Sketsa News
Home Analisis, Berita Terkini, Headlines, News Hantu Indonesia Bernama Terorisme

Hantu Indonesia Bernama Terorisme

Hantu-Indonesia-bernama-Terorisme-sketsanews

Berita tentang terorisme dan radikalisme tidak pernah musnah baik lewat media elektronik maupun media massa. Beberapa hari terakhir ini semua media baik cetak maupun online menyuguhkan berita tertangkapnya tiga orang yang diduga akan melakukan aksi terorisme menjelang peringatan kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-70. Demikian sebagaimana dilansir dari kompas.com. (Baca: Tersangka Teroris Surakarta Diduga Terkait Kelompok Badri).

Selain itu polisi mensinyalir bahwa ketiga terduga teroris yang dibekuk Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Mabes Polri disinyalir akan menjadikan Kota Solo sebagai target sasaran bom selanjutnya.

Bahkan, rencana meledakkan bom disejumlah wilayah di Kota Solo itu telah direncanakan matang dan akan dilakukan bertepatan dengan momentum HUT Kemerdekaan ke-70 RI. (Baca Polisi: Targetkan Solo, Teroris Kembangkan Bom Jenis Baru).

Dengan seringnya muncul di media yang ada, maka istilah terorisme telah menjadi hantu yang menakutkan bagi warga negara Indonesia. Bahkan bagi negara Indonesia sehingga pemerintah harus membuat perppu tentang aksi terorisme dan membentuk Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Forum Komunikasi Pencegahan Terorisme (FKPT).

Pengamat intelijen Wawan H Purwanto menilai, keberadaan Forum Komunikasi Pencegahan Terorisme (FKPT) yang dibentuk Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) di sejumlah provinsi akan lebih memudahkan langkah antisipasi terhadap terorisme.
“Keberadaan FKPT membuat ruang gerak pelaku terorisme semakin sempit,” kata Wawan di Jakarta, Jumat.

Menurut Wawan, hal penting dalam pencegahan terorisme adalah deteksi dini. Di sini peran masyarakat sangat diperlukan. “Adanya FKPT itu sangat efektif dan bagus untuk lebih dekat dengan masyarakat,” kata dia.

Selain itu, BNPT bisa menjadikan FKPT sebagai kepanjangan tangan dalam menyosialisasikan program penanggulangan dan pencegahan terorisme sampai ke daerah-daerah.
“Bahkan kalau bisa tidak hanya di tingkat provinsi, tetapi juga di tingkat kabupaten/kota, kecamatan, sampai ke tingkat desa,” ujar Wawan. (www.antaranews.com )

Tidak cukup hanya sekedar menangkap pelaku aksi terorisme, karena begitu takutnya maka pemerintah Indonesia berusaha dengan sekuat tenaga untuk menutup semua akses yang masuk. Termasuk dalam hal ini adalah masalah pendanaan yang digunakan oleh para pelaku yang diduga melakukan aksi terorisme.

Pemerintah yang diwakili oleh PPATK berusaha untuk melakukan pembekuan dana. Ketua Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), M. Yusuf menyatakan, penanggulangan pendanaan teroris di Indonesia telah berjalan baik.

“Penanggulangan pendanaan teroris di Indonesia bukan omong kosong. Sudah banyak terbukti. Apalagi sudah ada sekitar 500 orang terdakwa teroris yang dihukum,” kata Yusuf di Jakarta.

Berdasarkan data tahun 2015 yang diolah PPATK dan Detasemen Khusus 88 Anti-Teror, ada lima terduga teroris dan organisasi teroris yang dikeluarkan sejak November 2014. Data ini juga mengungkapkan ada 20 warga negara Indonesia dan 355 warga negara asing yang diduga teroris. Selain itu, ada empat entitas domestik serta 72 entitas asing yang masuk dalam daftar tersebut. (Baca: PPATK Bekukan Dana Teroris Rp 2 Miliar Lebih)

Analisis

Propaganda adalah penyampaian informasi yang di dalamnya disisipkan sebagian atau tanpa memuat fakta yang benar sama sekali dengan maksud menyampaikan gagasan atau situasi yang tidak benar. Dalam dunia militer disebut dengan operasi perang urat syarat dalam rangka untuk menanamkan rasa takut atau teror kepada pihak lawan dan membangun kesan mereka adalah pihak yang bersalah.

Pada zaman modern, negara-negara menggunakan bahasa yang kasar dengan diikuti ancaman kehancuran. Pekerjaan propaganda ini dilakukan oleh para “montir” pendapat masyarakat dalam rangka melakukan “management of public opinion” melalui semua media yang tersedia. Propaganda dan perang urat syaraf ini merupakan bagian penting dalam pekerjaan intelijen dan merupakan bagian dari organisasi intelijen dimana dinas ini bekerja sama dengan media massa baik cetak, elektronik maupun penerbitan-penerbitan dan entertainment.

Para peneliti dan ahli di dunia akademi, intelijen dan militer di Israel dan luar negeri menyatakan, tidak ada definisi tunggal tentang perang urat syaraf. Dalam sebuah tesis yang ditulis oleh Kolonel Miri Eisin, untuk Universitas Keamanan Nasional (2003), sekarang menjabat penasehat pers luar negeri perdana menteri, memberikan berbagai definisi istilah perang urat syaraf. Perang urat syaraf adalah sebuah usaha yang dilakukan oleh sebuah negara atau entitas non negara untuk mempengaruhi khalayak dengan tujuan untuk mencapai kemenangan dalam sebuah perjuangan nasional.

Alat-alat yang digunakan untuk mencapai tujuan itu bervariasi dan berdasarkan pada pengetahuan tentang kultur, politik, media, pendidikan dan sarana-sarana lain yang bisa digunakan untuk mempengaruhi target audiens yang dipilih.

Militer selalu mempertimbangkan perang urat syaraf menjadi bagian dari perang. Bagaimanapun, telah ada perubahan yang signifikan dalam alam, karakteristik dan makna dari perang urat syaraf itu sendiri. Ini telah menjadi sebuah hasil dari karakterisitik organisasi teroris yang unik dan modus operandi mereka. Sebagaimana baiknya dengan revolusi media dan informasi yang mana mengantarkan pada perang melawan terorisme dan memperlancar dalam mencapai jangkauan yang signifikan.

Maka dari itu tidak menutup kemungkinan bahwa terorisme yang sering digembar-gemborkan itu merupakan propaganda dan perang urat syaraf yang dilakukan oleh para montir dan organisasi intelijen dalam rangka untuk menanamkan rasa takut atau teror kepada sekelompok orang dalam hal ini Islam sebagai pihak yang bersalah.

Selama ini terdapat banyak versi mengenai definisi terorisme. Secara bahasa terorisme berasal dari bahasa latin terrere, yaitu “menggentarkan”. Pengertian terorisme digunakan untuk menggambarkan sebuah serangan yang disengaja terhadap ketertiban dan keamanan umum. (Arifatul, 2007: 14)

Menurut Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, terorisme adalah kekerasan yang direncanakan, bermotivasi politik, ditujukan terhadap target-target yang tidak bersenjata oleh kelompok-kelompok sempalan atau agen-agen bawah tanah dalam rangka mempengaruhi khalayak. (Hudson dan Majeska, 1999: 12)

Berdasarkan pada definisi tentang terorisme tersebut maka tidak satupun yang berkaitan antara terorisme dengan agama tertentu. Secara umum terorisme terkait dengan berbagai motif politik dalam arti hubungan antara individu, kelompok, masyarakat dengan negaranya.

Pertanyaannya sekarang adalah apa yang mendasari ketiga aktivis Islam tersebut diduga sebagai pelaku aksi terorisme? Apakah karena mereka menemukan bahan peledak dan bom rakitan ketika terjadi penggeledahan? (Baca: 21 Bom yang Disita dari Para Teroris Solo Berdaya Ledak Tinggi).

Peran Intelijen

Para peneliti terorisme secara aklamasi menyetujui bahwa intelijen merupakan sesuatu yang penting dalam perang melawan terorisme. Intelijen memberikan informasi strategis dan taktis yang vital untuk membuat keputusan dan untuk melakukan serangan kontra terorisme. Seperti informasi vital untuk memformulasikan kebijakan kontra terorisme dan keterlibatan dalam perang baik dari aspek defensif maupun aspek ofensif.

Dari semua peristiwa penangkapan para terduga aksi terorisme tidak pernah luput dari peran intelijen. Sebagaimana yang menimpa pada tiga orang aktivis Islam surakarta. (Baca: Misteri Akhwat Bercadar di Balik Penangkapan Trio Ikhwan Solo)

Belajar dari kasus bom Bali I, bahwa tidak ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab terhadap peledakan bom tersebut yang telah mengubah surga pariwisata di pantai Legian Kuta menjadi sebuah neraka. Serangan bom itu merupakan salah satu yang paling dahsyat, bahkan untuk ukuran dunia. Korban yang jatuh disebut terbesar kedua setelah serangan 11 September 2001.

Joe Vialls, seorang pengamat masalah terorisme dan bahan peledak meyakini bahwa bom yang digunakan dipastikan dari bom jenis non konvensional yang dikenal singkatan SADM (Special Atomic Demolition Munition). Dia menyatakan bahwa dunia Islam belum memiliki akses kepada SADM. Negara yang memiliki senjata micro nuke SADM adalah Israel, Amerika Serikat, Inggris, Perancis, dan Rusia. Namun pihak kepolisian Indonesia membantahnya dan menyatakan bahwa bom itu dirakit dari bahan ledak TNT.

Belajar dari itu semua, bisa jadi apa yang sering terjadi mengiringi peristiwa penangkapan dengan ditemukan bom rakitan dan bahan peledak. Hal itu merupakan sebuah rekayasa belaka dalam rangka untuk menimbulkan rasa ketakutan kepada sekelompok orang yang masih dalam taraf “TERDUGA MELAKUKAN AKSI TERORISME”. (Zu)

%d blogger menyukai ini: