Sketsa News
Home Berita Terkini, News Kebijakan Gegabah Picu Krisis Daging

Kebijakan Gegabah Picu Krisis Daging

21448_19053_11-08-KDR-Harga-daging-(2)
Sketsanews.com – Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) akhirnya memilih jalan praktis untuk mengatasi seretnya pasokan daging sapi, yakni membuka keran impor sapi. Badan Urusan Logistik (Bulog) yang diserahi tugas mendatangkan sapi-sapi impor menjanjikan sapi impor mulai masuk Indonesia dua minggu lagi.

Tindakan cepat impor sapi tersebut didukung penuh kalangan peternak sapi lokal. Hanya, para peternak yang tergabung dalam (PPSKI) itu menyayangkan

Ketua Umum Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia PPSKI Teguh Boediyana menyayangkan kebijakan pengaturan impor selama ini tidak dilandasi data pasokan (supply) dan permintaan (demand) yang valid. ”Hal itu mengakibatkan kuota impor sapi diputuskan berdasar kebutuhan politik,” ucapnya di Jakarta dikutip jawapos.com kemarin (10/8).

Teguh mengungkapkan, pemerintah tidak memiliki data yang valid terkait supply dan demand sapi nasional. ”Pak Suswono (menteri pertanian di era Presiden SBY, Red) saja pernah ngomong kalau data kita banyak salah,” ujarnya.

Menurut Teguh, keputusan pemerintah hanya membuka keran impor sapi sebanyak 50 ribu ekor sangat terburu-buru tanpa melihat kondisi pasokan yang ada di dalam negeri. Sebab, pemerintah terlalu ingin menunjukkan citra antiimpor. ”Padahal, seharusnya impor sah-sah saja. Tidak perlu malu. Kita tetap bisa bekerja untuk mendongkrak produksi sapi lokal,” tandasnya.

Teguh juga mengkritik keputusan pemerintah terkait menyerahkan izin impor itu kepada Bulog. ”Menurut undang-undang, sapi impor harus ada proses penggemukannya. Jadi, kalau itu diserahkan ke Bulog, apakah bisa menggemukkan sapi?” tanya dia.

ia juga menambahkan, kalau melihat data sensus ternak dari Badan Pusat Statistik (BPS), memang populasi tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sapi potong di dalam negeri. ”Populasi sapi kita itu sekitar 14 juta ekor, tapi yang bisa dipotong maksimal 12 persen saja atau 1,6 juta ekor,” bebernya. Tidak semua sapi boleh dipotong karena harus menjaga siklus reproduksi secara nasional.

Dengan kebutuhan sapi sekitar 3 juta ekor setiap tahun, pasokan 1,6 juta ekor dari dalam negeri itu tentu sangat tidak mencukupi. ”Kami dengar pemerintah mau tambah 50 ribu ekor lagi untuk kuartal III ini. Saya ragu apakah itu cukup,” ucapnya.

Jika impor sapi diturunkan,ia khawatir menkhawatirkan populasi sapi di dalam negeri tergerus. Jika pasokan sapi siap potong berkurang, sapi betina produktif dan sapi bibit akan menjadi sasaran penyembelihan. Kalau itu terjadi, siklus produksi sapi potong di dalam negeri tidak akan meningkat. ”Bagaimana meningkatkan produksi dalam negeri kalau tidak ada sapi yang melahirkan, yang bibit juga dipotong,” cetusnya.(ki)

%d blogger menyukai ini: