Sketsa News
Home Berita Terkini, Headlines, Opini Pendidikan Tak Mendidik

Pendidikan Tak Mendidik

mos
Masa orientasi siswa tahun ajaran baru ini diwarnai sejumlah berita tak sedap. Ada kejadian yang memalukan, ada kejadian yang mengakibatkan luka, bahkan ada yang lebih parah lagi yaitu kematian.

Sejak lama tradisi masa orientasi siswa baru diisi dengan kegiatan yang tidak terkait pendidikan, bahkan rawan berujung terjadi kekerasan. Terlebih lagi ketika struktur kegiatan orientasi siswa diserahkan kepada para senior (kakak kelas). Alhasil, masa orientasi diwarnai dengan tugas-tugas aneh yang merepotkan (kadang nyaris mustahil), atribut memalukan untuk dikenakan, dan hukuman-hukuman fisik.

Pada masa orientasi yang demikian, gambaran masuk sekolah baru diwarnai rasa mendebarkan, menakutkan, dan menyiksa bagi murid baru. Tujuan dari orientasi siswa baru yang sesungguhnya pun tidak akan tercapai.

Padahal, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebenarnya sudah mengimbau agar kegiatan masa orientasi siswa kembali ke “jalan yang benar”, antara lain lewat Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 55 Tahun 2014 tentang Masa Orientasi Peserta Didik Baru di Sekolah.

Pasal 2 aturan pemerintah itu menyatakan bahwa masa orientasi peserta didik bertujuan untuk mengenalkan program sekolah, lingkungan sekolah, cara belajar, penanaman konsep pengenalan diri peserta didik, dan kepramukaan sebagai pembinaan awal ke arah terbentuknya kultur sekolah yang kondusif bagi proses pembelajaran lebih lanjut.

Pasal 3 (1), “Sekolah dilarang melaksanakan masa orientasi peserta didik yang mengarah kepada tindakan kekerasan, pelecehan dan/atau tindakan destruktif lainnya yang merugikan peserta didik baru baik secara fisik maupun psikologis baik di dalam maupun di luar sekolah”. Bahkan, sekolah dapat kena sanksi jika melanggar aturan itu.

Lalu, mengapa masih diterapkan MOS yang seperti itu? Apakah ini memang pendidikan yang diajarkan untuk mental anak Indonesia?(Su).

%d blogger menyukai ini: