Sketsa News
Home Berita Terkini, Headlines, News Majalah FISKOM UKSW Lentera “Salatiga Kota Merah” Di Tarik? Ada Scanan?

Majalah FISKOM UKSW Lentera “Salatiga Kota Merah” Di Tarik? Ada Scanan?

Sketsanews.com – Majalah Lentera Fiskom UKSW Salatiga yang memapar isu korban pembantaian G-30 S PKI tahun 1965, menuai kritik dan meresahkan masyarakat Kota Salatiga Jawa Tengah.  Majalah bercover “Salatiga Kota Merah” itu diminta untuk ditarik kembali dari peredaran oleh pihak kepolisian.

majaah-lentera-fiskom-uksw** Cover majalah Lentera “Salatiga Kota Merah” 

“Sebanyak 60 eksemplar dari 500 eksemplar yang telah disebar di luar kampus sudah ditarik,” kata Dekan Fiskom UKSW Salatiga, Daru Purnomo, Senin (19/10/2015), dikutip dari Kriminalitas.

Pihaknya mengaku kecolongan dengan isi dan peredaran majalah tersebut. Selain itu, tema ‘Salatiga Kota Merah’ tersebut dinilainya telah menyalahi mekanisme yang sudah diatur dalam bidang kemahasiswaan di Fiskom UKSW.

“Selama proses penerbitan majalah tersebut ada prosedur yang telah dilanggar karena tanpa melalui konsultasi ke Koordinator Bidang Kemahasiswaan (Korbidkem) dan atau dekan sebelum naik cetak (diterbitkan). Selain itu, seharusnya majalah itu tidak diperjualbelikan di luar kampus, dan hanya terbatas untuk diedarkan di dalam kampus,” tandas Daru Purnomo.

halaman4-majalah-lentera-pki-fiskom-uksw

** Salah satu scan majalah Lentera (halaman 5) besutan Fiskom UKSW yang meresahkan sehingga ditarik dan dibakar

 

Redaksi Lentera diinterogasi Kepolisian

Pemimpin Redaksi Lentera, Bima Satria Putra mengatakan bahwa majalah  dibuat oleh redaksi pers mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi Universitas Kristen Satya Wacana, dalam rangka memperingati 50 tahun tragedi 1965. Redaksi Lentera mengangkat isu mengenai pembantaian simpatisan Partai Komunis Indonesia di Salatiga dan sekitarnya.

“Kami memproduksi 500 eksemplar, tidak hanya disebarkan di kampus Universitas Kristen Satya Wacana tapi juga ke masyarakat Salatiga, pemerintahan Salatiga, serta organisasi-organisasi di Solo, Semarang, dan Yogyakarta,” ujar dia saat dihubungi Tempo, Minggu, 18 Oktober 2015.

Bima menuturkan, beberapa hari belakangan ini atau sejak Jumat, 16 Oktober 2015, majalah Lentera mendapat respons negatif dari wali kota, kepolisian, dan tentara. “Mereka memprotes konten dari majalah tersebut,” kata dia.

Protes dari banyak pihak tersebut akhirnya membuat pimpinan lembaga pers mahasiswa diinterogasi pada Minggu, 18 Oktober 2015, oleh polisi. Mereka kemudian diminta menghentikan distribusi majalah itu untuk dikumpulkan lalu dibakar. “Mereka minta agar semua majalah dihanguskan,” kata Bima.

Tidak hanya itu, Bima menuturkan, imbas dari peredaran majalah tersebut kepolisian memberikan peringatan dan teguran keras terhadap kampus. Pihak kepolisian menyatakan penerbitan majalah ini tidak disertai izin-izin serta tidak sesuai perundang-undangan dan tidak layak untuk disebarluaskan secara umum. “Yang kami tau mereka memang mempermasalahkan izin, tapi konten PKI juga menjadi senjata mereka untuk menarik kembali majalah dari peredaran,” ucap Bima.

 

Tanggapan FUIS (Forum Umat Islam Salatiga)

Sementara, Ketua Forum Umat Islam Salatiga (FUIS), Arief Budiyanto menyatakan, FUIS sangat menyayangkan munculnya judul ‘Salatiga Kota Merah’ yang tercetak tebal dan berwarna merah pada cover majalah tersebut. Pasalnya, kata ‘merah’ tersebut bisa memunculkan berbagai arti.

“Kami sangat menyayangkan judul ‘Salatiga Kota Merah’ yang tercetak tebal dengan warna merah, ini maksudnya apa? Soalnya, kata ‘merah’ tersebut banyak mengandung arti. Kami menegaskan, mahasiswa atau penulisnya jangan bermain-main dengan bahasa jika tidak bisa memberikan maksud, arti, dan tujuannya. Mahasiswa yang memunculkan judul ‘Salatiga Kota Merah’ harus berani menjelaskan maksudnya secara terbuka,” tandas Arief, bekas anggota DPRD Kota Salatiga kepada Kriminalitas.com.

Ditambahkannya, terkait peredaran majalah tersebut, aparat keamanan di Salatiga segera mengambil tindakan. Jangan sampai munculnya majalah ini justru memancing emosi masyarakat Salatiga yang sudah kondusif.

“Yang jelas, Salatiga Kota Hati Beriman. Sekali lagi, para mahasiswa jangan bermain-main dengan bahasa. Ini membahayakan,” pungkas Arief.

 

Tanggapan Walikota Salatiga, Yuliyanto

Terpisah, Walikota Salatiga, Yuliyanto menyatakan bahwa pihak Forkompimda telah membahas soal Majalah Lentera Fiskom yang mengangkat isu PKI di tahun 1965 dan korban pembantaian di Salatiga. Terkait hal ini pihak UKSW sanggup menarik semua eksemplar majalah internal fakultas yang telah beredar.

“Kami sudah bertemu dan sudah membahas masalah majalah yang bisa membuat situasi tidak baik. UKSW sanggup menariknya,” tandas Yuliyanto kepada Krjogja.com, Minggu (18/10/2015) malam.

Soal jumlahnya berapa eksemplar dan kemana saja distribusinya, Forkompimda menyerahkan semuanya ke UKSW.

(in)

%d blogger menyukai ini: