Sketsa News
Home Berita Terkini, News, Opini Mengenal @DediMulyadi71 Bupati Purwakarta, Pemimpin yang Mengubah

Mengenal @DediMulyadi71 Bupati Purwakarta, Pemimpin yang Mengubah

Di Jawa barat, selain Ridwan Kamil, ada satu lagi Kepala Daerah yang berhasil mencuri perhatian saya. Namanya Dedi Mulyadi, Bupati Purwakarta sekarang.

Dedi Mulyadi, Pemimpin yang Mengubah

Kang Emil (Ridwan Kamil) telah mencuri perhatian karena gebrakannya dalam penataan kota Bandung. Sejumlah alun-alun dan ruang publik diubah menjadi taman yang bukan saja indah, tetapi juga dapat dinikmati oleh para warga sebagai arena sosial yang sangat bermanfaat. Masyarakat kini menikmati kotanya, dan merasa memilikinya.

Terakhir sekarang tengah ia membangun kawasan terpadu yang luas di bilangan Jalan Jakarta, dalam rangka mewujudkan Smart City. Secara fisik, Kota Bandung mengalami perubahan yang signifikan. Masyarakat menyaksikan sendiri perubahan itu, dan merasakannya. Di tangan RK, fisik Kota Bandung berubah sangat berarti dan disyukuri.

Namanya kian dikenal publik nasional saat Kota Bandung menjadi tuan rumah KAA (Konferensi Asia Afrika) beberapa bulan lalu. KAA kemarin bukan saja menjadi panggung bagi Presiden RI, Jokowi, yang sempat menyampaikan pidato mencengangkan, tetapi juga bagi Walikota muda ini. Warga Bandung khususnya kini telah memiliki idola baru dan figur kebanggaan baru yang dihaharapkan bisa melangkah lebih jauh lagi.

Bagaimana dengan Kang Dedi (Dedi Mulyadi)? Dari media, kita sudah mendengar gebrakan apa yang sudah ia lakukan di daerahnya. Bagi yang pernah berkunjung ke Purwakarta sekarang-sekarang ini, bisa menyaksikannya sejak keluar dari pintu tol. Di kiri kanan jalan, kita saksikan banyak semacam menara di atas trotoar yang rindang dengan pepohonan. Purwakarta sejuk dan rindang.

Semakin ke dalam kota, kita segera melihat banyak patung besar tokoh nasional dan pewayangan seolah menjadi penghuni baru di kota ini. Adanya patung-patung besar di kota Purwakarta ini seakan menjadi ciri khas Purwakarta saat ini. Sehingga jika disebut nama Purwakarta, orang-orang akan bilang, “Oh kota yang banyak patungnya itu ya…?”

Tetapi bukan pembangunan fisik yang membuat Kang Dedi menarik perhatian saya. Malah saya tidak terlalu memperhatikannya. Sekalipun ia juga menata fisik Purwakarta, tetapi yang membuat saya tertarik adalah, ia nampak dominan menata MINDSET, KESADARAN dan PERILAKU warganya. Mengubah dan menata mindset, kesadaran, dan perilaku ini yang saya lihat sangat penting, bahkan lebih utama.

Dan ini yang menonjol dari sosok Kang Dedi. Sesuatu yang tidak dilakukan oleh kebanyakan kepala daerah. Kebanyakan kepala daerah yang bagus, baru sampai menata fisik kota, belum menyentuh perubahan mindset, kesadaran, dan perilaku.

Selain itu, Kang Dedi berhasil “merebut” ikon Sunda dari daerah-daerah Sunda di Jawa Barat lainnnya. Di tangannya, Purwakarta menjadi kabupaten Sunda. Sehingga kalau orang berbicara Sunda, perlu melirik Purwakarta. Dengan penampilannya yang sering menggunakan pangsi putih dan iket kepala putih, yang diikuti oleh bawahannya, dalam berbagai acara resmi, seolah ia ingin meneguhkan ini. Purwakarta adalah Sunda. Dan Sunda (ada di) Purwakarta.

Beberapa bulan lalu, setelah panggung KAA selesai, ia menjadi satu-satunya kepala daerah di Indonesia yang mendapat panggung di atas podium PBB di New York. Yang menarik, ia tampil dengan pakaian Sunda, lengkap dengan pangsi dan iketnya. Saat berpidato, ia pula anak Sunda pertama yang memperkenalkan salam Sampurasun di forum internasional, di atas podium PBB di New York itu.

Dulu, negeri Sunda ada di daerah Galuh (Ciamis sekarang, Raja Wastukencana). Kemudian berpindah ke Pakuan (Bogor sekarang, dengan Raja Sri Baduga Siliwangi). Sekarang sepertinya negeri Sunda berpindah ke Purwakarta. Meskipun aset-aset Sunda (budaya dan heritage) tersebar di banyak daerah di Jawa Barat, tetapi sekarang kalau berbicara tentang Sunda, Purwakarta tidak lagi dilewatkan. Apalagi Kang Dedi beberapa kali menyelenggarakan festival Sunda dengan mengundang berbagai kalangan budaya dari mancanegara. Ia bukan saja mengenalkan Sunda di forum PBB di New York, tetapi juga mengundang warga mancanegara mengenal Sunda di Purwakarta.

Sejauh pengamatan saya, Kang Dedi adalah tipe pemimpin yang memiliki inisiatif dan keinginan. Ia bukan tipe pemimpin yang linear. Ia tipe pemimpin yang mengubah. Ia telah melewati dua fase tipe kepemimpinan, yakni pemimpin administrative dan pemimpin membangun. Ia telah berada di di tipe ketiga, pemimpin yang mengubah. Sekalipun yang kontra tidak sedikit, tetapi sebagai pemimpin yang mengubah, ia harus memang focus pada apa yang diyakininya benar. Dan selagi ada kesempatan untuk mengubah Purwakarta, ia memang harus menggunakan kesempatan ini dengan baik.

Inilah beberapa kebijakan Kang Dedi yang saya anggap mengubah mindset, kesadaran dan perilaku masyarakat, yang saya apresiasi.

PERTAMA, mengubah jam sekolah menjadi lebih pagi, mulai jam 06.00 pagi. Perubahan ini jelas akan mengubah mindset dan perilaku masyarakat, berbagai lapisan, termasuk orang tua, apalagi para siswanya. Pola tidur siswa akan berubah, pola bermain siswa akan berubah, pola belajar siswa juga akan berubah. Para orang tua harus turut berubah karena mesti mengimbangi perubahan timing dan perilaku anak-anaknya yang jadi siswa sekolah. Para guru dan jajaran sekolah juga turut berubah. Pola perilaku di kalangan transportasi juga berubah. Jalanan raya juga akan mengalami perubahan.

Secara sekilas, peraturan ini mungkin terlihat sederhana. Namun pengaruhnya bisa mengarah ke mana-mana, sehingga terjadi perubahan perilaku di berbagai sektor.

KEDUA, mulai 01 Oktober 2015, berlaku larangan merokok bagi pelajar. Larangan juga berlaku bagi supermarket, mini market, warung, toko untuk menjual rokok bagi pelajar.

Orang tua pelajar di rumah tidak diperkenankan memberikan uang untuk membeli rokok pada anaknya. Dan larangan ini diikuti dengan sanksi berikut: “…bagi pemilik usaha yang melanggar ketentuan ini, kami tidak akan segan untuk menutup usahanya; bagi pelajar yang melanggar peraturan ini, jangan harap kalian bisa naik kelas, juga para orang tua yang melanggar aturan ini, jaminan kesehatan dari pemerintah daerah untuknya kami cabut.”

Sebagian orang tentu tidak setuju dengan larangan merokok seperti ini. Tetapi jangan lupa, ini bukan larangan untuk semua kalangan, melainkan larangan hanya bagi para pelajar, generasi kuncup yang sedang dirawat dan dibina untuk tumbuh menjadi generasi yang sehat, produktif dan kompetitif. Kalangan yang peduli pendidikan dan kualitas remaja (pastinya, atau harusnya) setuju dengan larangan ini. Seorang pemimpin berkewajiban menyiapkan para pelajar dan generasi mudanya sehat dan tumbuh berpengharapan.

Dampak kebijakan ini tentu akan mengubah mindset, kesadaran dan perilaku warga. Dan yang berubah bukan saja anak-anak pelajar, tetapi juga para orang tua mereka, bahkan para guru dan orang-orang yang ada di lingkungan persekolahan. Ketika para pelajar dilarang merokok, apakah pantas kepala sekolah, para guru, atau staf dan pegawai persekolahan merokok di lingkungan sekolah apalagi sampai terlihat oleh para pelajar?

Tentunya sekolah mesti menindaklanjuti larangan ini dengan peraturan lokal di sekolah masing-masing. Budaya dan lingkungan sekolah turut berubah (atau dipaksa berubah lebih baik dan sehat).

KETIGA, kebijakan mengenai pasangan yang hendak menikah. Calon suami-isteri yang hendak menikah diharuskan mengikuti TES HIV/AIDS. Dan biayanya ditanggung oleh Pemkab. Kebijakan ini pasti ada yang tidak setuju. Namun filosofi yang terkandung dalam kebijakan ini adalah, pemerintah Purwakarta ingin memastikan bahwa para calon pengantin itu sehat, dan kondisi kesehatannya diketahui oleh kedua mempelai.

Tanpa adanya peraturan ini, seorang pasangan tidak mungkin berani mengajukan tes kepada pasangannya, misalnya untuk melindungi kesehatan dirinya kelak. Dengan adanya peraturan ini, hak setiap pasangan untuk mengetahui kesehatan reproduksi pasangannya terpenuhi, tanpa sungkan, bahkan gratis.

Jika pun akhirnya diketahui pasangannya positif HIV, misalnya, maka berdasarkan prinsip maqashid al-asyr`i, si pasangan bisa mempertimbangkan keputusan dengan benar. Jika pun tetap harus menikah, setidaknya mereka tahu bagaimana cara berhubungan dengan sehat, tanpa menzalimi pasangan yang sehat.

Dengan kebijkannya ini, Kang Dedi ingin memastikan bahwa setiap pengantin di daerahnya dalam kondisi sehat. Sehingga kelak, lahir keturunan-keturunan dan generasi yang sehat di Purwakarta. Sebagai pemimpin, ia sudah berusaha menjaga dan melindungi warganya dari penyakit ini, dan berupaya agar generasi yang lahir di Purwakarta sehat dan kuat.

Apa dampak perubahan mindset, kesadaran dan perilaku dari kebijakan ini? Anak-anak remaja dan muda yang sebelumnya pernah atau terbiasa melakukan kebiasaan hidup tidak sehat (baca: seks tidak benar), harus berpikir ulang untuk mengulangi tindakan serupa. Mindset dan kesadaran mereka dipaksa harus berubah, kecuali jika mereka memang tidak ingin menikah selamanya. Jika mindset dan kesadaran mereka sudah berubah, perlilakunya akan lebih mudah berubah.

Sementara bagi mereka yang sudah terbiasa hidup sehat, mereka mendapatkan semacam jaminan bahwa pasangannya kelak juga sama-sama sehat.

KEEMPAT, mulai bulan Dzulhijjah 1436 kemarin, September 2015, Kang Dedi mengeluarkan Imbauan kepada seluruh warganya agar Mematikan Lampu Luar Rumahnya pada saat Malam Purnama, dan berbaur bersama Purnama di luar, mengadakan kegiatan-kegiatan sosial yang diisi dengan kaulinan barudak Sunda. Acara dikelola oleh RT/RW setempat, dan pemda memperlombakannya.

Apa menariknya Imbauan Malam Purnama ini? Jelas bagi saya sangat menarik. Sejujurnya, (jangan-jangan) semua kita saat ini sudah tidak mengenal bulan Purnama lagi, tidak mempedulikannya mau ada atau tidak. Bulan purnama yang merupakan satu dari nikmat Allah bagi penduduk bumi ini seolah tidak pernah disyukuri kehadirannya. Bahkan, makhluk bulan pun (terutama anak-anak kecil kita) tidak begitu tahu seperti apa, apalagi yang namanya bulan purnama.

Mengapa? Karena setiap malam, kita dan anak-anak kita hanya berada di dalam rumah, sehingga tidak memperhatikan bagaimana kondisi malam di luar. Kebiasaan hidup yang membuat kita selalu dalam cahaya listrik seakan membuat kita tidak menyadari ada gelap yang mengelilingi kita setiap malam

Dan ketika malam-malam purnama terjadi (malam 13-14-15), kita dan anak-anak kita seakan tidak mengerti bahwa bulan purnama adalah anugerah nikmat yang luar biasa. Terlalu canggih lah bila kita mengaitkannya dengan hubungan bulan dengan bumi, hubungan purnama dengan gelombang laut, dan lain sebagainya.

Biasanya orang-orang mau keluar rumah malam-malam saat listrik padam. Kebanyakan malah tetap di rumah, dengan menyalakan lilin atau lampu darurat. Artinya, kebanyakan orang dan anak-anak tetap saja berada di dalam rumah, tidak suka berinteraksi dengan dunia sekitar, saat malam dan gelap. Lagi-lagi mereka sepertinya tidak berkesempatan untuk mengenal bulan, berinteraksi dengan bulan purnama, apalagi mensyukurinya.

Ada juga sedikit orang yang agak peduli dengan bulan. Kapan? Saat masjid mengumumkan bahwa malam ini terjadi gerhana bulan. Lalu pihak DKM mengimbau agar masyarakat turut melakukan salat gerhana bulan. Berapa orang yang ikut salat? Biasanya tidak banyak. Ketika khatib bercerita tentang bulan dan gerahananya, berapa banyak yang mendengarkannya? Tetap sedikit orang saja.

Alhasil, kebanyakan kita dan anak-anak kita tidak peduli bulan (bahkan purnama), tidak suka berinteraksi dengan bulan, apalagi mensyukuri nikmat purnama. Kondisi ini berbeda dengan kondisi dulu saat listrik belum menyinari kota dan desa seperti sekarang.

Dulu, terutama di kampung dan pedesaan, saat listrik belum masuk pemukimnan, saat malam purnama adalah saat yang ditunggu-tunggu dan menyenangkan. Saatnya anak-anak bermain bersama tetanggga. Saatnya para orang tua membangun silaturahim dan interaksi social. Saat kita menatap bulan, purnama, melihat dan menatap ke atas, merasakan diri hanya bagian amat kecil dari semesta langit yang luas, indah, namun misterius.

Nah, ketika Kang Dedi mengeluarkan Imbauan ini bagi seluruh warga Purwakarta, maka kebijakan yang baru sebatas imbauan ini jelas akan mengubah mindset dan perilaku orang-orang terhadap bulan, purnama, dan kosmologi. Selain ini tentu saja berdampak pada manfaat-manfaat social, terjadinya kohesi social, dialog social, keintiman social, dan semacamnya.

Lebih dari itu, secara energi, seperti dilaporkan oleh Kang Dedi sendiri sehari setelah Malam Purnama pertama itu, PLN menghemat 5 Milyar. Dan ini baru pemadaman pada lampu luar rumah-rumah warga saja. Artinya, dengan memadamkan lampu luar dan jalan saja, dalam jangka waktu sekitar 3 jam, PLN Purwakarta bisa menghemat 5 Milyar, dalam sebulan. Dan ini bisa berulang pada bulan-bulan berikutnya.

Jika Dunia mencanangkan Earth Hour sehari dalam setahun, Purwakarta justru sehari dalam setiap bulan (12 kali dalam setahun). Jika program Earth Hour yang cuma sekali dalam setahun itu kita anggap bagus, maka program Malam Purnama Purwakarta jauh lebih bagus lagi. Apalagi desain Kang Dedi bukan hanya penghematan energinya, tetapi lebih pada perubahan mindset, kesadaran dan perilaku warganya. Terutama mindset, kesadaran dan perilaku terhadap bulan, purnama dan kosmologi.

Dan ini yang sangat saya apresiasi. Kebijakan yang berangkat dari kearifan local, kebijakan yang tidak membutuhkan biaya (no-cost policy), kebijakan mengembalikan manusia kepada kesadaran kosmologis penting, kebijakan yang merekatkan ikatan-ikatan social. Kebijakan yang formulanya sederhana, namun tidak semua pemimpin daerah sempat memikirkannya. Karena kebijakan seperti ini hanya akan muncul dari figur pemimpin yang memiliki kearifan local dan kosmologis.

Itulah sebabnya saya memasukkan Kang Dedi ini sebagai Tipe Pemimpin Ketiga, Pemimpin yang Mengubah.

Anda tentu boleh tidak setuju dengan tulisan ini. Tapi ketahuilah, ini bukan untuk menjadikannya pesaing bagi figure yang mungkin sudah Anda idolakan. Mengidolakan seseorang boleh, tetapi tidak berarti harus menutup diri dari keunggulan yang dimiliki oleh figure lain. Karenanya tulisan ini lebih untuk memunculkan figure-figur potensial yang sebenarnya sudah muncul.

Saya tidak mengenal Kang Dedi, apalagi pernah bertemu dengannya. Saya mengapresiasinya murni karena gebrakannya yang saya anggap pantas diapreasi. Dan saya mengetahuinya hanya dari media social dan fanpage (fesbuknya) sendiri.

Sebagai masyarakat Jawa Barat, tentu sepatutnya kita turut bangga sekarang di Jawa Barat mulai banyak bermunculan figur-figur bagus.

Semakin banyak, semakin bagus. Agar siapa pun yang memimpin masyarakat, semuanya bagus. Masyarakat memiliki sejumlah pilihan yang semuanya baik. Dan itu bermanfaat bagi mereka sendiri.

Jadi, para pemimpin, silakan Anda berbuat dan membuktikan kerja dan kreativitas Anda. Juga ketulusan Anda membangun dan mengubah warga Anda ke kondisi yang lebih baik. Masyarakat akan mengevaluasi dan menilai Anda.

Selamat bekerja dan berkarya

@AshoffMurtadha

Ashoff Murthadha, Edupreneur di Arab Mudah Center, Bandung

(Sumber : TintaHijau)

 

Dedi Mulyadi di Wikipedia

H. Dedi Mulyadi, S.H. (lahir di Desa Sukasari, Kecamatan Dawuan, Kabupaten Subang, 11 April 1971; umur 44 tahun) adalah anak bungsu dari sembilan bersaudara. Ayahnya, Sahlin Ahmad Suryana adalah seorang pensiunan Tentara Prajurit Kader yang dipensiunkan muda pada usia 28 tahun akibat terkena racun tentara Belanda. Sementara ibunya, Karsiti adalah aktivis Palang Merah Indonesia. Ia adalah seorang politikus yang dalam usia muda (37 tahun) sudah menjabat sebagai Bupati Purwakarta. Dilantik pada tanggal 13 Maret 2008. Sebelum jadi Bupati, Dedi Mulyadi menjabat sebagai Wakil Bupati Purwakarta pada periode (2003-2008) bersama Lily Hambali Hasan. Pada Pilkada 2013, Dedi Mulyadi terpilih kembali menjadi Bupati Purwakarta untuk periode 2013-2018 berpasangan dengan Dadan Koswara.

Lebih Lengkapnya dapat dibaca di Wikipedia

%d blogger menyukai ini: