Sketsa News
Home Berita Terkini, News Mathla’ul Anwar : Dari Muktamar XIX, Sejarah Berdirinya, Rekomendasi dan Petuah Jokowi

Mathla’ul Anwar : Dari Muktamar XIX, Sejarah Berdirinya, Rekomendasi dan Petuah Jokowi

“Jemaah Mathla’ul Anwar yang cukup besar dan tersebar di berbagai provinsi juga harus terus memperjuangkan nilai Islam yang menjaga ke-Indonesia-an dan menegakkan nilai-nilai kemanusiaan dan menolak segala bentuk radikalisme yang mengatasnamakan keagamaan,” pesan Jokowi dilansir rol.co.id (09/09/2015).

“Saya ucapkan terima kasih kepada sesepuh, alim ulama, dan keluarga besar Mathla’ul Anwar dalam peran aktifnya mencerdaskan umat di seluruh tanah air. Sebagai ormas terbesar dan tertua di tanah air, Mathla’ul Anwar memiliki modal sosial dan kultural yang besar bagi mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia,” ucapnya

Presiden Jokowi juga berharap, berbagai lembaga pendidikan yang berada dalam naungan MA, mampu menyelaraskan antara pemahaman keagamaan dan ilmu pengetahuan umum, untuk mendukung pemberdayaan masyarakat di berbagai aktivitas ekonomi dan implementasi Islam yang toleran, moderat, menjunjung tinggi kebhinnekaan, menjaga Indonesia dan menolak kekerasan atas nama agama.

Semua modal yang dimiliki MA, diyakini, dapat diterapkan secara signifikan dalam mengatasi berbagai ujian yang kita hadapi, dalam rangka penguatan jati diri kita sebagai masyarakat yang religius, santun, berkemampuan dan bermartabat, sebagai perwujudan dari Islam rahmatan lil alamin untuk menuju kesebuah tatanan yang baldatun thoyyibatun wa Robbun Ghofur.

Kepala Negara mengaku sangat mengapresiasi kiprah MA selama ini, khususnya dalam bidang pendidikan, dakwah, dan sosial. Presiden berharap alumni yang sempat dididik di MA juga bisa memiliki misi untuk turut menyukseskan pembangunan dengan jiwa kewirausahaan. “Kita ingin makin banyak alumni Mathla’ul Anwar menyukseskan kegiatan ekonomi,” katanya.

Muktamar Mathla’ul Anwar ke XIX dibuka Presiden Joko Widodo di Alun-aluk Kabupaten Pandeglang pada Sabtu (8/8). KH Sadeli Karim kembali terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Mathla’ul Anwar periode 2015-2020 melalui musyawarah dan mufakat dalam Muktamar ke XIX Ormas Islam itu. Dalam kunjungannya presiden didampingi Menko Polhukam Tedjo Edy Purdijanto, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa dan Kepala BIN Sutiyoso.

***

Logo_Mathlaul_Anwar

Rekomendasi pada Muktamar Mathla’ul Anwar XIX : Dua pendiri diusulkan menjadi pahlawan nasional

Dua pendiri Mathla’ul Anwar, yaitu KH Syeh Nawawi Albantani dan KH Mas Aburahman diusulkan menjadi pahlawan nasional. Penilaian itu didasari bahwa selain sebagai guru bangsa, kedua tokoh ulama Banten tersebut juga turut serta dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Usulan ini merupakan salah satu rekomendasi yang dihasilkan pada Muktamar Mathla’ul Anwar XIX di Pandeglang, Banten, Minggu (9/8). Dua sosok tersebut berperan besar dalam memajukan dunia pendidikan di Banten. Bahkan, perannya sudah menasional.

“Usulan ini merupakan bentuk penghargaan kami terhadap kiprah dua sosok tersebut dalam memajukan Banten, dan Indonesia pada umumnya,” kata Anggota Komisi Bidang Rekomendasi H. Aat Surya Syafaat didampingi Anggota Komisi Udin Saparudin dilansir Radar Banten (Grup JPNN.com), Minggu (9/8)

***

 

Latar Belakang Ormas Islam Mathla’ul Anwar

Di bawah kekuasaan Belanda rakyat Banten bukan bertambah baik, malah semakin melarat dan terbelakang. Kondisi ini hampir dialmai oleh seluruh rakyat di seluruh nusantara.

Di tengah hiruk pikuknya dan galaunya kemungkaran di dalam masyarakat yang dilanda kemiskinan, kebodohan dan kejumudan yang diselimuti pula oleh kabut kegelapan dan kebingungan muncullah seberkas sinar harapan yang diharapkan akan membawa perubahan di hari kemudian.

Tersebutlah K.H.E. Moh. Yasin yang baru kembali dari menghadiri rapat yang diselenggarakan di Bogor oleh para ulama yang mendambakan kahidupan umat yang lebih baik. Gerakan ini dipelopori oleh Haji Samanhudi dalam rangka mendirikan Syarikat Dagang Islam (SDI) pada tahun 1908 M. Beliau mendatangi rekan-rekan ulama yang ada disekitar Menes, antara lain Kyai H. Tb. Moh. Sholeh dari kampung Kananga dan beberapa orang kyai lainnya. Tujuan pertemuan tersebut adalah untuk bermusyawarah dan bertukar pikiran, yang akhirnya melahirkan kata sepakat untuk membentuk suatu majelis pengajian yang diasuh bersama. Pengajian ini juga dijadikan lembaga muzakarah dan musyawarah dalam me-nanggulangi dan memerangi situasi gelap itu ialah dengan harapan muncul seberkas sinar, yang kemudian menjadi nama MATHLA’UL ANWAR (bahasa Arab, yang artinya tempat lahirnya cahaya).

Militansi K.H. Entol Moh. Yasin dari Kaduhawuk, Menes ini tak pernah memudar dalam keinginan untuk memajukan umat melalui pendidikan. Beliau menghendaki kemajuan umat hanya mungkin melalui pendidikan. Bukankah Nabi Muhammad SAW bersabda : “Barang siapa yang menginginkan dunia haruslah dengan ilmu, barangsiapa meng-inginkan akhirat haruslah dengan ilmunya, dan barang siapa yang menginginkan keduanya haruslah dengan ilmu”. Dan hadits yang lain : “Ilmu itu adalah cahaya”.

Beranjak dari sini agaknya pertemuan, akhirnya melahirkan sebuah kata sepakat untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan Islam yang dikelola dan diasuh secara jama’ah dengan mengkordinasikan berbagai disiplin ilmu, terutama ilmu Islam yang dianggap merupakan kebutuhan yang mendesak.

Perjuangan mengangkat dan membangkitkan umat dari lembah kegelapan dan kemiskinan yang menimbulkan keterbelakangan, tidak cukup sekedar dengan mengadakan pengajian bagi generasi tua saja. Untuk itu dituntut langkah lebih lanjut lagi, yaitu lahirnya generasi berikutnya yang justru merupakan sasaran utama yang diharapkan mampu mengubah situasi (min al zhulumati ila al nur).

 

Berdirinya Mathla’ul Anwar

Guna mencari pemecahan masalah tersebut, para kyai mengadakan musyawarah di bawah pimpinan KH. Entol Mohamad Yasin dan KH. Tb. Mohamad Sholeh serta para ulama yang ada di sekitar Menes, bertempat di kampung Kananga. Akhirnya, setelah mendapatkan masukan dari para peserta, musyawarah mengambil keputusan untuk memanggil pulang seorang pemuda yang sedang belajar di Makkah al Mukarramah. Ia tengah menimba ilmu Islam di tempat asal kelahiran agama Islam kepada seorang guru besar yang juga berasal dari Banten, yaitu Syekh Mohammad Nawawi al Bantani.

Ulama besar ini diakui oleh seluruh dunia Islam tentang kebesarannya sebagai seorang fakih, dengan karya-karya tulisnya dalam berbagai cabang ilmu Islam. Siapakah pemuda itu ? Dialah KH. Mas Abdurrahman bin Mas Jamal, yang lahir pada tahun 1868, di kampung Janaka, Kecamatan Jiput, Kawedanaan Caringin, Kabupaten Pandeglang, Karesidenan Banten.

KH. Mas Abdurrahman bin KH. Mas Jamal kembali dari tanah suci sekitar tahun 1910 M. Dengan kehadiran seorang muda yang penuh semangat untuk berjuang mengadakan pembaharuan semangat Islam, bersama kyai-kyai sepuh, dapatlah diharapkan untuk membawa umat Islam keluar dari alam gelap gulita ke jalan hidup yang terang benderang, sesuai ayat al-Qur’an “Yukhriju hum min al dzulumati ila al nur”.

Pada tanggal 10 bulan ramadhan 1334 H, bersamaan dengan tanggal 10 Juli 1916 M, para Kyai mengadakan suatu musyawarah untuk membuka sebuah perguruan Islam dalam bentuk madrasah yang akan dimulai kegiatan belajar mengajarnya pada tanggal 10 Syawwal 1334 H/9 Agustus 1916 M. Sebagai Mudir atau direktur adalah KH. Mas Abdurrahman bin KH. Mas Jamal dan Presiden Bistirnya KH.E. Moh Yasin dari kampung Kaduhawuk, Menes, serta dibantu oleh sejumlah kyai dan tokoh masyarakat di sekitar Menes.

Selengkapnya para pendiri Mathla’ul Anwar :

  • Kyai Moh. Tb. Soleh
  • Kyai E.H. Moh Yasin
  • Kyai Tegal
  • Kyai H. Mas Abdurrahman
  • K.H. Abdul Mu’ti
  • K.H. Soleman Cibinglu
  • K.H. Daud
  • K.H. Rusydi
  • E. Danawi
  • K.H. Mustagfiri

Adapun tujuan didirikannya Mathla’ul Anwar ini adalah agar ajaran Islam menjadi dasar kehidupan bagi individu dan masyarakat. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka disepakati untuk menghumpun tenaga-tenaga pengajar agama Islam, mendirikan madrasah, memelihara pondok pesantren dan menyelenggarakan tablig ke berbagai penjuru tanah air yang pada saat itu masih dikuasai oleh pemerintah jajahan Belanda. Pemerintah kolonial telah membiarkan rakyat bumi putra hidup dalam kebodohan dan kemiskinan.

Googling :

 

***In***

 

 

%d blogger menyukai ini: