Sketsa News
Home Berita Terkini, News Hari ini Malam Satu Suro, Adakah Mitos dan Faktanya?

Hari ini Malam Satu Suro, Adakah Mitos dan Faktanya?

Sketsanews.com –  Tahun ini, malam 1 Suro 2015 jatuh pada Rabu tanggal 13 Oktober, atau malam ini, karena hari hijriah maupun jawa dihitung saat matahari terbenam (saat maghrib).

Menurut wikipedia Indonesia, Satu Suro adalah hari pertama dalam kalender Jawa di bulan Sura atau Suro di mana bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender hijriyah, karena Kalender jawa yang diterbitkan Sultan Agung mengacu penanggalan Hijriyah (Islam).

Satu suro biasanya diperingati pada malam hari setelah magrib pada hari sebelum tangal satu biasanya disebut malam satu suro, hal ini karena pergantian hari Jawa dimulai pada saat matahari terbenam dari hari sebelumnya, bukan pada tengah malam (wikipedia).

Berikut cuplikan beberapa kegiatan masyarakat yang mengadakan kegiatan untuk menyambut bulan suro.

 

Semarang, Ritual Kungkum (berendam) di Sungai Tugu Suharto

Seperti diketahui, Tugu Suharto atau Tugu Soeharto adalah salah satu tugu unik yang berlokadi di sungai di kawasan Kelurahan Bendan Duwur, Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang, Jawa Tengah. Akan tetapi, banyak warga mengatakan bahwa lokasi Tugu Suharto adalah di Sampangan Semarang.

Tugu yang dibangun pada 30 September 1965 sampai 1 Oktober 1965. Tugu Suharto Sampangan Semarang memang terkenal dengan aroma mistik, terbukti adanya pertemuan arus sungai dengan suhu yang berbeda yaitu sungai Kreo dan sungai Ungaran, juga cerita mistik terkait jembatan yang menghubungkan antara Kecamatan Ngaliyan dan gajahmungkur. Jadi tak jarang banyak warga yang datang berkunjung pada 1 Suro 1437/2015M.

Mereka hanya  mengikuti tradisi kungkum karena menurutnya itu sudah menjadi tradisi sejak dulu dan hanya mengikuti dan meneruskan tradisi saja tanpa mengerti apa sebenarnya manfaat dari kungkum yang sebenarnya.

Mereka hanya mendengar cerita-cerita dan petuah-petuah dari para pendahulunya yang dijadikan penghubung antara generasi yang telah meninggal dengan generasi yang masih hidup dalam suatu masyarakat.

Dalam masyarakat tanpa adanya tulisan yang jelas, namun tradisi dapat disimpan dalam memori dan penyampaian yang berulang-ulang. Mereka hanya bercerita secara lisan tanpa memberikan data atau bukti tertulis tentang berdirinya Tugu Soeharto ini. (dikutip dari HarianJateng)

 

Jawa Tengah, Lek-Lekan (Tidak Tidur Semalam Suntuk)

Tradisi begadang semalam suntuk (lek-lekan) di malam suro dapat dijumpai di sebagian besar masyarakat Jawa Tengah. Warga di kampung biasanya sudah menyiapkan acara masing-masing. Ada yang  didahului dengan selametan sebelum sekadar berkumpul dan lek-lekan di pos ronda, mengobrol di depan rumah atau makan-makan di gang.

 

Solo, Suro jadi Bulan Budaya

Menyambut 1 Sura, sebanyak 33 agenda seni dan budaya bernuansa reflektif dan spiritual digelar dalam acara Sura Bulan Kebudayaan 2015 dengan tema besar Solo Adi Kampung. Rangkaian acara ini dirancang sebagai wadah meditasi kreatif masyarakat Kota Solo dan sekitarnya.

Ragam kebudayaan ditampilkan, seperti Sura Merti Pasar (Tumpengan & Kethoprak Ngampung) di Pasar Ngarsopuro, Jamasan pusaka, hingga Pergelaran wayang kulit semalam suntuk. Selengkapnya bisa diliat pada tautan Solopos.

 

Kirab Pusaka

Panitia Pelaksana Kirab Pusaka Satu Sura Pura Mangkunegaran, M.Ng. Joko Pramodyo, mengemukakan terdapat tiga acara inti pada penyambutan Malam Satu Sura.

“Acaranya diawali kirab pusaka yang dimulai pukul 19.00 WIB. Saat kirab sudah diberangkatkan, di Masjid Al Wustho digelar tadarusan [mengaji bersama]. Selesai kirab, di Ndalem Ageng dilaksanakan Pasemeden [doa bersama] mulai pukul 24.00 WIB,” jelasnya ketika ditemui Solopos.com di Pendapa Ageng Pura Mangkunegaran, Senin (12/10/2015).

Joko mengatakan Kirab Satu Sura tahun ini bakal diikuti 200 pegara inti yang terdiri atas cucuk lampah, pangapit pusaka, pembawa pusaka, serta pengiring pusaka.

** Kirab Pusaka ARDIANSYAH_SOLO_SURA-MANGKUNEGARAN (solopos.com)

“Rombongan akan mengiringi pusaka yang dikersani [dikehendaki] Sri Paduka Mangkunagoro IX. Rute kirab mengelilingi kompleks istana seluas 10 hektare. Masyarakat yang ingin mengikuti kirab dipersilakan,” terangnya. (dikutip dari Solopos)

 

Jogja, Topo Bisu dan Mubeng Beteng

KRT Rinta Iswara sebagai Carik Tepas Tanda Yekti Kraton Ngayogyakarta,  menjelaskan bawasanya penanggalan Jawa mengenal siklus delapan tahunan yang memiliki sebutan tersendiri. Ada tahun Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu dan Jimakir. “Nah tahun ini adalah tahun Jimawal sehingga 1 Suro jatuh tepat Kamis Pahing (Rabu, 14/10/2015) lepas pukul 16.00 WIB,” lanjutnya.

** Mubeng Beteng (antara.com)

Oleh karena itulah Kraton berpegang bahwa peringatan 1 Suro yang oleh masyarakat DIY dan sekitarnya dimanfaatkan untuk ritual Topo Bisu Mubeng Beteng dilaksanakan pada Rabu (14/10/2015) malam. Ritual akan dimulai pada pukul 21.30 WIB dan peserta topo bisu akan mulai berjalan pukul 24.00 WIB. (dikutip dari KRJogja)

 

 

Aktivis Muda, Kesempatan Naik Gunung

Ribuan orang pendaki dari berbagai daerah melakukan pendakian ke puncak Gunung Merapi melalui Desa Lencoh Kecamatan Selo Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, pada malam satu Sura (kalender Jawa).

** Sejumlah pendaki membuka tenda di bawah kaki Gunung Merapi yakni Pasar Bubrah (solopos.com)

“Jumlah mendaki dari berbagai daerah seperti Klaten, Solo, Semarang, Yogyakarta dan Boyolali sudah mulai berdatangan ke Base Camp di Dukuh Plalangan Lencoh Boyolali,” kata petugas jaga retribusi pendakian dari Badan Taman Nasional GunungMerapi BTNGM, Samsuri, di Boyolali, Selasa petang.

Menurut Samsuri, dengan kondisi cuaca di lereng Gunung Merapiyang memiliki ketinggian sekitar 2.913 meter di atas permukaan air laut tersebut cukup mendukung kegiatan pendakian ke puncak.

Oleh karena itu, ia memperkirakan jumlah pendaki ke Merapi malam Sura tahun ini, diperkirakan mencapai sekitar 2.000-an orang atau menurun dibandingan tahun sebelum malam Sura mencapai 3.000 orang.

Menurut dia, pendakian Gunung Merapi merupakan salah satu objek wisata di Boyolali yang masih banyak digemari masyarakat pecinta alam. (TribunnewsJogja)

 

Ulama Salaf, berkaitan dengan Tahun Baru Hijriyah

Tahun baru seseorang dimulai dari tanggal lahirnya. Para ulama Salaf memperhatikan tahun ke-7, 10, 15, dan 40 berdasarkan pesan Nabi dan firman Allah. Mereka tidak merayakan ulang tahun. Mereka pun tidak merayakan tahun baru. Bahkan tidak pula tahun baru hijriyah.

Tahun ke-7 adalah tahun ketika seorang anak harus mulai diajari shalat. Tahun ke-10 adalah tahun ketika seorang anak harus dipukul jika meninggalkan shalat. Tahun ke-15 adalah tahun apabila anak laki-laki belum bermimpi atau anak perempuan belum haid dihukumi sudah balig. Tahun ke-40 adalah tahun kematangan seseorang (lihat: al-Ahqaf ayat 15)

(in)

%d blogger menyukai ini: