Sketsa News
Home Berita Terkini, News Sutiyoso ajukan anggaran BIN 2016 Rp3,7 triliun

Sutiyoso ajukan anggaran BIN 2016 Rp3,7 triliun

20150630antarafoto-uji-kepatutan-calon-kepala-bin-300615-agr-3sutiyoso
Sketsanews.com – Badan Intelijen Negara (BIN) mengajukan anggaran sebesar Rp3,7 triliun untuk tahun 2016. Hali itu disampaikan Kepala BIN, dalam rapat dengar pendapat tertutup dengan Komisi I DPR RI di Jakarta, Kamis 10/9/2015

“Yang pasti Rp3,7 triliun yang kita minta untuk 2016,” kata Sutiyoso seperti dikutipantaranews.com, seusai rapat dengar pendapat dengan Komisi I DPR RI.

Anggaran itu diperlukan untuk operasional BIN dan penambahan personel BIN di daerah. Sutiyoso yakin Komisi I akan memahami beratnya tugas, fungsi, serta tanggung jawab BIN yang harus melakukan kerja intelijen untuk di dalam dan luar negeri.

“Kalau di Amerika Serikat ada dua (intelijen) untuk di dalam dan di luar negeri yaitu CIA dan FBI. Kalau di sini dirangkap oleh BIN tugas dan lingkupnya, makanya tidak masuk akal kalau pembiayaannya hanya sekian (kurang),” terang dia.

selain itu, Sutiyoso juga mengatakan anggaran itu diperlukan untuk memaksimalkan peran badan siber yang saat ini tengah diwacanakan pemerintah.

“Kita sudah bisa melakukan defense (pertahanan), sudah bisa memonitor, tinggal attack (menyerang). Untuk badan siber ini tidak perlu boros bentuk badan baru, gunakan detasemen direktorat yang sudah ada,” kata dia.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi I DPR RI Asril Hamzah Tandjung membenarkan, Sutiyoso dalam hal ini mewalili BIN mengajukan anggaran BIN sebesar Rp3,7 triliun dalam rapat dengar pendapat tersebut.

Dia membeberkan, bahwa BIN merasa berat dengan rencana pemotongan anggaran senilai Rp424 miliar, karena akan merekrut 1.000 personel baru untuk BIN daerah.

“Mereka (BIN) awalnya mengajukan anggaran Rp2,7 triliun kemudian diperbesar lagi Rp3,7 triliun karena akan ada pendidikan baru untuk personel pusat, untuk intel polisi, intel kejaksaan. Di daerah juga akan diketuai Kepala BIN daerah, dan ke depan tugas BIN berat karena sebagai koordinator intelijen,” ujar Asril.

Ia menambahkan, BIN menghendaki ada penambahan anggota BIN di luar negeri. Sebab saat ini anggota BIN baru tersebar dj 20 negara, mayoritas di Timur Tengah.

“Mereka berencana menambah lagi di 12 negara,” ujar dia.

Asril menyatakan pihaknya mendukung peningkatan anggaran BIN, lantaran kerja BIN lebih berat dari intelijen di Amerika Serikat.

Sementara itu, anggota Komisi I DPR dari Fraksi PDI Perjuangan, Mayor Jenderal TNI (Purnawirawan) TB Hasanudin, mengimbau Badan Intelijen Negara tidak “berteriak” kekurangan anggaran operasional, karena masih bisa memanfaatkan dana taktis.

“Sebenarnya BIN tidak usah teriak-teriak kurang (anggaran). Yang non-budgeter (dana taktis) aja khan banyak,” kata Hasanudin.

Mantan sekretaris militer kepresidenan semasa presiden Megawati itu, mengatakan pengurangan anggaran tidak hanya dialami BIN namun di seluruh lembaga dan kementerian.

Dia menyarankan agar BIN tidak terlampau bersandar pada APBN.
“Jangan terlalu bersandar pada APBN, khan intelijen. Anggaran 2015-2016 itu ada pengurangan, tapi itu semua kementerian dan lembaga,” kata dia.

Hasanuddin menyarankan agar BIN bersinergi dengan pihak lain, misalnya dengan perusahaan-perusahaan besar. Menurut dia, sinergi itu tidak mengganggu netralitas BIN selama kerjasamanya selektif.(Ki)

%d blogger menyukai ini: