Sketsa News
Home Berita Terkini, Editorial, Headlines Harapan Kepada “Sang Pencerah” dan “Sang Konservatif”

Harapan Kepada “Sang Pencerah” dan “Sang Konservatif”

ben
Dua organisasi terbesar di negeri ini telah selesai menggelar muktamar, hampir secara bersamaan. Organisasi itu adalah Muhammadiyah dan Nahdhotul Ulama ( NU). Keduanya merupakan organisasi tergolong lama dan tua, bahkan umurnya lebih tua dari umur bangsa ini.

Muhammadiyah menggelar muktamar ke-47 yang berlangsung di Makassar dengan menunjuk Haidar Nashir sebagai ketua umum Pengurus Pusat Muhammadiyah. Nahdhatul Ulama menyelenggarakan muktamar ke-33 di Jombang, Jawa Timur dengan KH. Said Aqil Shirat sebagai ketua umum Pengurus Besar Nahdhatul ulama (PBNU).

Walaupun sempat terjadi ketegangan diawal Muktamar Nahdhatul Ulama, namun secara umum muktamar organisasi yang didirikan KH. Hasyim As’ari tersebut berjalan lancar. Begitu pula dengan muktamar ke-47 organisasi yang didirikan KH. Ahmad Dahlan di era pergerakan nasional.

Tentu ada yang menarik kalau kita cermati dari muktamar kedua organisasi tersebut. Keduanya berkomitmen untuk tidak merubah organisasi menjadi sebuah partai politik, dan berkomitmen tidak menyeret muktamar terlibat politik praktis. Tentu mereka punya alasan karena jika mereka merubah organisasi menjadi parpol, maka organisasi akan bubar dan terpecah-belah. Hal itu merupakan keputusan yang tepat. Mengingat, sebuah partai politik bisa beranak-pinak menjadi partai-partai kecil.

Komitmen itu menunjukkan kedua organisasi tersebut masih berpegang teguh dengan tujuan awal didirikannya organisasi oleh pendirinya, yaitu sebagai sosial keagamaan yang tidak terlibat politik dan gila kekuasaan. Walaupun tidak bisa kita pungkiri kader-kader organisasi itu, terlibat dan menjadi pengurus parpol.

Ada keteladanan yang harus kita ambil dari tokoh-tokoh kedua organisasi itu. Sebagaimana sikap KH. Hasyim Muzadi dan Sholahudin Wahid, walaupun kecewa dengan mekanisme muktamar, tetapi kedua tokoh tersebut legowo dengan hasil muktamar, serta mengingatkan pendukungnya untuk tidak membuat muktamar tandingan. Itulah cerminan jiwa besar dan legowo kedua tokoh NU yang patut menjadi contoh bagi kita semua.

Begitu pula dengan muktamar Muhammadiyah dengan keteladanan tokohnya, yang rela mengundurkan diri agar KH. Haidar Nashir, terpilih menjadi ketua umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Sikap itulah yang patut kita apresiasi bersama. Sikap jiwa besar dan tidak ambisius terhadap jabatan seorang tokoh Muhammadiyah.

Kita semua berharap agar kedua organisasi Islam itu, berkomitmen mensejahterakan dan melayani umat Islam yang merupakan mayoritas di negeri ini. Kita tunggu komitmen kedua organisasi itu untuk bersinergi membangun bangsa dengan mengutamakan ukhuwah islamiyah. Kita tidak menginginkan terjadi konflik antar kedua organisasi tersebut mendatang.

Kita juga berharap kedua organisasi tersebut, agar menjaga aqidah pengikutnya yang merupakan salah satu tujuan dan cita-cita pendirinya, yaitu aqidah Islam yang murni sebagaimana yang diajarkan Nabi muhammad SAW. Aqidah Islam yang tidak ternodai oleh pemikiran yang merusak Islam, seperti pluralisme dan sekulerisme. Dimana pemikiran yang merusak tersebut, saat ini menggerogoti aqidah kedua organisasi itu khususnya, dan umat Islam Indonesia umumnya.

Pemilkiran yang meracuni umat ini harus disikapi secara serius oleh dua organisasi muslim terbesar itu. Mengingat dua organisasi itulah yang menjadi ujung tombak dalam menggerakkan santri di kalangan pesantren, untuk berjuang memerdekakan negeri tercinta ini, dari cengkraman penjajah yang menyebarkan paham sekulerisme dan pluralisme.

Keduanya menjadi harapan bagi umat Islam khususnya, dalam hal pencerahan aqidah dan keyakinan umat, dan menjaga tradisi agama dari hal yang merusak. Baik yang merusak aqidah umat maupun merusak generasi bangsa yang tercinta ini.(Ki).

%d blogger menyukai ini: