Sketsa News
Home Berita Terkini, Citizen-Jurnalism, Headlines, News Sebuah Ironi di Hari Kemerdekaan

Sebuah Ironi di Hari Kemerdekaan

Graphic1

Sketsanews.com – Genap 70 tahun usia bangsa Indonesia merdeka. Perayaan demi perayaan hari ulang tahun negara ini berlalu tiap tahunnya. Usia 70 tahun bukanlah usia yang pendek. Namun, masih ada masyarakat yang hidup dibawah kemiskinan.

Salah satunya yaitu Kalimah, wanita yang sudah melewati perayaan kemerdekaan RI lebih dari setengah abad ini, kehidupannya masih memprihatinkan. Warga kampung Ngadirejo Sempulur Karanggede Kabupaten Boyolali Jawa Tengah itu, kini harus tinggal disebuah gubuk yang sudah rapuh.

Gubuk yang ia tempati adalah bangunan bekas kandang ayam, terbuat dari bambu dan beratapkan genting tua. Jika musim hujan banyak yang bocor. Kalau malam hari terasa dingin, karena dindingnya terbuat dari belahan bambu, sehingga angin mampu masuk ke dalam gubuk melalui sela-sela bambu. Lantainya pun masih alami yaitu tanah, jika tidak disiram air akan sangat berdebu.

Wanita yang lahir 60 tahun silam itu, aktifitas kesehariannya mencari kayu bakar untuk dijual ke pasar dan sebagian digunakan sendiri. Untuk bekerja, wanita ini sudah tidak kuat lagi, karena fisiknya sudah lemah bahkan untuk sekedar berjalan, ia sudah kepayahan. Wanita itu jika berjalan sudah membungkuk karena sudah ‘sepuh’.

Untuk keperluan air, wanita ini harus menimba dari sumur dengan tali yang lumayan berat. Sedangkan keperluan MCK dirinya harus pergi ke tetangga untuk sekedar buang hajat. Karena ia tidak punya sarana MCK.
Keperluan makan sehari-hari, perempuan yang hidup sendiri ini, terkadang mengharap pemberian dari para tetangganya. Kalimah merasa beruntung karena mempunyai tetangga yang peduli.

Di hari ulang tahun Republik Indonesia yang ke-70 ini, ia berharap pemerintah mau memperhatikan rakyat yang senasib seperti dirinya. Masih banyak Kalimah-Kalimah lain di pelosok negeri ini yang memerlukan perhatian. Karena, bagaimana pun ia masih merasa bagian dari bangsa ini yang berhak menikmati kesejahteraan dan kelayakan hidup. Sudah saatnya pemerintah membuka data sensus penduduk dan mempelajarinya. Masih adakah penduduk yang tidak terurus? (Ki)

%d blogger menyukai ini: