Sketsa News
Home Berita Terkini, News Hanya Perkiraan Dukun, Oknum Polisi Main Bakar Warga Simo

Hanya Perkiraan Dukun, Oknum Polisi Main Bakar Warga Simo

Sketsanews.com –  Edi Susanto, 18, Warga Dukuh Jetis, Desa Blagung, Kecamatan Simo yang dipukuli dan dibakar oleh TI, 23, oknum anggota Polres Wonogiri dan konco-konconya karena dituduh melakukan pencurian, hingga kemarin belum keluar dari Rumah Sakit Islam Surakarta (RSIS) Kartasura, Sukoharjo. Edi yang dirawat sejak 11 September itu menghadapi masalah baru yakni kesulitan membayar biaya rumah sakit.

Kerabat Edi, Ahmad, 36 menjelaskan, Edi kerap mengigau dan berbicara ngelantur. ”Saya rasa luka bakar 80 persen tangan total, bawah badan total. Pinggul dan pinggang terbakar api, wajahnya tidak,” kata Ahmad.

Diterangkan Ahmad, awalnya keluarga para tersangka bersedia membiayai pengobatan Edi sampai sembuh. Namun setelah mengetahui biaya yang dibutuhkan cukup besar, mereka ingin mengalihkan ke pembiayaan melalui Badan Penyelengara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan dan pindah rumah sakit.

”Keluarga tersangka tidak sanggup biayai pengobatan. Terus tawarkan perawatan BPJS. Jelas saya menolak itu. Berani berbuat, berani tanggung jawab. Kalau lihat kondisi saat ini, Edi itu hidup tidak, mati pun tidak,” keluhnya.

Saat ini, imbuh Ahmad, biaya pengobatan Edi sudah membengkak senilai lebih dari Rp 31 Juta. Sedangkan total biaya yang harus ditanggung sementara hampir menyentuh Rp 94 Juta. Sedangkan keluarga tersangka baru memberi uang untuk pengobatan senilai Rp 62.300.000.

Selama hampir satu bulan dirawat di RSIS, tak satupun perwakilan anggota kepolisian yang membesuk Edi. Baik dari perwakilan Polres Boyolali yang wilayah hukumnya menjadi tempat kejadian maupun Polres Wonogiri selaku tempat TI bertugas.

Lebih lanjut diterangkan Ahmad, TI sebenarnya masih memiliki hubungan keluarga dengan Edi. Dia tak menyangka TI Cs tega memukuli dan membakar kaki Edi karena tuduhan melakukan pencurian. Namun tuduhan tersebut belum terbukti karena hanya berdasar perkiraan dukun.

”Kalau aparat (TI) seharusnya tahu aturan hukum. Bukan dia sendiri yang tangani. Tapi ini justru dia sendiri yang tangani,” tandas Ahmad.

Sementara itu ayah Edi, Toyani ,53, mengaku ikhlas jika akhirnya Edi meninggal dunia. ”Kalau harus meninggal saya ikhlas, kalau sembuh mohon disegerakan. Saya serahkan pada Tuhan. Saya tidak tega melihat kondisinya saat ini,” tuturnya lirih. Toyani juga sama sekali tak yakin Edi melakukan pencurian seperti yang dituduhkan.

Pantauan Jawa Pos Radar Solo siang kemarin, Edi masih terbujur kaku di RSIS. Layaknya mumi, sebagian besar tubuhnya dibalut perban putih. (din/wa/RadarSolo)

(in)

%d blogger menyukai ini: