Sketsa News

Siapa Sutiyoso ?

sutiyoso-sketsanews

Nama: Letnan Jenderal TNI (Purn.) Dr.(H.C.) H. Sutiyoso atau kerap disapa Bang Yos.
Lahir: Semarang, 6 Desember 1944 ( 70 tahun). Lahir diwilayah kolonial Jepang.
Istri: Setyorini
Anak: – Yessy Riana Dilliyanti
: – Renny Yosnita Ariyanti

KARIER :

Periode 1988-1992, ia menjabat Asisten Personil, Asisten Operasi, dan Wakil Komandan Jenderal Kopassus. Sosoknya mulai mencuat saat terpilih sebagai Komandan Resimen terbaik se-Indonesia ketika menjabat Kepala Staf Kodam Jaya pada 1994. Prestasi yang digenggamnya itu kemudian ikut menghantarkannya pada jabatan Panglima Kodam Jaya.

Ia juga dikenal akrab dikalangan militer, karena sebelumnya menjabat sebagai Komando Daerah Militer Jaya tahun 1996-1997 dan pernah menjadi Wakil Komandan  Koppasus. “Saya mantan intel Kopassus [Komando Pasukan Khusus],” kata Sutiyoso yang menutup karier militernya dengan pangkat Letnan Jenderal berbintang tiga.

Posisinya sebagai Panglima, kemudian merentangkan jalan menjadi gubernur. Gaya kepemimpinannya disebut-sebut banyak meniru mantan Gubernur Ali Sadikin. Ia dikenal di kalangan sipil karena menjabat sebagai Gubernur Jakarta selama dua periode (Oktober 1997-Oktober 2007). Sutiyoso dikenal masyarakat Jakarta dengan panggilan akrab, “Bang Yos.”

Sutiyoso menjabat sebagai Ketua Umum Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) sebelum dicalonkan sebagai Kepala BIN. Dengan semua latar belakang yang dimiliki, pria berumur 70 tahun ini yakin akan dapat menjalankan tugas baru memimpin Badan Intelijen Negara (BIN).

Letjen (Purn) Sutiyoso dinobatkan sebagai calon tunggal Kepala BIN yang dipilih oleh Presiden Jokowi pada 10 juni lalu untuk menggantikan Marciano Norman. Sutiyoso menyatakan siap menghadapi serangkaian uji kelayakan dan kepatutan tersebut. Dia juga mengaku siap dicecar terkait peristiwa Kudatuli. Banyak pihak menduga dirinya terlibat dalam peristiwa yang dianggap melanggar HAM.

Hambatan lain dari penunjukan calon KaBIN tunggal itu, diantaranya keberatan dari Partai Gerindra (Fadli Zon) tentang jabatan KaBIN yang di duduki oleh anggota partai, karena dianggap tidak netral. Akan tetapi Sutiyoso menyatakan telah melepas jabatan politiknya dari Ketua Umum Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI). Jabatan itu diserahkan kepada Mantan Bupati Kutai Timur Isran Noor. Uji kelayakan dilaksanakan Komisi I DPR RI sebagai mitra kerja BIN dan terakhir puncaknya di sidang paripurna persetujuan dan penetapan DPR atas nama yang sudah diajukan.

Ini untuk kali pertama juga Kepala BIN adalah Ketua Umum Partai. Sebelumnya, Kepala BIN umumnya berasal dari militer, terutama Angkatan Darat. Kepala BIN pernah berasal dari kepolisian saat Susilo Bambang Yudhoyono jadi presiden untuk periode pertama. Dia menunjuk mantan Kapolri Jenderal Polisi Soetanto menjadi Kepala BIN.

Penunjukan ini juga memancing reaksi di masyarakat. Purnawirawan TNI itu dinilai tidak pantas menjadi pembantu Presiden dibidang spionase politik, ekonomi dan keamanan, lantaran memiliki rekam jejak buruk dan tidak berintegritas. Penolakan itu disuarakan Aliansi Mahasiswa Anti Korupsi saat melakukan aksi demonstrasi di depan Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Koordinator aksi, Chusanudin berpendapat, posisi BIN dianggap strategis dalam mengawasi dan menyusun ekonomi, politik dan keamanan. Pendemo menolak Sutiyoso sebagai calon Kepala BIN karena bertentangan dengan semangat pemberantasan korupsi juga penuntasan pelaku pelanggaran HAM.

Berikut sejumlah dugaan pelanggaran hukum baik terkait dugaan masalah HAM maupun dugaan korupsi yang dilakukan oleh Sutitoso :

1. Dugaan korupsi fasilitas umum (fasum) dan fasilitas khusus (fasus) yaitu terkait pembangunan 68.400 rumah susun untuk kalangan tidak mampu. Dimana kedua program itu menyebabkan kerugian negara Rp. 13 Trilliun. Itu akibat mandeknya pembayaran dari pengembang pembangunan kedua fasilitas itu kepada Pemprov DKI Jakarta.

2. Dugaan korupsi pengadaan Busway tahun 2003-2004, dimana Sutiyoso mengorbankan Kepala Dinas Perhubungan Rustam Effendi dan Kepala Pengadaan Busway Sylvia Ananda. Harusnya, Sutiyoso juga terjerat akibat persetujuannya sebagai Gubernur saat itu. Kerugiaan negara mencapai Rp 63 milliar dari yang ditandangani Sutiyoso selaku Gubernur (1997-2007).

3. Pemasangan reklame di DKI Jakarta pada 2007-2008, melanggar proses lelang sesuai SK Gubernur nomor 37 tahun 2008 tentang pemasangan reklame. Selain itu juga ada dugaan pembiaran izin dan tumpang tindih perizinan pemasangan reklame dengan nilai Rp 925,5 juta. Kasus ini ditangani Kejaksaan Tinggi Jakarta.

Selain catatan kelam soal dugaan korupsi, Sutiyoso juga memiliki dosa masa lalu, diantaranya:

1. Pembantaian dan pengepungan kantor DPP PDIP pada tragedi 27 Juli 1996. Saat itu Sutiyoso selaku Pangdam Jaya.

2. Sutiyoso juga berada di belakang Kasus Tragedi Mei 1998 yang menewaskan Aktivis dan masyarakat sipil.

3. Penyerangan ormas kesukuan, Forum Betawi Rembuk (FBR) yang menyerang warga miskin di Kantor Komnas HAM, saat Sutiyoso menjabat Gubernur. Serta berbagai penggusuran tanpa relokasi selama kurun waktu 10 tahun (1997-2007).

Walaupun pencalonan Sutiyoso menjadi Kepala BIN menuai banyak kecaman dari berbagai banyak pihak, tapi Sutiyoso tetap optimistis untuk maju. Menurut dia, kepentingan bangsa jauh lebih penting daripada kepentingan politik dan diri sendiri. Sehingga ia beranggapan menjadi Kepala BIN adalah sebuah tugas negara. “Ini adalah harga mati bagi saya,”.

Kepala BIN, Marciano Norman di Istana Negara mengatakan, tidak pernah menyangsikan kompetensi intelijen Sutiyoso. Dia berharap dibawah kepemimpinan Sutiyoso, BIN akan semakin maju. Dikatakannya bahwa salah satu ancaman dunia global yang sedang dihadapi adalah perkembangan kelompok radikal. Sutiyoso harus memiliki program komprehensif dalam menghadapi dan menangkal ancaman kelompok itu, mampu menekan dan meniadakan link-up yang dapat menimbulkan instabilitas.

Agenda baru BIN : Sutiyoso

Dari apa yang disampaikan oleh Marciano Norman, dari tiga hal masalah yang menjadi perhatian Sutiyoso apabila lolos dari DPR, yaitu masalah pengaruh kelompok radikal diluar negeri yang dinilainya menjadi ancaman dunia global, termasuk Indonesia. Kelompok teroris telah ada di Indonesia dan  mampu diantisipasi dalam beberapa tahun belakang ini, yang akan menjadi bahaya apabila mereka mendapat dukungan penuh dari luar.

Berkaitan dengan ancaman terorisme di Indonesia, BIN bekerja sama dengan TNI membentuk Satuan Operasi Komando Khusus Gabungan sebagai pasukan elit. Karena pasukan ini terdiri dari prajurit pilihan dari setiap komando militer : Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara Indonesia. Indonesia akan meresmikan pasukan militer gabungan ini untuk menangkal terorisme dan menjaga stabilitas keamanan Indonesia pada tanggal 9 Juni. Peresmian pasukan khusus akan diikuti dengan satu hari latihan gabungan. Pasukan ini akan ditempatkan di Sentul, Jawa Barat.

Akan tetapi Krisbiantoro, Wakil Ketua Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) mengkritisi kembalinya militer dalam urusan ini. “Kenapa militer diberi peranan lebih besar lagi jika sampai sekarang pemerintah Indonesia belum berhasil menyelesaikan kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang melibatkan militer, militer harus dibatasi sehingga tidak mengulang kesalahan di masa lalu, katanya kepada BeritaBenar.

Sampai saat ini, militer Indonesia tidak memiliki peran formal dalam memerangi terorisme, dan beberapa analis melihat perubahan ini sebagai perluasan kekuasaan militer. Orde Baru dibawah pemerintahan Soeharto memiliki catatan buruk terhadap peranan militer. Militer digunakan oleh otoritarian rezim untuk memberikan kontrol, dominasi dan represi terhadap masyarakat. Teror diberikan kepada mereka yang menentang kebijakan pemerintah. Pada saat yang sama, penculikan, pembunuhan dan penembakan aktivis terus berlangsung. Kasus Mei 1998 adalah contoh nyata.

Selain bekerjasama dengan TNI, BIN juga menjalin kerjamasama dengan Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Tedjo Edhy Purdijatno dalam pengamanan cyber dari penyebaran ideologi radikal. Tedjo Edhy Purdijatno mengatakan, penangkalan ideologi radikal lewat internet perlu diperkuat, khususnya ideologi radikal ISIS. “Indonesia telah sepakat bahwa ideologi ISIS tidak boleh hidup dan berkembang, tetapi tanpa penguatan informasi dan technologi (cyber) kita akan kewalahan menangkal ideologi tersebut,” katanya kepada BeritaBenar.

“Kita tidak harus membatasi hak berbicara setiap individu, tetapi pemantauan terhadap situs radikal harus terus dilakukan, kalau perlu diretas. Karena kalau ideologi sudah mengakar akan lebih susah mengatasinya,” katanya.

Yang dilakukan BIN wajar karena Indonesia adalah salah satu negara pengguna internet terbesar di dunia yang dijadikan sasaran kelompok radikal untuk menyebarkan doktrin. Sutiyoso mempunyai alasan kuat untuk memperkuat keamanan cyber negara karena selain untuk menanggulangi menyebar luasnya faham radikal ISIS di Indonesia, BIN juga akan mencegah informasi negara bocor. Menurutnya negara lain sudah menggunakan IT dengan kualitas sangat canggih. “Kalau Indonesia tak punya alat yang super canggih, BIN akan jebol terus, komunikasi presiden dan pejabat tinggi negara disadap, dan kita bisa protect komunikasi pejabat tinggi,”

Perjalanan karir sebagai calon Kepala BIN, hingga saat ini Sutiyoso telah menjalani uji kelayakan yang dilakukan oleh DPR tanggal 30 Juni lalu, sebagai syarat pengangkatan Kepala BIN berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2011. Anggota dewan mencecar dengan berbagai pertanyaan seputar isu ideologi, separatisme, ekonomi, partai politik, dan terorisme, termasuk agenda untuk memerangi ISIS.

Selain tantangan menanggulangi radikalisme dan terorisme, Sutiyoso mempunyai masalah lain yaitu masalah pilkada serentak yang akan dilaksanakan akhir tahun 2015. Pilkada adalah ranah politik, dimana dari pengalaman pilkada yang lalu, selalu terjadi timbulnya rasa tidak puas mereka yang kalah. Lantas, bagaimana apabila terjadi kekisruhan dan konflik meluas sebagai akibat pilkada? Inilah yang diwaspadai oleh Sutiyoso.

Penulis tertarik dengan pernyataan Wapres Jusuf Kalla. Dalam sambutannya di pembukaan seminar nasional pra muktamar Muhammadiyah ke-47 di Universitas Muhammadiyah. JK menyinggung soal jatuhnya pemimpin negara dari kursi presiden. Menurut JK, Presiden bisa jatuh disebabkan oleh faktor ekonomi dan politik yang terjadi secara bersamaan. Ia mencontohkan, kondisi ini terjadi saat masa pemerintahan Soekarno dan Soeharto.

Rata-rata semua presiden jatuh itu karena dua hal, krisis ekonomi dan politik. Bung Karno jatuh karena harga bensin dan beras naik. Kemudian diikuti politik. Presiden Soeharto juga sama, harga-harga naik dan kemudian krisis politik. Pemerintah pun akan jatuh jika krisis ekonomi dan politik terjadi bersamaan. Namun, pemicu utama lengsernya sebuah pemerintahan lebih disebabkan oleh faktor ekonomi ketimbang faktor politik.

Masih berkaitan dengan pilkada serentak akhir tahun 2015 mendatang, BIN atas saran dari Presiden Jokowi akan melakukan pembenahan organisasi. Meningkatkan efektifitas BIN dan melakukan rekrutmen personal besar-besaran untuk menanggulangi masalah saat terjadinya pilkada serentak termasuk dalam menangkal terorisme di Indonesia.

Kepada wartawan Sutiyoso menjelaskan bahwa BIN membutuhkan paling tidak 5.000 personel. Sejauh ini BIN baru mempunyai 1.975 personal terdiri dari berbagai bidang keilmuan yang tersebar di seluruh Indonesia. BIN akan menambah 1.000 personal lagi dengan kualifikasi dari berbagai disiplin ilmu.

Bos mata-mata Indonesia, Sutiyoso siap merekrut wartawan untuk jadi personel intelijen alias cepu –sebutan informan–. Penambahan pesonel tersebut merupakan prioritas yang harus segera dilakukan. “Prioritas pertama adalah menambah personel, itu yang pasti. Wartawan kalau yang mau silakan,” terang Kepala Badan Intelejen Negara (BIN) Sutiyoso di Kompleks Kepresidenan, Rabu (8/8/2015).

“Dari ribuan angka itu bisa dicomot dari sejumlah elemen, misal TNI dan Polri, bisa saja dari masyarakat sipil. Bersiap-siap lah yang memiliki diploma satu,” ungkap Bang Yos.

Sedangkan menurutnya, untuk menghadapi berbagai tantangan dan tugas yang harus diemban, BIN membutuhkan setidaknya 5.000 orang dari berbagai bidang keahlian. Untuk menambah kualitas personal, BIN berencana akan menyekolahkan lagi para personal BIN. Bahkan ada yang ditargetkan sampai pasca sarjana demi kualitas setiap individu personal. Sesuai saran Marciano Norman terhadap Letjen (Purn) Sutiyoso untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia dan peningkatan alat khusus yang dimiliki lembaga mata-mata tersebut. “Saya sarankan itu untuk penguatan di internal BIN. Penguatan itu dari sisi kualitas SDM dan peningkatan alat peralatan khusus yang harus dimiliki oleh BIN,” ujar Marciano di Gedung DPR, Jakarta, Senin (15/6/2015).

VISI & MISI SUTIYOSO

Sutiyoso menyampaikan visi dan misinya di hadapan Komisi I DPR, Selasa (30/6/2015). Visi tersebut akan diterapkan Sutiyoso jika dirinya memimpin BIN. “Membangun BIN yang tangguh dan profesional yang mampu menyediakan intelijen secara cepat, tepat dan akurat dalam rangka deteksi dini untuk mencegah, menangkap, dan menanggulangi segala bentuk ancaman yang membahayakan eksistensi, keutuhan, keamanan dan kepentingan nasional,” kata Sutiyoso di Kompleks Parlemen.

“BIN yang tangguh dan profesional itu tentu dalam semua aspek. Mulai dari struktur organisasinya, SDM-nya, kegiatan dan operasinya serta peralatannya. Semua harus dibangun agar kita menjadi modern, maju, sejahtera dan menjadi intelijen terbaik di dunia,” tambah Sutiyoso.

Dalam pemaparan visi misi, Sutiyoso juga mengatakan ketangguhan dan profesionalitas BIN mutlak harus dicapai. “Ketangguhan dan profesionalisme di atas sangat mutlak dilakukan guna menghasilkan intelijen yang cepat, tepat dan akurat. Dan ketiga unsur ini harus dipenuhi secara simultan,” ujar mantan Ketua Umum PKPI.

Letjen (Purn) Sutiyoso menjalani fit and proper test sebagai calon Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) di Komisi I DPR RI. Sutiyoso menyampaikan visinya secara terbuka, sedangkan untuk misinya, Sutiyoso meminta penyampaiannya bersifat tertutup untuk publik.
Untuk misi dia meminta digelar tertutup dengan alasan misi tersebut harus rahasia dari publik.

Visi itu nantinya diterjemahkan ke dalam 11 butir misi mulai dari penguatan koordinasi intelijen negara hingga modernisasi peralatan. Ia mengklasifikasi program kerjanya ke dalam delapan program, salah satunya terkait penguatan kelembagaan BIN. Namun, dalam pemaparan misi tersebut, Komisi I menggelar pembahasan secara tertutup atas permintaan Sutiyoso.

Berikut beberapa visi yang disampaikan Sutiyoso :

Membangun BIN yang tangguh dan profesional yang mampu menyediakan intelijen secara cepat tepat dan akurat dalam rangka deteksi dini untuk cegah, tangkal, dan menanggulangi segala bentuk ancaman yg membahayakan eksistensi, keutuhan, keamanan, dan kepentingan nasional.

BIN yang tangguh dan profesional tentu dalam semua aspek. Mulai dari struktur organisasi, sumber daya manusia, kegiatan, dan operasinya hingga peralatannya. Semua arus dibangun secara modern, maju, sejalan dengan standar terbaik intelijen dunia. Ketangguhan dan profesionalisme sangat mutlak dibutuhkan untuk hasilkan intelijen cepat tepat dan akurat. Ketiga unsur itu harus dipenuhi secara simultan.

Visi itu saya (Sutiyoso) terjemahkan ke 11 butir misi mulai penguatan koordinasi intelijen negara hingga moderniasisi peralatan. Program yang dirumuskan terdiri delapan program salah satunya penguatan kelembagaan BIN yang meliputi tujuh bagian.

Dan akhirnya pada hari Rabu, 8 Juli 2015 Presiden Joko Widodo (Jokowi) secara resmi telah melantik Letjen (Purn) Sutiyoso sebagai Kepala Badan Intelijen Negara (BIN). Acara dilakukan setelah beberapa saat Presiden melantik Jenderal Gatot Nurmantyo sebagai Panglima TNI.

Setelah acara pelantikan ketua agen mata-mata “tertua” di Indonesia ini, sedikitnya 500 relawan yang mendukung Jokowi menjadi Presiden menggelar syukuran di kediaman Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) terpilih, Sutiyoso di Jl. Kalimanggis No.100 RT 001 Rw 005, Jatikarya Jaka Sampurna, Bekasi, Jawa Barat, Minggu (5/7/2015). Relawan yang berasal dari berbagai pelosok nusantara itu syukuran atas terpilihnya Sutiyoso untuk memimpin BIN. Selain syukuran dan ramah tamah, mereka juga melakukan buka puasa bersama dengan anggota relawan lainnya.

Ketua panitia acara syukuran, Camel Panduwinata Lubis mengatakan, kegiatan syukuran ini murni untuk relawan. Tidak ada pejabat tinggi yang datang pada acara syukuran yang diisi dengan buka puasa tersebut. “Ini murni kegiatan relawan yang mendukung Bang Yos jadi Kepala BIN,” kata Camel disela acara syukuran.

Walaupun Sutiyoso sudah resmi menjadi kepala mata-mata sebuah negara yang berlambangkan burung garuda itu, akan tetapi masih banyak pihak yang meragukan kemampuannya. Banyak yang berharap, terpilihnya Sutiyoso sebagai kepala BIN tidak menjadikan BIN mundur ke belakang dalam early warning system dan Sutiyoso masih mempunyai kepekaan sebagai perwira intel. Karena memang sudah lama Sutiyoso tidak berada dalam sistem militer.

Pengamat militer, Susaningtyas Kertopati mengatakan intelijen adalah mata dan telinga Presiden. Oleh karena itu, Kepala BIN dibutukan sosok atau figur yang mempunyai kecocokan dengan presiden dan juga menjiwai visi misi yang diemban oleh pemerintah yang dipimpinnya. Dia menjelaskan, intelijen dalam lingkup BIN, penguatan kapasitas dan kapabilitas intelijen harus dilengkapi dengan pelatihan dan pendidikan. Jadi bukan semata terkait soal intel intai dan tempur (Taipur). Oleh karena itu BIN kedepan mempunyai tantangan jauh lebih berat lagi seperti ancaman terorisme dan separatisme semakin besar, apalagi semakin terbukanya pengaruh asing melalui cyber. “Pasalnya kian kedepan sistem keaman dan pertahanan negara kian luas dan makin kompetitif,” ungkapnya.

Kemudian banyak juga yang kecewa dengan pelantikan Sutiyoso lantaran dipilihnya Sutiyoso oleh Presiden Ir. Joko Widodo (Jokowi) dan disetujuinya pencalonan tersebut oleh Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI secara aklamasi. Maka mantan Ketua Umum Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) itu akan menjadi Kepala BIN paling “sepuh” dalam sejarah lembaga rahasia negara tersebut. Tidak hanya di Indonesia, bahkan menjadi kepala intelejen tertua di dunia.

Pada lembaga intelejen dunia seperti, FBI, CIA, NSA, MOSSAD atau yang lainnya, kepala lembaga atau direktur utama selalu diangkat pada usia antara 45 hingga 60 tahun. Para direktur tersebut akan diganti saat usia mereka mencapai 67 tahun.

Kendati sudah terkategori sepuh, tapi sutiyoso membenarkan apa yang dia sampaikan saat menghadiri acara buka puasa bersama, di rumah dinas Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani. Sutiyoso saat itu mengatakan usia bukan halangan baginya. “Saya tua gini, tapi masih macho. Usia boleh 70 tahun, tapi semangat dan jiwa saya masih setingkat usia 50 tahunan. Itu akan saya buktikan,” kata Sutiyoso.

Akan tetapi, menurut analisa dari beberapa pengamat bahwa pengangkatan Sutiyoso dianggap objektif ditengah dua kepentingan yang ada di Istana. Di istana ada dua kubu, yakni Luhut Binsar Panjaitan dan AM Hendropriyono. Kedua kubu itu saya dengar mengusulkan jagoannya masing-masing untuk jadi KaBIN. Tapi Jokowi memilih Sutiyoso yang tidak diusulkan oleh kedua kubu, dipilihnya Sutiyoso untuk mengelola BIN tanpa sponsor dan promotor. Hal itu merupakan signal dari Jokowi untuk Sutiyoso agar lebih leluasa dalam memberikan masukan kepada presiden nantinya. Kendala yang akan terjadi jika KaBIN berasal dari usulan Luhut atau Hendro, pasti ada ganjalan psikologis bagi KaBIN untuk bicara dengan presiden.

Lepas dari itu semua, ada hal yang menarik dalam pengangkatan Jenderal TNI Gatot Nurmantyo sebagai Panglima TNI dan Letnan Jenderal TNI (Purn) Sutiyoso sebagai Kepala Badan Intelijen Negara (BIN). Pengangkatan dua petinggi TNI AD tersebut akan sangat menguntungkan posisi Presiden Joko Widodo di pemerintahan. Hal ini disebabkan karena Presiden Joko Widodo belum berhasil melakukan konsolidasi politik. Karena itu, Jokowi berusaha mendekati kelompok militer khususnya TNI Angkatan Darat untuk membangun sebuah kekuatan baru yang mungkin disegani oleh pihak-pihak lain di luar pemerintahan. Atau bahasa kasarnya untuk mencari dekengan / perlindungan dari pihak-pihak yang tidak di inginkan. Karena TNI AD sendiri adalah salah satu lembaga yang memiliki organisasi yang paling solid di Indonesia.

Referensi :
1. [//www.benarnews.org/indonesian/berita/sutiyoso-bin-pertahanan-cyber-07022015162938.html]
2. [//www.cnnindonesia.com/politik/20150616214358-32-60441/fadli-zon-tampik-bakal-jegal-sutiyoso-jadi-kepala-bin/]
3. [//nasional.sindonews.com/read/924420/12/rencana-jokowi-angkat-sutiyoso-jadi-kepala-bin-dapat-penolakan-1415966249/]
4. [//nasional.sindonews.com/read/924420/12/rencana-jokowi-angkat-sutiyoso-jadi-kepala-bin-dapat-penolakan-1415966249/1]
5. [//nasional.sindonews.com/read/924420/12/rencana-jokowi-angkat-sutiyoso-jadi-kepala-bin-dapat-penolakan-1415966249/1]
6. [//m.tribunnews.com/nasional/2015/06/30/sutiyoso-saya-sudah-mengundurkan-diri-dari-pkpi]
7. [//ramalanintelijen.net/]
8. [//www.benarnews.org/indonesian/berita/pasukan-gabungan-tni-akan-diresmikan-06082015164120.html]
9. [//www.benarnews.org/indonesian/berita/sutiyoso-bin-pertahanan-cyber-07022015162938.html]
10. [file:///F:/Calon%20BIN%20Sutiyoso%20Akan%20Menguatkan%20Sistem%20Pertahanan%20Cyber%20Untuk%20Menangkal%20ISIS.html]
11. [//www.lensaindonesia.com/2015/07/08/bos-intel-segera-rekrut-wartawan-jadi-cepu.html#r=bacajuga]
12. [//www.kaskus.co.id/thread/559b31b9947868707c8b456c/wawww–bin-cari-1000–5000-spion-baru-kayaknya-ahli-it-amp-hacker-prioritas-tuh/]
13. [//utama.seruu.com/read/2015/06/30/250956/ini-visi-misi-sutiyoso-jika-menjadi-kepala-bin]
14. [//www.suara.com/news/2015/06/30/152910/ini-rencana-sutiyoso-kalau-jadi-kepala-bin]
15. [file:///F:/Pendalaman%20Visi%20dan%20Misi%20Calon%20Kepala%20Bin%20Tertutup%20-%20Tribunnews%20Mobile.html]
16. [//nasional.harianterbit.com/nasional/2015/07/05/34311/0/25/Jadi-KaBIN-Sutiyoso-Syukuran-Bareng-Relawan]
17. [file:///F:/Ditunjuk-Sebagai-Kepala-BIN-Kemampuan-Sutiyoso-Diragukan.htm]

Penulis : Adi Pamungkas

%d blogger menyukai ini: