Sketsa News
Home Berita Terkini, News Hasyim Muzadi Minta Muktamirin tak Membuat Muktamar Tandingan

Hasyim Muzadi Minta Muktamirin tak Membuat Muktamar Tandingan

mantan-ketua-umum-pengurus-besar-nadhlatul-ulama-pbnu-kh-_141111130651-861
Sketsanews.com – Mantan Ketua PBNU KH Hasyim Muzadi meminta pendukungnya tidak menggelar muktamar tandingan, terlebih lagi membentuk NU tandingan karena akan merusak organisasi yaang didirikan para ulama tersebut.

“Jangan buat muktamar tandingan, NU tandingan. Itu akan merusak NU sehingga sulit dibenahi,” kata Hasyim kepada ratusan pengurus PWNU dan PCNU yang menggelar rapat di Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur, seperti dikutip www.antaranews.com

Pernyataan Hasyim adalah respons atas gelombang keluhan yang sebelumnya disampaikan sejumlah kelompok muktamirin. Muktamirin tidak puas dengan persidangan laporan pertanggung jawaban (LPJ) PBNU. Menurut Hasyim, jika memang muktamirin tidak puas dengan proses Muktamar, bisa ditempuh mekanisme koreksi.
Menurut Hasyim, ketidakpuasan muktamirin bisa disalurkan melalui sejumlah langkah. Sebab, pascademisioner, PBNU tidak ada lagi. Dengan begitu, pemilik otoritas adalah organisasi tingkat wilayah (provinsi) dan cabang (kabupaten/kota) .

Ia mengingatkan bahwa NU memegang kaidah mencegah kerusakan harus didahulukan dari mengejar kebaikan.

Hasyim menolak keinginan PWNU dan PCNU untuk mencalonkannya sebagai rais aam melalui forum tersebut. Ia juga menegaskan agar forum itu tidak memilih rais aam.

ia tidak mau dibenturkan dengan ulama. “Jangan ada pemilihan rais aam. Kalau anda lakukan, itu membentur ulama-ulama. Saya tak mau berbenturan dengan ulama. Penyakitnya bukan ulama, tetapi kelompok yang merekayasa,” tandas dia.

“Silakan unek-unek diungkap dan dibahas di sini, tapi jangan bikin muktamar apalagi NU tandingan,” kata Hasyim sebelum meninggalkan ruangan rapat.
sementara itu, seperti yang dilansir republika.co.id, ketua Panitia Daerah Muktamar ke-33 NU, Saifullah Yusuf mengakui, sesi penyampaian LPJ pada Selasa (4/8), tidak diikuti dengan sesi pandangan umum dari muktamirin. Menurut dia, keputusan pimpinan sidang menutup persidangan tanpa pandangan umum karena melihat semua peserta menyetujui pandangan umum yang disampaikan Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siradj.

Saifullah berpendapat, keputusan yang diambil pimpinan sidang bersifat spontan karena optimisme mereka bahwa semua muktamirin menerima pertanggung jawaban yang disampaikan. “Sudah ada koordinasi sebelumnya, pandangan umum, bisa dilakukan melalui pertemuan-pertemuan informal atau secara tertulis,” ujar Saifullah
(ki)

%d blogger menyukai ini: