Sketsa News
Home Berita Terkini, News Ada Suara Azan di Ponsel Korban Tragedi Mina

Ada Suara Azan di Ponsel Korban Tragedi Mina

Jemaah haji korban tragedi Mina ( dok.daily mail)
Jemaah haji korban tragedi Mina ( dok.daily mail)

Sketsanews.com – Yahman Mistan Bin Meslam adalah salah satu jamaah kloter 10, asal Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat (Sulbar) yang meninggal dalam tragedi Mina pada 24 September 2015.

Sebelum tragedi Mina terjadi, berbagai kejadian aneh dialami sanak keluarga Yahman, beserta teman rombongan yang tergabung dalam kloter 10.

Salah satu kejadian aneh itu adalah terdengarnya suara azan dari telepon seluler Yahman saat dihubungi oleh putri keduanya Sri Wahyuni.

Sri Wahyuni tidak menyangka bahwa kejadian itu merupakan salah satu pertanda bahwa akan ada musibah yang menimpa ayahnya.

“Subhanallah, rupanya itu adalah pertanda kepergian ayah. Semoga beliau mendapat pengampunan dan ditempatkan di surga,” kata Sri Wahyuni dengan penuh kesedihan dan linangan air mata saat ditemui di rumahnya, dikutip Sketsanews.com dari Okezonecom, Minggu (27/9/2015).

Sri mengaku baru mengetahui kabar duka ini pertama kali dari jamaah yang satu kelompok dengan ayahnya. Awalnya ia tidak percaya, namun setelah mendapat berbagai informasi, pihak keluarga pun mulai percaya. Meski berat rasanya, namun ia dan keluarga yang lain berusaha untuk tetap tegar menerima kenyataan itu.

Korban Wafat Akibat Tragedi Mina Jadi 717 Orang

Tak hanya suara azan yang terdengar dari ponsel Yahman, kejadian aneh lainnya juga dialami teman rombongan Yahman dari kloter 10. Salah satunya yang mengalaminya adalah Abdul Rahim, Ketua Komisi IV DPRD Sulbar, yang kebetulan berhadapan kamar dengan Yahman di pemondokan 106 Mekkah.

Rahim menceritakan saat wukuf di Arafah, almarhum terlihat menangis tersedu-sedu. Sebagian jamaah, termasuk dirinya, merasakan firasat agak lain. Apalagi, setelah selesai wukuf di Arafah, almarhum sempat menangis saat khutbah wukuf dibacakan doa-doa permohonan ampun.

Bahkan, saat khatib menyelesaikan khutbahnya, almarhum berdiri dan mendatangi hampir satu per satu jamaah dalam rombongan kloter 10. “Yahman datang berjabat tangan dengan jamaah lain, memeluk dan meminta maaf,”ujar Rahim.

Bahkan, lanjut Rahim, dari pengakuan teman sekamarnya, almarhum sempat beberapa kali menyatakan akan lebih senang jika bisa mengakhiri hidup di Tanah Suci. “Subhanallah ini kekuasaan Allah,” tutupnya. (Ki)

%d blogger menyukai ini: