Sketsa News
Home Berita Terkini, Headlines, News Badan Cyber Nasional (BCN) Prioritas Utama Menkopolhukam

Badan Cyber Nasional (BCN) Prioritas Utama Menkopolhukam

Sketsanews, Jakarta – Pembentukan Badan Cyber Nasional (BCN) menjadi Prioritas Utama Luhut Pandjaitan, selaku Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan. “Embrionya sudah ada, jadi kami akan memprioritaskan masalah tersebut (pembentukan Badan Cyber Nasional),” ujar Luhut, di Jakarta, Selasa (18/8/2015) dilansir inilah.com.

Indonesia butuh Badan Cyber Nasional yang bisa meyiapkan sistem yang mampu belajar dari setiap serangan cyber, sehingga mampu menahan serangan cyber selanjutnya.

“Embrionya sudah ada, jadi kami akan memprioritaskan masalah tersebut (pembentukan Badan Cyber Nasional),” ujar Luhut, Selasa (18/8/2015).

Apa lagi, Luhut melanjutkan, dirinya secara pribadi memahami permasalahan pertahanan dunia maya ini.

“Saya paham mengenai hal itu (pertahanan dunia maya). Selain itu Badan Cyber Nasional ini juga sudah dijadikan pembicaraan dan telah dibahas beberapa kali,” tuturnya.

Ada pun pembentukan Badan Cyber Nasional pertama kali digaungkan oleh Menkopolhukam periode 2014-2015 Tedjo Edhy Purdijatno pada awal Maret 2015. Saat itu Tedjo menyatakan pemerintah akan membentuk Badan Cyber Nasional guna melindungi seluruh institusi pemerintahan dari penyadapan, termasuk Presiden.

Hal ini berkaca dari adanya sejumlah dokumen yang didapatkan mantan kontraktor badan intelijen Amerika Serikat (AS), Edward Snowden, yang menyatakan Australia dan Selandia Baru menyadap jaringan telepon genggam terbesar di Indonesia dan juga sistem telekomunikasi sejumlah negara kecil di Kepulauan Pasifik.

Negara China bahkan membentuk pasukan cyber yang diberi nama “Blue Army”. Pasukan ini bertugas melindungi negara dari serangan cyber dan menghabiskan anggaran USD1,54 juta untuk pembentukkannya. Pasukan ini sengaja memilih Guangzhou sebagai markasnya karena di wilayah tersebut merupakan pusat industri Negeri Tirai Bambu tersebut.

Israel walau sudah lama menggiatkan pasukan cyber dan baru September 2014 secara resmi membentuk pasukan cyber. Momen itu berbarengan dengan serangan ke Jalur Gaza Palestina. Amerika sendiri sudah mempunyai sejak lama, National Security Agency (NSA). Bahkan baru-baru ini Presiden Barrack Obama mengajukan dana Rp177 triliun untuk memperkuat pelembagaan pertahanan cyber.

Negara tetangga terdekat kita, Singapura baru-baru ini meresmikan Singapore Infocomm Technology Security Authority (SITSA). Alasan berdirinya SITSA disebabkan munculnya tren perang cyber di Estonia dan Georgia.

Keberadaan Badan Cyber Nasional akan sangat vital bagi dunia intelijen. Kasus penyadapan pada pemerintahan SBY membuktikan betapa pentingnya lemabaga cyber khusus. Bahkan saat Obama pertama kali menjabat sebagai presiden AS, dia langsung memerintahkan pembentukan lembaga khusus di White House untuk pengamanan sistem informasi dan komunikasi kepresidenan.

Lahirnya Badan Cyber Nasional nantinya akan bisa mengkoordinasikan unit keamanan cyber di setiap instansi pemerintah dan memaksimalkan potensi yang ada. Diharapkan peran badan Cyber Nasional nantinya mampu melengkapi peran TNI yang menjaga kedaulatan NKRI di wilayah darat, laut dan udara, sedangkan BCN menjaga kedaultan NKRI dari para peretas dan pencuri informasi.

Masyarakat tidak perlu takut dengan keberadaan BCN nantinya. BCN tidak berfungsi seperti NSA di AS, yang ditengarai memata-matai warganya sendiri, sehingga banyak aktivis HAM di AS memprotes keberadaan NSA.

BCN bertugas menjaga keamanan cyber di Indonesia, baik milik pemerintah, industri swasta dan bahkan setiap individu warga Indonesia. Digitalisasi di Indonesia adalah keniscayaan, namun bila tidak dibarengi oleh pengamanan cyber, malah akan menjadi bumerang.

Sudah lebih dari 70 juta penduduk Indonesia terkoneksi dengan internet. Sebagian besar memiliki rekening, kartu kredit dan juga biodata di internet. Bila ini tidak diamankan, lalu menjadi target serangan orang tidak bertanggungjawab, berarti negara lari dari tugasnya melindungi warga negara.

Melihat kondisi saat ini, BCN memang mempunyai tugas ganda. Pertama memberikan perlindungan dan keamanan bagi cyber di Indonesia, kedua memberikan edukasi serta pengertian bagaimana berinternet yang sehat.

Tanpa edukasi yang cukup, masyarakat akan terus menjadi target empuk kejahatan cyber. Begitu juga dengan para pejabat, pemangku kepentingan. Semua pihak harus mempunyai kesadaran dan kewaspadaan terhadap bahaya serangan cyber. (Okezone-tekno)

(in)

 

 

%d blogger menyukai ini: