Sketsa News
Home Berita Terkini, Headlines, News Dampak Pengejaran Teroris, Ratusan Petani Tak Bisa Berkebun

Dampak Pengejaran Teroris, Ratusan Petani Tak Bisa Berkebun

poso
Sketsanews.com – Pengejaran kelompok teroris oleh Kepolisian di Gunung Langka, Desa Kilo, Kecamatan Poso Pesisir Utara, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, berdampak pada aktivitas warga. Ratusan warga yang berprofesi sebagai petani kebun tidak bisa bekerja sehingga menimbulkan kekhawatiran kerawanan pangan.

Berdasarkan pantauan Kompas.com, Minggu (23/08/2015), kondisi perkebunan di sekitar kaki Gunung Langka, Kecamatan Poso Pesisir Utara tampak sepi. Sebelumnya, di wilayah tersebut terjadi baku tembak antara polisi dan kelompok teroris.
Sebagian besar warga yang kesehariannya berkebun kini terpaksa tetap di rumah masing-masing. Mereka kini hanya mengurus ternak seperti sapi dan kambing.

Kepala Desa Trimulya, Hasiman mengungkapkan kekhawatiran terhadap kerawanan pangan yang akan dihadapi warganya. Pasalnya, sekitar 70 persen warganya mengandalkan hasil kebun. Sudah seminggu terakhir warga tidak beraktivitas di kebun. “Masyarakat saya ini kan sebagian besar memang berkebun di area itu, di atas di pegunungan. Jadi kalau saya melihat jumlah penduduk saya saja 478 KK, kalau kita ambil saja 70 persen masyarakat saya yang harus berkebun di atas, berarti ada sekitar 300 KK yang bisa berdampak langsung,” ujarnya.

Sementara itu, Kapolres Poso AKBP Ronny Suseno membenarkan adanya larangan bagi warga agar tidak berkebun di lokasi pengejaran teroris. Suseno memprediksi, warga diminta tidak beraktivitas hanya selama tujuh hari sejak terjadinya kontak senjata. “Kita sudah memberikan pengertian kepada masyarakat yang tinggal diseputaran itu untuk turun dan tidak beraktifitas sementara. Prediksi kami larangan tersebut paling lama tujuh hari setelah situasi di TKP sudah kembali dalam kondisi aman,” katanya.

Selain Desa Trimulya, dampak serupa terjadi di Desa Kilo dan Desa Kamiasi. Masyarakat di tiga desa tersebut berharap agar pemerintah secepatnya memberikan solusi agar para petani bisa beraktivitas kembali.(Su).

%d blogger menyukai ini: