberapa hal di bidang tersebut yang keahliannya dimiliki oleh Indonesia dan Australia.

Jadi, caranya bagaimana kedua negara bisa membawa itu. Ketika saya bertemu dengan para Menteri yang ada di sini, mereka jarang membicarakan mengenai bantuan keuangan seperti bantuan pembangunan. Tetapi, mereka lebih membutuhkan keahlian untuk menuntaskan satu masalah tertentu.

Jadi, kami katakan kepada para Menteri, Australia pernah memiliki isu tersebut, ketika kami mencoba menggunakan cara ini, malah tak membantu. Jangan diselesaikan dengan cara tersebut. Kedua negara bisa belajar sisi positi dan negatif.

Di bidang ekonomi, kami lebih banyak membicarakan mengenai reformasi, bantuan teknis, dan hal terkait itu. Kami juga tengah memfokuskan ke bidang pendidikan karena itu penting untuk pertumbuhan ekonomi.

Dalam beberapa tahun ke depan, saya akan lebih banyak memfokuskan ke bidang ekonomi dan kualitas pendidikan.

Bagaimana dengan proyek kebudayaan, apakah ada kerja sama di tahun ini?

Kami memang memiliki kerja sama yang cukup lama di bidang kebudayaan. Ada juga program pertukaran bagi para pemuda dan itu cukup sukses. Jadi, saya tetap akan mempertahankan itu.

Program besar mengenai pertukaran pemuda yakni New Colombo Plan (NCP). Jadi, sudah sejak lama banyak mahasiswa Indonesia yang belajar ke Australia, jadi ini saatnya mereka berkunjung ke RI. NCP akan membantu hal itu.

Sisi positif dari program ini yaitu Indonesia menjadi tujuan pertama bagi pemuda Australia.

Bagaimana perkembangan program New Colombo Plan?

Tahun ini, semua siswa telah dipilih dan pilihan negara paling populer adalah Indonesia. Saya prediksi Indonesia juga akan menjadi pilihan pertama bagi para pemuda Negeri Kanguru di tahun depan.

Yang menarik, kami tak memiliki kesulitan untuk mencari rumah tamu, universitas dan perusahaan yang mau menerima mereka. Menurut saya itu pertanda yang baik.

Jika kedua negara tengah bermasalah, maka pada faktanya para pemuda Australia justru memilih Indonesia sebagai tujuan pertama untuk pertukaran mahasiswa.

Ada alasan khusus mengapa sebagian besar mahasiswa Australia memilih Indonesia?

Setiap mahasiswa memiliki alasan berbeda. Tetapi, ada pengetahuan mengenai Indonesia di kalangan akademisi sehingga membuat mereka memilih Indonesia. Ini kesempatan bagi mereka untuk mengenal langsung Indonesia. Mereka tahu mengenai Jakarta dan beberapa universitas di Indonesia.

Jadi prinsip luar negeri pemerintah Australia “lebih banyak mendekat ke Jakarta ketimbang Jenewa” benar-benar terwujud?

Saya pikir masyarakat Australia merasa lebih dekat ke Jakarta ketimbang ke Jenewa. Akan ada hubungan di antara komunitas kedua negara yang sering tidak diperhatikan. Jadi, itu tugas kami bagaimana cara untuk merekatkannya. (Ai)

 

Sumber : www.viva.co.id

%d blogger menyukai ini: