Sketsa News
Home Berita Terkini, Headlines, News Insiden Tolikara, dilakukan secara sistematis?

Insiden Tolikara, dilakukan secara sistematis?

163815_177085038998528_4596111_n
Sketsanews – Sepekan paska penyerangan jamaah yang hendak menunaikan shalat ied di Tolikara, Papua dan pembakaran musala serta kios, banyak fakta yang telah terungkap. Diantaranya, adanya surat edaran pelarangan ibadah yang disebar beberapa hari sebelum kejadian. Adanya surat pelarangan tersebut telah diakui dikeluarkan oleh pihak GIDI.

Berdasarkan hal tersebut, Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Aboe Bakar Habsy mengungkapkan pennyerangan tersebut dilakukan secara sistematik. “Ini merupakan salah satu indikasi penyerangan dan pembakaran tersebut dilakukan secara terencana dan sistematis. Apalagi ada indikasi keterlibatan asing dalam persoalan ini sebagaimana disampaikan kepala BIN dan BNPT dalam berbagai media,” ungkapnya kepada wartawan sebagaimana diberitakan www.rimanews.com jumat (24/7/2015)

Oleh karenanya, lanjut Aboe, aparat penegak hukum harus menelusuri aktor intelektual dibalik insiden tolikara tersebut. Ia meminta polisi jangan hanya menindak para pelaku di lapangan saja, tetapi mengusut tuntas siapa saja yang merencanakan, mendanai dan memberikan dukungan terhadap penyerangan dan pembakaran Masjid Tolikara.

“Pengusutan tuntas aktor intelektual dibalik insiden Tolikara akan menunjukkan adanya kedaulatan hukum yang dimiliki oleh pemerintah Indonesia,” ujarnya.

Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu, mengapresiasi langkah Kapolri Jenderal Badrodin Haiti yang menyebut yang langsung menyebut para pelaku penyerangan dan pembakaran tersebut sebagai pelanggar konstitusi.”Saya mengapresiasi ketegasan Kapolri,” kata Aboe Bakar

Setidaknya, kata Aboe ada tiga tindak pidana yang dilakukan, pertama melakukan pelarangan beribadah kepada umat Islam. Kemudian, kedua melakukan penyerangan terhadap umat Islam yang sedang shalat ied. Lalu, ketiga adalah pembakaran rumah ibadah. Bahkan, menurutnya, ada lembaga swadaya masyarakat yang mengkategorisasikan hal itu sebagai tindakan pelanggaran HAM berat.

“Segera tangkap dan proses mereka secara hukum, jangan sampai masyarakat melihat polisi hanya berlaku tegas terhadap FPI saja,” tandasnya.(ki)

%d blogger menyukai ini: