Sketsa News
Home Berita Terkini, News Anak Pastor Perkosa dan Bunuh Siswi SMA Hang Tuah Tarakan

Anak Pastor Perkosa dan Bunuh Siswi SMA Hang Tuah Tarakan

Sketsanews.com – Tarakan. Sadis !, Fitri (16) yang hilang kemudian ditemukan di tempat pembuangan sampah ternyata korban perkosaan dan pembunuhan, terduga anak seorang pastor di Tarakan.

Misteri yang menyelimuti penemuan mayat yang membusuk di tempat pembuangan sampah (TPA) Hake Babu terkuak. Jenazah wanita yang ditemukan dalam keadaan tanpa busana bawah, bernama Fitri, siswi SMA Hang Tuah, Tarakan.

Dari jam tangan, dan tiga cincin yang berada di jari manis mayat wanita tersebut, keluarga korban memastikan ia adalah anak yang dilaporan hilang 2 minggu lalu.

Penemuan mayat yang diduga Fitri di areal TPA Hake Babu, Kelurahan Karang Anyar, Kota Tarakan, Kalimantan Utara, Minggu (23/8) sore. Foto: Dokumen JPNN.com

“Dari keluarga juga sudah memastikan dari ciri-ciri yang telah disampaikan bahwa itu adalah anak yang dilaporkan hilang dalam beberapa minggu lalu,” beber Kasatreskrim Polres Tarakan, AKP Muhammad Irfan.

“Kalau dari segi fisik memang tidak begitu dikenali sudah, tetapi tanda-tanda barang bawaannya bisa dikenali oleh pihak keluarga, seperti baju, cincin dan jam tangan yang ada di tubuh korban,” Jelas perwira balok tiga ini.

Polisi hanya butuh 72 jam sejak penemuan mayat, untuk menangkap pelaku biadab ini. Kapolres Tarakan, AKBP Sarif Rahman mengungkapkan, pria muda berinisial KS ditangkap pada Rabu (26/8/2015) sekitar pukul 18.30 Wita.

Tersangka KS (paling tengah) saat ditangkap, Rabu (26/8) sore. Foto: IST

“Tersangka KS ini sudah ditemukan dan berhasil diungkap oleh anggota dari reskrim dengan tim polsek yang dibentuk menjadi tim khusus,” ujar Sarif dilansir Radar Tarakan (Grup JPNN.com), Kamis (27/8/2015).

 

Kronologi

Kronologis kematian Fitri, Sarif mengatakan sejak hilangnya Fitri pada tanggal 9 Agustus lalu. Korban yang saat itu sedang mengikuti kegiatan di Gereja Pantekosta Indonesia mendatangi ke rumah tersangka dengan meminta air minum. Keduanya telah lama saling mengenal.

“Sesampainya di rumah tersangka, ternyata di dalam terjadi hubungan hubungan atau persetubuhan. Setelah itu ada pertikaian yang terjadi sehingga berujung penganiayaan dan menghilangkan nyawa korban,” bebernya.

Kapolres mengatakan, rumah tersangka saat itu dalam keadaan kosong. Pada saat terjadi pertengkaran tersebut, tersangka pun langsung melakukan penganiayaan terhadap korban. KS kemudian mengambil martil dengan cara memukuli kepala korban berulang kali sehingga korban meninggal dunia.

“Jadi saat itu rumah dalam keadaan kosong, kebetulan istri tersangka tidak ada di rumah. Sehingga tersangka melakukan aksinya,” ungkapnya.

Setelah kejadian itu, lanjut Kapolres, tersangka pun langsung membersihkan kamarnya.

“Jadi ketika korban diketahui meninggal, tersangka pun langsung membersihkan isi kamarnya dan menyimpan barang bukti,” katanya.

Sarif juga membeberkan, tersangka sempat menyimpan mayat korban di dalam gudang yang berada di belakang rumahnya selama dua hari.

“Jadi penganiayaan yang dilakukan sejak hilangnya korban, sekitar pukul 11.15 wita tersangka melakukan pembunuhan lalu disimpan di gudang selama dua hari,” ungkapnya.

Pada 11 Agustus sekitar pukul 05.00 wita, tersangka membuang korban ke tempat lokasi dimana ditemukannya mayat Fitri pertama kali.

“Jadi subuh pagi, tanggal 11 Agustus, tersangka membawa mayat korban ke TPA Hake Babu dengan cara membungkus mayatnya dengan menggunakan kendaraan sepeda motor, lalu membawa kembali karung itu ke rumahnya,” ungkapnya.

“Korban dengan tersangka ini memang saling kenal, tetapi tidak ada hubungan keluarga,” tandas kapolres.

“Penyidik sudah memastikan hanya satu tersangka dari kematian Fitri yaitu KS merupakan pelaku utama dari hilangnya korban sejak tanggal 9 Agustus hingga ditemukannya mayat korban pada tanggal 23 Agustus lalu,” kata Kaur Bin Ops (KBO) Polres Tarakan, Iptu Sudaryanto dilansir Radar Tarakan (Grup JPNN.com), Sabtu (29/8/2015).

Selain itu, Sudaryanto mengatakan pihaknya juga telah meminta keterangan dari keluarga tersangka baik dari istrinya maupun bapak tersangka.

“Kami sudah memintai keterangannya, dan tidak ada mengarah ke sana, karena saat pembunuhan terjadi keduanya berada di dalam gereja dan tidak mengetahui peristiwa itu terjadi,” jelasnya.

Dari pemeriksaan yang telah dilakukan oleh penyidik, Sudaryanto mengatakan istri dan ayah tersangka ini tidak ada keterlibatan dalam pembunuhan tersebut.

Lantas kenapa istri dan ayah tersangka ini belum dipulangkan? Sudaryanto mengatakan, pihaknya sudah mengizinkan untuk pulang ke rumah. Namun karena masyarakat telah mengetahui bahwa tersangka ini adalah anak dari pemuka agama, maka ada rasa kecemasan dan takut sehingga istri dan ayah tersangka sementara waktu berdiam di Polres Tarakan.

“Mungkin karena ada rasa ketakutan terhadap keluarga korban dan para pencari fakta sudah tahu ayah tersangka ini adalah pastur digereja itu, sehingga meminta perlindungan kepada polisi,” ungkapnya.

Kapan dilakukan rekonstruksi? Sudaryanto mengatakan sejauh ini belum dilakukan karena masih dalam pemberkasan. Namun demikian, pihaknya juga akan berkoordinasi dengan pihak Kejaksaan Negeri Tarakan terkait rekonstruksi tersebut.

Atas perbuatan yang dilakukan, tersangka akan dijerat dengan pasal 81 ayat 1 dan 2 Undang-undang no 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak junto pasal 338 KUHP dengan ancaman hukuman minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun. (jpnn.com)

(in)

%d blogger menyukai ini: