Sketsa News
Home Berita Terkini, Citizen-Jurnalism, Internasional, News, Tekno-Sains Melawan Kemunculan Robot Sex, #CampaignAgainstSexRobots

Melawan Kemunculan Robot Sex, #CampaignAgainstSexRobots

Sketsanews.com. Aktivis mulai mengkampayekan #CampaignAgainstSexRobots, melawan kemunculan robot sex. Kathleen Richardson, seorang antropolog robot di De Montfort University, Leicester, UK, memimpin kampanye ini.

twittercom-dr-kathy-richardson“Saat saya pertama kali mendengar tentang robot seks ini, saya berpikir, ‘Oh, robot seks. Tampaknya hal ini tidak berbahaya. Selain itu, mungkin keberadaan robot ini akan mengurangi permintaan akan wanita dan anak-anak’,” kata Richardson pada CNBC kemarin.

Seperti dilaporkan NBC News, Richardson bercerita bahwa saat dia mendalami masalah tersebut, dia menemukan bahwa keberadaan robot seks justru akan membuat masyarakat berpikir bahwa wanita, anak-anak, ataupun laki-laki hanyalah objek seks belaka.

Pada Website kampanye, campaignagainstsexrobots,  ide-ide penolakan dijabarkan dibalik kampanye pada makalah Ethicomp 2015 (De Montfort University, UK, 7-9 September 2015) , yang diringkas sebagai berikut:

  • Kami percaya pengembangan robot sex lebih mengarah pada wanita dan anak-anak.
  • Pengembangan robot sex serta ide-ide untuk mendukung produksi mereka menunjukkan kengerian yang besar pada industri prostitusi,  yang dibangun atas “rasa” merendahkan perempuan dan anak-anak oleh karenanya membenarkan menggunakan mereka sebagai obyek seks.
  • Kami mengusulkan bahwa pengembangan robot sex benar-benar bisa memperbaiki nasib pekerja sex didunia, atau bahkan orang yang kesepian – dari banyak gender – tertarik pada robot pendamping dengan berbagai alasan. Richardson juga dibalik seruan Amnesti Internasional untuk dekriminalisasi pekerja seks manusia.
  • campaign-against-sex-robot

 

Ulasan metrotvnews, Sex doll atau boneka seks memang bukanlah sesuatu yang baru. Tetapi tampaknya, boneka seks tidak lagi dirasa cukup. Karena saat ini, ketertarikan masyarakat akan robot yang dapat digunakan untuk seks terus meningkat. Dan hal inilah yang membuat perusahaan elektronik dan robotik berusaha untuk menghadirkan robot seks ini.

Salah satu perusahaan yang berusaha untuk membuat robot seks adalah RealDoll. Perusahaan asal California ini berencana untuk menjual boneka seks yang dilengkapi dengan AI (artificial intelligence) di tahun 2017.

Perusahaan lain yang sedang mengembangkan robot seks adalah adalah True Companion. Mereka telah mengembangkan Roxxxy, robot yang mereka klaim sebagai robot seks pertama, selama bertahun-tahun. Dalam situsnya, True Companion menuliskan, “Roxxxy tahu apa yang Anda sukai dan apa yang Anda benci. Ia dapat menunjukkan rasa cintanya pada Anda dan dapat menjadi teman Anda. Dia dapat berbicara dengan Anda, mendengarkan Anda dan merasakan sentuhan Anda.”

Saat ditanya apakah robot seks seperti Roxxxy dapat memberikan efek buruk ke masyarakat, Douglas Hines, pendiri True Companion membela robot buatan perusahaannya.

“Roxxxy tidak hanya memberikan kepuasan seksual tetapi juga dapat memenuhi kebutuhan akan interaksi sosial,” kata Hines. “Karena ia dapat dikustomisasi, maka ia dapat menjadi rekan yang sempurna – Roxxxy bukanlah pengganti pasangan manusia. Ia ditujukan sebagai pelengkap hubungan.”

Dia percaya bahwa robot seperti Roxxxy justru akan membantu mengurangi tingkat perdagangan manusia untuk menjadi pekerja seks dan bahkan kekerasan rumah tangga.

Erik Billing, dosen senior di School of Informatics di Swedia merupakan salah satu orang yang ikut serta dalam kampanye melawan keberadaan robot seks. Dia khawatir akan ada efek buruk dari robot seks dalam hubungan antar-manusia, meski saat ini efek tersebut belum terlihat.

“Sekarang, kita mulai melihat keberadaan robot seks. Ada kekhawatiran akan efek buruk yang timbul pada hubungan antar manusia jika robot seks digunakan oleh masyarakat luas,” kata Billing.

Billing berkata bahwa keberadaan robot akan mendorong masyarakat untuk hidup sendiri dalam isolasi di mana mereka dapat melakukan berbagai kegiatan dari rumah atau sendirian. Sementara hingga saat ini, penelitian telah membuktikan bahwa manusia memerlukan hubungan dengan manusia lain.

“Munculnya robot seks yang dapat menggantikan manusia sebagai partner adalah sebuah hal ekstrem yang mungkin terjadi. Selain itu, adanya robot seks dapat membuat kita melihat manusia lain sebagai sekadar objek,” katanya.

Billing menambahkan, sebentar lagi, robot seks akan dapat dengan mudah ditemui.

“Dalam kurun waktu 5 – 10 tahun, robot seks akan menjadi produk yang biasa Anda temui di toko yang menjual alat-alat seks.” (in/sketsanews.com)

 

%d blogger menyukai ini: