Sketsa News
Home Berita Terkini, Headlines, News, Opini Gunung Sinabung dan Kepemimpinan

Gunung Sinabung dan Kepemimpinan

Rumah korban Gunung Sinabung (beritadaerah.co.id)

Oleh : NUAH P TARIGAN, KETUA DEPARTEMEN SDM DAN LUAR NEGERI HIMPUNAN MASYARAKAT KARO INDONESIA (HMKI).

Begitu banyak keluh kesah yang tiada henti dari pengungsi letusan Gunung Sinabung, Karo, Sumatera Utara, yang tak terdengar baik oleh para penguasa maupun pemangku kepentingan rakyat lokal.

Banyak kelompok di luar kekuasaan sangat marah. Perumahan yang disediakan pemegang kekuasaan lokal dan semua yang terlibat belum menjawab semua. Rumah yang dibangun di Siosar ternyata tidak layak ditempati. Hanya dua penghuni di lokasi tersebut, itu pun tidak tinggal di sana. Untuk apa? Bangunan didirikan sia-sia karena drainase tidak ada. Sarana prasarana tak memenuhi syarat keamanan umum: tangga rusak, tidak dapat dinaiki dan dituruni.

Dari semua yang diungkap di atas secara singkat, kami menangkap ada satu masalah kepemimpinan lokal di Tanah Karo: tak mendengar dengan baik jerit- an rakyat Karo yang sedang menghadapi masalah. Bantuan dan pemberdayaan tak menyentuh relung hati, pikiran, bahkan fisik. Sebagai yang berkutat pada hal-hal terkait sumber daya manusia Indonesia dan kepemimpinan, kami melihat bahwa perubahan paradigma dalam konteks kepemimpinan yang bekerja sangat penting.

Pemerintahan Jokowi sudah menerapkannya dalam konteks nasional, tetapi tidak ditangkap dengan baik oleh kepemimpinan lokal. Di mana salahnya? Desentralisasi yang merajalela? Mentalitas? Kompetensi?

Lihat perbedaannya dengan (isu) Rohingya, yang tanpa sulit kita beri tempat layak. Namun, pengungsi “domestik”, yaitu suku Batak Karo atau sering disebut Karo saja, tidak dilayani dengan baik, bahkan oleh para “pemimpin” lokal. Apakah harus dengan paksaan terlebih dahulu dari pemerintah pusat dan rakyat, baru terjadi perubahan yang signifikan? Sangat memprihatinkan bahwa BNPB bekerja efektif, pusat memberi dukungan prima dan efektif, tetapi “pemimpin lokal” hanya berdiam diri dan tidak peduli sama sekali dengan tekanan psikis, fisik, dan—terutama—persamaan hak mereka dalam hidup.

Atau memang pemerintah lokal ingin menghabiskan mereka dengan perlahan-lahan? Atau memang ada lagi agenda tersembunyi pada penguasa dan pengusaha?

Sumber : doa-bagirajatega.blogspot.com

%d blogger menyukai ini: