Sketsa News
Home Berita Terkini, Headlines, News Polemik: Idul Fitri NU dan Muhammadiyah Tanggal 17, Persis tanggal 18

Polemik: Idul Fitri NU dan Muhammadiyah Tanggal 17, Persis tanggal 18

Sketsanews.com – Polemik untuk berhari raya umat islam tahun ini masih ada. Muhammadiyah sudah menetapkan jauh hari bahwa Idul Fitri akan jatuh pada Jumat, 17 Juli mendatang

Penetapan Idul Fitri itu dilakukan bersamaan dengan penetapan awal Ramadan tahun ini. ”Jadi, kami sudah tetapkan lama soal itu,” ujar Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsudin sepert yang dilansir www.jawapos.com. Dengan demikian, Ramadan tahun ini hanya akan berlangsung selama 29 hari.

Dalam maklumat bertanggal 28 April 2015, Din menyatakan bahwa ijtimak atau konjungsi untuk penentuan Syawal terjadi pada 16 Juli pukul 08.26.29. Saat matahari terbenam di Jogjakarta, hilal sudah mewujud dengan ketinggian 3 derajat 22 menit 48 detik. ”Dan di seluruh wilayah Indonesia saat terbenam matahari itu, bulan berada di atas ufuk,” lanjutnya.

Sementara itu, Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin menyatakan, tahun ini ada dua kalender untuk penetapan Idul Fitri. ”Kalender Muhammadiyah 17 Juli, NU juga tanggal 17 (Juli). Kalau Persis (Persatuan Islam) 18 Juli,” ujarnya saat dikonfirmasi kemarin (7/7).

Pria kelahiran Purwokerto tersebut menjelaskan, pada dasarnya 16 Juli mendatang hilal sudah berada di atas ufuk, bahkan dengan ketinggian di atas 2 derajat. Dengan kondisi tersebut, kalender Muhammadiyah dan NU pun sama-sama menetapkan bahwa tanggal 16 sudah wujudul hilal sehingga Idul Fitri jatuh pada 17 Juli.

Namun, lanjut dia, ketinggian hilal tersebut masih kurang dari 3 derajat. ”Ketinggian hilal di bawah 3 derajat itu mustahil bisa dirukyat secara astronomi,” terang pria. Dengan begitu, potensi gagal rukyat bisa saja terjadi. Kalau gagal rukyat, dalam sidang isbat bisa terjadi perdebatan apabila muncul opsi Ramadan digenapkan 30 hari.

Sedangkan Persis menetapkan 1 Syawal jatuh pada 18 Juli karena punya kriteria yang berbeda pula. Yakni, hilal sudah harus setinggi 4 derajat. Posisi bulan pada 16 Juli belum memenuhi syarat tersebut sehingga 1 Syawal ditetapkan jatuh pada 18 Juli. Dengan demikian, peluang perbedaan pandangan saat sidang isbat 16 Juli mendatang masih ada.

Djamal mengingatkan Muhammadiyah agar tidak mudah mengklaim bahwa pihaknya menggunakan metode astronomi dalam menetapkan awal Ramadan maupun Syawal. Sebab, NU maupun Persis juga menggunakan metode astronomi. Hanya, kriteria yang digunakan berbeda.

Alumnus ITB itu juga meminta ormas-ormas Islam segera bersepakat menggunakan otoritas tunggal dalam menetapkan Ramadan dan Syawal, yakni pemerintah. Hal itu harus dilakukan demi menciptakan kalender Islam yang mapan.

Ada tiga hal yang harus disepakati untuk mewujudkan kalender Islam mapan. Yakni, otoritas tunggal, kriteria, dan batas wilayah. Saat ini baru batas wilayah yang telah disepakati, yakni Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Soal kriteria saat ini masih terus diupayakan agar bisa sama. Tinggal poin otoritas tunggal yang belum padu. Sebab, masih ada otoritas pimpinan ormas. ”Kalau otoritasnya sudah tunggal, nanti, saat penentuan Idul Fitri atau Idul Adha, walau kalendernya beda, itu keputusan pemerintah,” ucap dia.

%d blogger menyukai ini: