Sketsa News
Home Berita Terkini, News Pasal kretek pada RUU Kebudayaan, bikin sia-sia segalanya

Pasal kretek pada RUU Kebudayaan, bikin sia-sia segalanya

20130601007
Sketsanews.com – Penggiat anti-rokok menilai masuknya pasal kretek dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) Kebudayaan akan menyianyiakan upaya pengendalian konsumsi rokok.

“Upaya yang telah dilakukan selama ini untuk mengendalikan konsumsi rokok akan sia-sia. Kembali ke zaman Jahiliyah. Relakah kita?,” ujar Koordinator Koalisi Smoke Free Jakarta, Dollaris Riauaty Suhadi kepada ANTARA News, Jumat.

Dollaris menilai DPR sedang mengalihkan perhatian masyarakat dari RUU Pertembakauan.

Pasal 37 dalam RUU Kebudayaan menyebutkan, kretek tradisional adalah sejarah dan warisan kebudayaan yang harus dihargai, diakui serta dilindungi pemerintah dan pemerintah daerah.

“Ini merupakan persekongkolan DPR dan industri rokok yang 80 persennya milik asing. DPR telah membunuh rakyatnya sendiri, anak-anak dan generasi muda bangsa,” kata dia.

Dollaris siap menggugat DPR ke Mahkamah Konstitusi bila lembaga ini mensahkan pasal kretek menjadi Undang-Undang, selain akan membeberkan semua fakta kebohongan industri rokok kepada publik.

“Kami akan membeberkan semua borok dan kebohongan-kebohongan industri rokok, dengan fakta dan angka. Dan sampai kapan pun, kalau RUU ini lolos maka kami akan ke MK,” pungkas Dollaris.

Data Global Adut Tobacco Survey (GATS) Indonesia pada 2011, Indonesia menduduki posisi pertama dengan prevalensi perokok aktif tertinggi, yakni 67,07 persen pada laki-laki dan 2,7 persen pada perempuan.

Sementara pada 2015, setiap tahun lebih dari 217.400 orang di Indonesia meninggal dunia akibat penyakit yang berhubungan dengan tembakau.

Pemerintah sebenarnya telah menelurkan Undang-Undang Kesehatan Indonesia No.36/2009 yang menyebut tembakau dan produk tembakau zat adiktif.

Lalu, Peraturan Pemerintah No.109 tahun 2012 tentang pengamanan bahan yang mengandung zat adiktif berupa produk tembakau bagi kesehatan.

Kemudian, lebih dari 20 pemerintah daerah sepakat membuat peraturan daerah untuk Kawasan Tanpa Rokok (KTR) sebagai wujud kepedulian terhadap kesehatan rakyatnya.

Mengenai Masuknya pasal kretek dalam RUU Kebudayaan oleh DPR menuai beragam tanggapan dari masyarakat. Sebagian dari mereka menyepakati hal ini akan berdampak pada sejumlah aspek.

Menurut Annisa (25), ada kekhawatiran nanti konsumsi rokok semakin marak, mengingat saat ini masyarakat terutama anak-anak bisa sangat mudah mengakses rokok.

“Tanpa kretek dijadikan warisan budaya pun, masyarakat terutama kaum muda bahkan anak-anak pun sudah bebas menghisap rokok. Saya khawatir bahaya ke depan, mungkin rokok menjadi sesuatu yang dilegalkan,” ujar Annisa, kepada www.antaranews.com, di Jakarta, Jumat.

Sementara itu, menurut Herni Mardiani (45), rokok sekalipun kretek, jelas merugikan kesehatan, memunculkan berbagai penyakit mulai dari paru-paru, kanker, bahkan kematian terutama bagi penggunanya. Indonesia sangat liberal dalam tata niaga rokok, bahkan kios rokok terang-terangan memajang produk ini di lingkungan sekolah.

Di Thailand, warung-warung tidak boleh menunjukkan bungkusan rokok yang dijual. Semuanya ditutup “tirai” yang hanya dibuka hanya sekejap jika ada pembeli yang harus bisa menunjukkan bahwa dia sudah berusia dewasa. Pembeli tidak boleh meminta penjual berlama-lama membuka “tirai” itu.

“Dari sisi kesehatan, jelas, rokok kretek sekalipun tidak baik,” ujar dia, dalam kesempatan berbeda.

Kendati begitu, dia maupun Annisa sama-sama memandang ada sisi positif dalam hal ini.

Mardiani mengungkapkan, pengesahan kretek sebagai warisan budaya bisa membangkitkan kembali perkebunan cengkeh.

“Efek dominonya khan bisa ke perkebunan cengkeh yang harus digalakkan lagi, lalu penyerapan tenaga kerja di pabrik atau di kebun,” tutur ibu dari tiga orang puteri itu.

Sementara itu, bagi Annisa, kretek memang produk budaya asli Indonesia, sehingga bisa saja bila dijadikan warisan budaya.

“Sebenarnya saya setuju karena memang itu ciri khas Indonesia. Belum lagi harganya mahal. Mungkin saja bisa menjadi warisan budaya. Kemudian, bisa meningkatkan ekspor, jadi bisa menambah pemasukan devisa,” tutur Annisa.

“Tetapi kalau untuk anak muda, mungkin tidak terlalu berdampak ya. Soalnya anak muda lebih prestise kalau menghisap rokok putih,” kata alumnus jurusan antropologi Universitas Indonesia itu.

Belum lama ini, DPR mengajukan pasal rokok kreteg ke dalam RUU Kebudayaan (Pasal 37 RUU Kebudayaan).

Di dalam pasal itu disebutkan, kretek tradisional itu sejarah dan warisan kebudayaan yang harus dihargai, diakui serta dilindungi pemerintah dan pemerintah daerah.(Ki)
Sumber: Antaranews.com

%d blogger menyukai ini: