Sketsa News
Home Berita Terkini, Headlines, News, Opini Tragedi Crane Arab Saudi

Tragedi Crane Arab Saudi

Sumber gambar: sindonews.com
Sumber gambar: sindonews.com

Sketsanews.com – Akhir ini kita dihebohkan dengan berita jatuhnya crane di Masjidil Haram. Kejadian ini terjadi pada hari Jum’at, 11 September 2015. Bermula ketika daerah itu dilanda badai dan hujan deras sejak beberapa hari terakhir. Saking derasnya, air hujan masuk hingga ke dalam Masjidil Haram yang saat itu di sekitar terdapat alat berat crane. Selama ini alat digunakan untuk proyek perluasan Masjidil Haram.

Sesaat sebelum kejadian naas tersebut, para jama’ah haji sedang bersiap untuk melaksanakan sholat jum’at. Menurut pengakuan Azalzuli, salah satu jama’ah haji Indonesia asal Medan kepada media, saat itu terdengar dentuman keras seperti petir, ternyata suara tersebut berasal dari crane yang jatuh menimpa lantai 3.

Kita lupakan sejenak tentang kejadian naas tersebut, kita beralih ke sisi lain dimana pada saat yang bersamaan, orang nomor satu di Indonesia yaitu Presiden Jokowi. Rombongan presiden saat kejadian tragedi crane sedang melakukan kunjungan ke kerajaan Arab Saudi. Jokowi sudah tiba di bandara Jedah sejak Jum’at, 11 September 2015 pukul 18.00 waktu setempat. Seperti yang dilansir liputan6.com, tujuan Jokowi ke Arab Saudi selain membicarakan mengenai hubungan kerjasama ekonomi dan energi, juga membicarakan mengenai perlindungan WNI (Warga Negara Indonesia) di luar negeri khususnya yang berada di Arab Saudi.

Dari perhelatan pemerintah ke Arab Saudi menimbulkan banyak pertanyaan dan komentar. Salah satu yang menarik adalah statemen yang dikeluarkan oleh kader PKS, Jonru Ginting, musibah jatuhnya crane yang bersamaan dengan datangnya presiden Jokowi, dijadikan amunisi dan alat untuk menyerang dan mengkambing hitamkan Jokowi.

Hal itu dikatakan sebagai penyebab terjadinya tragedi jatuhnya crane. Melalui halaman facebooknya, Jonru Ginting berhasil menggiring opini pembaca, bahwa kejadiaan naas jatuhnya crane di Masjidil Haram yang memakan banyak korban akibat dari kunjungan Jokowi ke Arab Saudi. Tulisan kontroversial Jonru tersebut telah di share 1.596 kali dan disukai oleh 6.440 facebookers.
Tragedi jatuhnya crane di Masjidil Haram memang sangat menyita perhatian dunia, termasuk Indonesia. Karena negara ini, termasuk salah satu yang memiliki kuota jama’ah haji terbanyak setiap tahunnya. Jatuhnya alat berat tersebut telah memakan banyak korban. Termasuk didalamnya jama’ah haji asal Indonesia yang menjadi korban.

Seperti yang diberitakan wartabuana.com, Jokowi awalnya hendak mengunjungi langsung para korban dilokasi kejadian, namul hal tersebut tidak diizinkan oleh aparat keamanan setempat, lantaran kondisi disekitar kejadian belum steril. Karena Jokowi tidak diperkenankan masuk, lantas orang nomor wahid di Indonesia tersebut memerintahkan Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin untuk mengunjungi sekaligus mendata korban yang berasal dari Indonesia. Menurut Lukman Hakim, presiden dilarang masuk lantaran ada larangan dari pihak keamanan Arab Saudi, karena kondisi yang sangat kacau saat peristiwa terjadi. “Crane juga masih tergeletak dan belum di sterilisasi”, ungkap Menteri Agama Lukman Hakim pada Sabtu kemarin. Kondisi seperti ini memang tidak memungkinkan untuk seorang tamu negara melakukan kunjungan. Atas pertimbangan itulah pihak keamanan Arab Saudi melarang Jokowi menengok langsung jama’ah haji asal Indonesia yang menjadi korban. Mungkinkah hanya alasan tersebut, sehingga seorang kepala negara dilarang menengok warganya yang mengalami musibah? Atau, terjadinya tragedi itu masuk dalam ranah politik?

Ketika penulis membaca tulisan diatas, terlintas kembali di benak penulis tentang peristiwa yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Yaitu berita heboh tentang Presiden Jokowi yang salah memakai baju ihram. Saat itu masih dalam masa mengkampanyekan diri untuk menjadi RI 1. Capres nomor urut dua yang di usung oleh koalisi Indonesia hebat tersebut menunaikan ibadah umroh didampingi oleh istri dan anaknya, tim sukses, serta beberapa wartawan. Menurut wasekjen PKS, Fahri Hamzah, umroh yang dilakukan Jokowi saat masa tenang itu hanya untuk pencitraan. Dalam foto yang beredar di media social, Jokowi tampak sedang berada di Arab Saudi dengan menggunakan pakaian ihram.

Namun aneh, seharusnya saat gunakan ihram, bahu kanan yang terbuka, malah dalam foto tersebut bahu kiri Jokowi yang terbuka. Karena banyak beredar luas di media social, tak sedikit juga yang menanggapinya. Foto Presiden Jokowi tersebut menuai banyak pro dan kontra, bahkan ada yang beranggapan bahwa umroh yang dilakukan Jokowi hanya settingan yang dilakukan di dalam sebuah studio. Dari pihak Jokowi pun juga tidak tinggal diam, mereka membantah kalau foto yang beredar itu adalah foto editan yang dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, bertujuan untuk merusak nama baik Jokowi. Atau yang sering disebut black campaign.

Dua kondisi, tidak bolehnya Presiden Jokowi masuk ke Masjidil Haram ketika akan menjenguk korban, dan ‘pencitraan’ dalam situasi ihram, mungkinkah dapat dihubungkan?. Akan tetapi penulis tidak akan larut dalam jurang praduga. Itulah presiden kita, setiap tutur kata yang disampaikan dan perbuatan yang dilakukan selalu mengundang pro dan kontra. Dengan label yang sudah mengikat bahwa ‘presiden yang dikenal dengan gaya blusukan dan dekat dengan wong cilik’. Tapi bagaimanapun presiden Jokowi tetap presiden kita, presiden bagi bangsa Indonesia. (Fr)

%d blogger menyukai ini: