Sketsa News
Home Analisis, Berita Terkini, Headlines, Internasional, News Benarkah WNI Membelot dari ISIS?

Benarkah WNI Membelot dari ISIS?

isis-sketsanews

Sebanyak 85 orang anggota kelompok militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) dikabarkan telah melarikan diri dan membelot.

Sebagaimana dilansir dari media BBC, sebuah penelitian di Inggris mengungkapkan bahwa sejumlah pengikut ISIS yang membelot dan akhirnya berani buka suara. Mereka berasal dari berbagai negara, empat di antaranya berasal dari Indonesia.

Laporan tersebut disusun oleh Pusat Internasional untuk Studi Radikalisasi (ICSR) King’s College London. Ada 85 orang eks ISIS yang menceritakan pengalaman mereka selama bergabung dengan organisasi radikal tersebut. Sebagian ada yang anonim karena takut.

Dari sekian nama, empat di antara para eks anggota ISIS berasal dari Indonesia. Mereka semua diwawancarai oleh media The Jakarta Post dan The Straits Times. Belum jelas, sejauh mana keterlibatan mereka di ISIS Pusat Internasional untuk Studi Radikalisasi dan Politik Kekerasan (ISCR) di King College London, dalam laporannya menyatakan setidaknya 58 orang telah meninggalkan kelompok ekstrimis itu sejak Januari 2014.

Peter R Neumann, seorang profesor Studi Keamanan dan Direktur International Centre for the Study of Radicalization (ICSR) di King’s College London, menyampaikan hasil penelitiannya mengenai orang-orang yang keluar dari ISIS dan alasan mereka meninggalkan kelompok radikal tersebut. Dia berhasil meneliti 58 orang yang membelot dari ISIS.

Menurut Neumann, seperti dikutip CNN, ada fenomena baru dan sedang tumbuh saat ini. Dari 58 orang yang keluar dari ISIS, sepertiganya memutuskan hal itu pada 2015, dan sisanya pada musim panas tahun lalu.

Sedangkan dalam tiga bulan terakhir, Juni hingga Agustus, 17 orang telah membelot dari kelompok tersebut. Dalam pengakuannya, eks anggota ISIS mengaku tidak puas dengan kebijakan kelompok tersebut yang mengharuskan mereka membunuh sesama muslim Sunni, termasuk warga sipil yang tidak bersalah.

Alasan lain adalah kegagalan kelompok tersebut dalam menghadapi Presiden Bashar Al-Assad. “Suara para pembelot itu sangat kuat dan jelas. ISIS tidak melindungi umat Islam. ISIS membunuh mereka,” bunyi laporan itu seperti dikutip dari AFP, Selasa (22/9/2015).

Selain itu, para pembelot juga berpendapat bahwa pertempuran yang dilakukan oleh kelompok muslim Sunni ini, juga salah dan kontraproduktif serta menyalahi hukum agama. Menurut mereka, jihad yang dilakukan di Suriah dan Irak bukanlah jihad yang sesungguhnya.

Banyak anggota kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang membelot setelah mengetahui perilaku rekan atau komandan mereka. Alasan paling kuat dari keputusan mereka untuk keluar dari ISIS adalah kesadaran bahwa kelompok radikal tersebut ternyata membunuh sesama Muslim.

85 orang anggota ISIS yang dikabarkan melarikan diri dan membelot, empat orang di antaranya dari Indonesia yakni Abdul Hakim Munabari, Ahmad Junaedi, Helmi Alamudi, dan Mazlan.

Menurut kriminolog dari UI, Kemal Dermawan, aparat di Indonesia harus benar-benar mempelajari kabar tersebut. Sebab, kalau mereka pernah bergabung dengan IS, cukup sulit bagi negara untuk memberi perlindungan buat mereka.
“Artinya, kita harus tetap waspada, dan tidak cepat percaya begitu saja dengan pengakuan mereka. Harus ada tindakan-tindakan yang melibatkan berbagai lembaga pemerintah untuk mengklarifikasi kebenaran berita tersebut,” kata Kemal, dalam keterangannya, Jumat (25/9).

Menurut Kemal, empat orang yang kabarnya telah membelot dari ISIS itu masih sebagian kecil dari warga negara Indonesia (WNI) yang telah bergabung dengan kelompok militan tersebut. Namun, kabar itu tetap cukup positif bagi meredam propaganda IS.

Aktivis HAM dan dosen kajian Ilmu Kepolisian UI, Bambang Widodo Umar, menambahkan bahwa di satu sisi negara harus melindungi WNI yang menyatakan menyesal telah bergabung dengan IS dan ingin bergabung kembali.

“Negara harus memberikan penyadaran dan mengubah mindset mereka untuk mengabdi kepada Indonesia,” ujar Bambang.
Meski demikian, Bambang juga mengimbau keberadaan mereka tetap harus diwaspadai. Jangan sampai mereka yang menyatakan sadar dan ingin kembali ke NKRI, justru malah berpura-pura dan menyebarkan paham IS di Indonesia. (//citizendaily.net)

Analisis

Konflik di Suriah telah membuka imajinasi para ektrimis Indonesia. Untuk pertama kalinya, warga Indonesia pergi ke luar negeri untuk berperang, bukan hanya untuk berlatih sebagaimana ketika di Afghanisatan pada tahun 1980 dan 1990, atau untuk memberikan dukungan moral dan financial, sebagaimana masalah Palestina. Jumlahnya masih terbatas kira-kira 50 pada bulan Desember 2013, tetapi mereka masih bisa bertambah, begitulah perkiraan menteri luar negeri Indonesia.

Mengapa konflik Suriah menjadi perhatian seluruh masyarakat muslim sedunia, termasuk Indonesia. Bahkan beberapa bulan yang lalu, kita dikejutkan dengan hilangnya 16 WNI yang akhirnya mereka dideportasi oleh pemerintah Turki. Ada beberapa factor mengapa warga Indonesia berbondong-bondong pergi ke Suriah.

Menurut Sidney Jones, di dalam lembaga kajian yang dipimpinnya yaitu IPAC (Institute for Policy Analysis of Conflict) menyebut diantaranya; pertama, antusias kepada Suriah karena secara langsung dihubungkan dengan prediksi-prediksi doktrin perang akhir zaman, yang merupakan perang terakhir yang akan terjadi di wilayah Syam. Wilayah itu kadang disebut Suriah yang agung atau Levant, yang mencakup Suriah, Jordania, Lebanon, Palestina dan Israel.

Factor kedua, karena buku best seller. Buku strategi dua lengan yang ditulis oleh Abu Mus’ab As Suri dan sudah diterjemahkan dari bahasa Arab ke Indonesia. Banyak ekstrimis percaya bahwa kekacauan dan penderitaan yang disebabkan oleh Arab Spring, bisa menjadi sebuah sarana untuk mengembalikan Khilafah Islamiyah.

Factor ketiga adalah kekejaman yang dilakukan oleh pasukan pemerintah melawan kaum muslim sunni telah menjadi sandiwara yang luas di media lokal. Termasuk website-website kaum radikal yang sedang melakukan sebuah kampanye anti syiah, yang dipelopori oleh Presiden Suriah Bashar Al Assad sebelum konflik terjadi.

Faktor yang keempat bahwa Suriah lebih mudah dicapai oleh orang Indonesia, khususnya melalui Turki, dibanding konflik besar lainnya yang mendukung jihad global.

Siapakah WNI itu sebenarnya?

Dengan tersebarnya berita mengenai 16 WNI yang dideportasi oleh pemerintah Turki, maka Kementerian Luar Negeri Indonesia memastikan mereka bukan dari orang yang hilang setelah memisahkan diri dari kelompok wisatanya. “Mereka dari kelompok yang berbeda,” kata Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri, Lalu Muhammad Iqbal, kepada BBC Indonesia, Jumat (13/3/2015) pagi.

Dari hasil penyidikan, kemudian pihak kepolisian meringkus para pelaku dan penyalur simpatisan kelompok radikal Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) yang tersebar di wilayah Jabodetabek. Penangkapan terbaru yakni terhadap bos travel berisial AH alias M, di Petukangan Selatan, Jakarta Selatan.

Sebelumnya aparat kepolisian telah mengamankan pelaku di daerah Cisauk, Kabupaten Tangerang. Kemudian di kawasan perumahan Wisata Legenda Bogor dan Tambun Bekasi. Hari ini pihak kepolisian bekerjasama dengan Densus 88 dan Jatanras Polda Metro Jaya berhasil mengamankan satu pelaku penyalur ISIS.

Dari sanalah kemudian informasi berkembang, sehingga Detasemen Khusus 88 berhasil menangkap Ahmad Junaedi, yang diduga terlibat Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) berasal dari Malang, Jawa Timur. Junaedi ditangkap pada Rabu malam, 25 Maret 2015, tak lama setelah Densus 88 menangkap dua terduga anggota ISIS lainnya, Abdul Hakim Munabari dan Helmi Alamudi.

Ketiganya kembali ke Indonesia pada 2014, setelah menjalani pelatihan di kamp Suriah yang diberikan oleh Abu Jandal. “Mereka rata-rata tinggal selama 6 bulan di Suriah sebelum kembali ke Indonesia,” kata Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur Inspektur Jenderal Anas Yusuf, Kamis, 26 Maret 2015. Mereka dijerat dengan pasal 15 Jo pasal 7 UU no 15 tahun 2003 tentang Tindak Pidana Terorisme.

1. Abdul Hakim Munabari, si penjual kopi
Hakim (45) adalah orang yang mengunggah video perekrutan ISIS ke Youtube. Sehari-hari dia bekerja sebagai penjual kopi bubuk, yang dikenal dengan nama Kopi Maroko. Hakim tinggal bersama istri, dua orang anak yang masih kecil, dan dua saudara perempuan, di sebuah rumah di Jalan Ade Irma Suryani.

Menurut Kamelia, adik Hakim, ia dikenal sebagai pria yang pendiam di keluarganya. Namun demikian, tidak ada yang aneh dengan Hakim. Ia rajin beribadah di masjid sekitar rumahnya.

Dia bersekolah dari TK hingga SMA di Malang, lalu kemudian sempat merantau ke Malaysia. Pada Agustus 2013, Hakim pergi ke Suriah dan tinggal di sana selama 6 bulan. Hakim ditangkap pertama oleh Densus 88 di warung internet, di Jalan Arif Margono pada pukul 10.00 WIB.

2. Helmi Alamudi, pengelola pesantren
Helmi (51) tinggal di Jalan Soputan, Kecamatan Sukun Malang. Ia mengelola pesantren di Jalan Mega Mendung. Ia diduga bertindak sebagai fasilitator untuk memberangkatkan pengikut ISIS dari Jawa Timur ke Suriah.
Helmi tinggal bersama istri dan tiga anaknya di rumah milik mertua. “Dia ditengarai sudah memberangkatan 18 WNI ke Suriah,” kata Anas. Ia ditangkap polisi pada pukul 11.00 WIB di Taman Agung, Jalan Arif Margono.

3. Ahmad Junaedi, si juragan bakso
Ahmad Junaedi (34) bekerja sebagai juragan bakso. Ia tinggal di sebuah rumah kontrakan di Dusun Tumpak Lengkong. Sama dengan Hakim, Junaedi juga mengunggah video untuk merekrut anggota baru ISIS ke Youtube. Ia sempat bergabung dengan ISIS di Suriah pada 2014.

“Dia berada lima bulan di sana dan mendapat pengetahuan militer seperti bongkar pasang senjata, merakit bom dan teknik lain. Juga pelatihan ideologi,” kata Anas. Dia ditangkap di perempatan Pasar Gadang, Kedungkandang, pukul 18.30 WIB.

DISENGAGEMENT DAN DERADIKALISASI

Mengacu pada pendapat Golose (2009), tanpa mengenyampingkan pendekatan hard line approach, secara umum Indonesia saat ini lebih mengedepankan soft line approach. Hal ini didasari adanya kesadaran bahwa penggunaan kekerasan, dalam mengatasi aksi teror tidak benar-benar berhasil menyelesaikan permasalahan terorisme hingga ke akarnya. Oleh karena itu, penanggulangan aksi teroris di Indonesia yang dilakukan secara khusus oleh Satuan Tugas Bom (Satgas Bom) Polri, kemudian menerapkan program deradikalisasi.

Dalam konteks Indonesia, Rabasa, et.al., (2010) menilai bahwa pendekatan deradikalisasi dijalankan pada dua tingkatan; pertama, penempatan atau pengawasan intelijen pada jaringan atau pergerakan kelompok teroris. Kedua, upaya mengembalikan teroris yang telah menjalani masa hukuman ketika kembali ke masyarakat. Jadi kunci deradikalisasi di Indonesia adalah, bukan pada tataran upaya merubah pola pikir pelaku, melainkan lebih pada penegakan hukum. Dapat dilakukan dengan mengedepankan operasi intelijen pada jaringan teroris, guna mencegah kembalinya terjadi serangan. Dimana pada saat menjalani masa hukuman, diharapkan si pelaku memperoleh ”keinsyafan”.

Deradikalisasi maupun disengagement merupakan bagian dari upaya counterterrorism. Berbeda dengan deradikalisasi yang diartikan sebagai moderatisasi pemikiran, disengagement di sini lebih diartikan sebagai ”memutus-ikatan” atau dalam hal ini menarik keluar pelaku dengan merubah perilaku agar tidak memilih jalan kekerasan. Menurut Hochschild (1975), teori ini pertama kali dikemukakan Cumming et.al., dalam bunga rampai ”Growing Old”, dalam artikel Elaine Cumming dan William Henry yang menggunakan pendekatan psikologis, mencoba menjelaskan fenomena berubahnya seseorang menjadi ”menyendiri” terpisah dari sosialnya.

Cumming dan Henry menyusun teori ini berdasarkan asumsi adanya hubungan saling mempengaruhi antara individu dengan lingkungan sosialnya, ataupun sebaliknya. Kemudian menggambarkan ”penarikan diri” seseorang dari lingkungannya (desosialisasi) terjadi seiring bertambahnya umur. Konsep utama mereka adalah ’culture-free’ dari yang sebelumnya ’culture-bound’ (Hochschild, 1975).

JARING DAN PANCING INTELEJEN

Siasat “Pancing dan Jaring” digunakan oleh Moertopo untuk menyusup ke kalangan Islam, melakukan pembusukan dengan berbagai upaya provokasi, kemudian memberangusnya. Operasi intelijen tersebut pada saat ini mirip dengan apa yang dilakukan oleh Densus 88, sebuah detasemen yang juga dikendalikan oleh musuh-musuh Islam, dengan tujuan yang sama. Beberapa peristiwa seperti Komando Jihad, tragedi Haur Koneng, penyerangan Polsek Cicendo, Jamaah Imran, dan Tragedi pembajakan pesawat Woyla, tak lepas dari siasat licik Moertopo. Stigma “ekstrem kanan” yang ditujukan kepada umat Islam dan “ekstrem kiri” yang ditujukan kepada anggota dan simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI), juga hasil dari kerja intelijen Moertopo.

Umat Islam dipancing, kemudian dijaring dan diberangus. Sebagian yang tak kuat iman, dikendalikan, kemudian digalang untuk bekerjasama dengan penguasa. Pada peristiwa Komando Jihad misalnya, simpatisan Darul Islam (DI) dan Tentara Islam Indonesia (TII), dipropaganda dan dimobilisasi oleh Ali Moertopo untuk melakukan perlawanan terhadap ancaman Komunis dari Utara (Vietnam). Ali Moertopo kemudian mendekati beberapa orang tokoh DI, yaitu Haji Ismail Pranoto, Haji Danu Muhammad Hassan, Adah Djaelani, dan Warman untuk menggalang kekuatan umat Islam, yang memang sangat memendam luka sejarah terhadap komunisme.

Setelah ribuan umat Islam termobilisasi di Jawa dan Sumatera, dengan siasat liciknya, Moertopo kemudian menuduh umat Islam akan melakukan tindakan subversif dengan mendirikan Dewan Revolusi Islam lewat sebuah organisasi “Komando Jihad (KOMJI)”. Mereka kemudian digulung dan dicap sebagai “ekstrem kanan”. Istilah “Komando Jihad” muncul pada tahun 1976 sampai 1982. Selain KOMJI, rekayasa intelijen juga terlihat jelas dalam kasus Jamaah Imran, Cicendo, dan pembajakan pesawat DC-9 Woyla. Jamaah Imran adalah kumpulan anak-anak muda yang dipimpin oleh Imran bin Muhammad Zein, pria asal Medan. Aktivitas kelompok yang didirikan pada 7 Desember 1975 ini berpusat di Bandung, Jawa Barat.

Dari sini kemudian muncul pertanyaan, apakah keempat WNI yang diberitakan membelot ISIS oleh media merupakan umpan untuk menjaring lebih banyak lagi orang yang kontra dengan ISIS?

Kesimpulan

Berdasarkan data dan analisa diatas, maka bisa kita tarik kesimpulan:

Pertama, Warga Negara Indonesia yang diduga membelot dari ISIS tidaklah benar dan ini perlu adanya klarifikasi. Karena orang-orang tersebut beberapa bulan setelah mereka pulang dari Suriah, langsung ditangkap oleh Densus 88 AT.

Kedua, kemungkinan WNI yang dikabarkan membelot dari ISIS bisa jadi terkena program deradikalisasi dan disengagement selama menjalani proses hukum. Ketiga, Adanya permainan intelijen dan peran media dalam rangka menggalang opini massa untuk mencari orang atau lembaga yang kontra dengan ISIS untuk dijadikan sebagai target operasi. (Jp)

%d blogger menyukai ini: