Sketsa News
Home Berita Terkini, Editorial, Headlines Tinggalkan Ego Kelompok

Tinggalkan Ego Kelompok

pp
Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) memasuki level psikologis mencapai Rp14.000 per USD. Semua pihak sepakat saat ini bangunan ekonomi kita sedang goyah, ditandai pelemahan nilai tukar Rupiah dan ancaman pemutusan hubungan kerja di berbagai perusahaan.

Sementara itu berbagai kegaduhan dalam tubuh kabinet masih berlangsung, antara menko Kemaritiman Rizal Ramli dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla,mengenai listrik dan pembelian pesawat untuk Garuda.

Berbagai macam kepentingan masuk ke dalam kabinet pemerintahan Jokowi-JK. Tarik menarik kepentingan antar kelompok pendukung pemerintah kian terasa. Masing-masing kelompok yang dulu berjuang mati-matian untuk Jokowi-JK, sepertinya ingin mendapatkan bagiannya.

Kabinet kerja bentukan Jokowi-JK itu, terkesan tidak kompak dan seolah-olah berjalan sendiri-sendiri. Menteri terkesan lebih loyal kepada Parpol yang menjadi tempat bernaung daripada loyal kepada kepala negara dan bangsa.

Reshufle kabinet yang semestinya mengganti menteri yang kinerjanya kurang bagus, hanya sekedar pertukaran posisi dan “ritual” semata serta terkesan Presiden Jokowi ”tidak berani” mengganti menteri dari partai yang mengusungnya sekaligus “majikannya”.

Belum lagi data tentang ekonomi dan kependudukan yang dimiliki masing-masing kementerian berbeda, sehingga menyulitkan pemerintah untuk mengambil kebijakan. Tentu, kita bisa bayangkan bagaimana sulitnya menyelesaikan masalah tanpa data yang akurat.

Ekonomi yang goyah dan politik yang gaduh bisa mengancam Indonesia menjadi negara gagal. Kesenjangan ekonomi yang terlalu jauh antara kaya dan miskin,bisa membangkitkan sistem komunisme.

Seharusnya pemerintah segera mencari solusi untuk menyelasaikan masalah ekonomi dan pelemahan Rupiah. Jangan hanya disibukkan dengan urusan dalam kabinet dan hal-hal yang tidak perlu, seperti permintaan maaf keluarga eks PKI.

Kita juga tidak ingin bahaya laten Partai Komunis Indonesia (PKI), yang telah membantai para ulama dan TNI, bangkit lagi di negeri ini? Tentunya kita semua tidak ingin negara kita menjadi negara yang gagal?

Sejarah telah membuktikan apabila satu negara mengalami pelemahan ekonomi, kegaduhan politik, harga sembako melambung tinggi, daya beli masyarakat melemah dan keadaan terpecah-belah, maka akan mengundang intervensi kepentingan asing yang lebih kuat untuk masuk dan merusak tatanan kehidupan berbangsa. Berpotensi menjadi negara gagal sebagaimana negara-negara yang bergabung dengan Uni soviet membubarkan diri .

Idealnya, dalam satu kabinet saling bersinergi untuk membangun negeri ini, bukan malah saling menyalahkan. Kapan bangsa ini maju kalau antar menteri saling menyalahkan dan mencurigai?

Kitapun tidak bisa menafikan berbagai kelompok dan kepentingan berada ditubuh Kabinet Kerja bentukan Jokowi-JK, namun kepentingan bangsa harus didahulukan daripada kepentingan kelompok.

%d blogger menyukai ini: