Sketsa News
Home Berita Terkini, Headlines, News Kronologi dibalik Motif & Fakta Sadis Pembunuhan Engeline

Kronologi dibalik Motif & Fakta Sadis Pembunuhan Engeline

Sketsanews.com – Sidang perdana kasus sadis pembunuhan anak, Engeline (9) mengungkap fakta dan motif  pembunuhan.  Ada dakwaan hal-hal memberatkan kepada Margriet, selain dituduh melakukan penganiyaan dan pembunuhan, juga menyuruh terdakwa lain Agus Tay merahasiakan pembunuhan ini dengan menjanjikan uang Rp200 juta kepada Agus sebagai uang tutup mulut.

** Agus Tay Berharap Sidang Kamis Nanti Ungkap Kebenaran Kasus Pembunuhan Engeline (Image TribunNews.com via @KompasTV)

Dalam sidang perdana yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Edward Haris Sinaga itu, Jaksa penuntut umum (JPU) Purwaka Sudarmaji mengajukan dakwaan primer kepada Margriet Megawe dengan pasal 340 yakni pembunuhan berencana pada Kamis (22/10/2015).

** Perang dua pengacara kondang Hotma Sitompoel dan Hotman Paris, Tribun Bali/Rizal Fanany/I Nyoman Mahayasa (via @Twuot)

Mendengar dakwan tim JPU, tim kuasa hukum terdakwa pimpinan pengacara Hotma Sitompul membantah dakwaan JPU. Dia menganggap dakwaan tersebut memberatkan dan menyudutkan terdakwa. Hotma bersikukuh bahwa dalam pembunuhan itu kliennya sama sekali tidak terlibat.

** Hotman Paris Yakin Margriet Pelaku Utama Kematian Angeline (via @Metro_TV)

Sidang kasus pembunuhan Engline akan dilanjutkan pada Selasa pekan depan (27/10/2015).

Berikut kutipan liputan dari berbagai media yang melengkapi gambaran sidang perdana di Pengadilan Negeri Denpasar, Bali, Kamis (22/10/2015) yang bertepatan dengan peringatan .

** Nasib Pembunuh Engeline Sudah di Tangan Pengadilan: “Begitu kita limpahkan, kewenangan ada pada pengadilan. (ImageBy Viva.co.id via )

Fakta-fakta sadis serta motif pembunuhan keji terhadap Engeline

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Denpasar, Purwanta Sudarmaji, mengurai fakta-fakta sadis serta motif pembunuhan keji terhadap Engeline. Dalam pembacaan dakwaan atas Magriet, Engeline – yang diadopsi terdakwa sejak berusia tiga hari – sering diminta untuk memberi makan ayam dan anjing peliharaan.

Selanjutnya, kekerasan terus dialami Engeline hingga puncaknya terjadi pada 16 Mei lalu sekira pukul 12.30 WITA.

“Waktu itu, terdakwa memukuli Engeline dengan tangan kosong berkali-kali ke arah wajah korban,” kata Sudarmaji, Kamis 22 Oktober 2015.

Dipukuli berkali-kali, hidung dan telinga Engeline mengeluarkan darah. “Hidung dan telinga korban mengeluarkan darah,” ujarnya.

Untuk menghilangkan jejak tindak kekerasan yang dilakukan Margriet itu. Akhirnya, Magriet merencanakan pembunuhan Engeline.

“Untuk menutupi jika terdakwa melakukan kekerasan terhadap korban, maka pembunuhan terhadap korban pun direncanakan,” kata jaksa.

Margriet banting kepala Engeline ke lantai

Hingga akhirnya peristiwa keji itu pun terjadi. Margriet membenturkan berkali-kali kepala bocah delapan tahun tersebut ke dinding kamarnya. “Terdakwa menjambak rambut korban dan membanting kepala korban ke tembok dengan keras,” katanya.

Dalam posisi itu, terdakwa kemudian memanggil saksi Agus Tay Hamba May untuk masuk ke dalam kamarnya. Begitu Agus masuk ke dalam kamar Margriet, Agus melihat Margriet menjambak rambut Engeline dengan kedua tangannya.

“Agus melihat Engeline sudah terkulai lemas tangan kirinya dengan rambut yang dijambak dengan kedua tangan Margriet. Kakinya menjuntai ke bawah kasur dengan kepala setinggi kasur,” ujar Sudarmaji.

Dengan seketika, Margriet kemudian membanting kepala Engeline ke lantai. “Dengan sekuat tenaga terdakwa membanting kembali kepala korban ke lantai dengan posisi kepala belakang korban membentur lantai,” ujarnya.

Agus lalu diperintahkan untuk mengangkat tubuh Engeline. “Agus meletakkan korban di lantai dengan kondisi korban saat itu tidak berdaya lagi. Matanya terbuka tapi tidak bergerak, hanya jari tengah dan jari manis tangan kiri korban saja yang bergerak,” ujar Sudarmaji.

Lalu Agus bangkit dan berdiri. Saat berdiri itu, terdakwa mendekatkan mukanya ke Agus sambil berbisik.

“Tolong kamu jangan kasih tahu siapa-siapa kalau aku memukul Engeline. Kamu jangan sampai buka rahasia ini. Kalau kamu tidak buka rahasia ini kamu saya beri Rp200 juta. Tanggal 24 aku kasih uangnya, kamu pulang ke Sumba dan jangan pernah kembali lagi ke Bali,” kata Margriet dalam bisikan itu.

Magriet menyuruh Agus mengambil sprei yang berada di kamar saksi Agus. Lalu meminta Agus untuk meletakkan korban.

“Agus mengangkat Engeline dengan tangan kiri di bawah kepala dan tangan kanan di bawah paha. Diletakkan dengan posisi tidur miring,” kata jaksa.

Magriet sundut rokok ke jasad Engeline

Magriet menekuk kaki korban ke arah dada korban. Selanjutnya Margriet menyuruh Agus mengambil tali di bawah lemari korban. Terdakwa meminjam pisau kepada Agus.

“Dililitkan tali lehernya. Lalu diminta ambil boneka Barbie. Boneka diletakkan di dada Engeline, lalu Margriet menginjak kaki kanan Engeline,” ujarnya.

Pada saat itu, Margriet diketahui menarik celana dalam Engeline sampai melorot terlepas.

“Terdakwa meminta Agus menyalakan rokok dan memerintahkan membakar tubuh korban. Namun ditolak dan Agus membuang rokok tersebut. Margriet mengambilnya dan menyundutkan ke bagian tubuh Engeline,” kata jaksa. (ren/Viva)

 

** Ibu Kandung Engeline, Hamida Minta Pembunuh Angeline Dihukum Mati (via@Metro_TV)

Ibu Kandung Engeline Ngamuk

Hamidah, ibu kandung Engeline mengamuk dalam sidang perdana yang menyeret terdakwa Margriet Megawe, ibu angkat dalam sidang perdana yang diketuai Majelis Hakim, Edward Haris Sinaga di Pengadilan Negeri Denpasar, Bali, Kamis (22/10).

Dari pantauan di ruang sidang, Hamidah sempat melempar tisu kepada pengacara terdakwa, Hotma Sitompul saat jaksa penuntut umum (JPU) Purwaka Sudarmaji selesai membacakan dakwaannya.

Sebelumnya, Hotma Sitompul membacakan esepsi yang mengatakan, bahwa tidak mungkin Margaret membunuh Engeline. Saat itu juga secara spontanitas Hamidah melempar tisu yang dipegangnya sambil mengumpat.

“Saya mohon para pengunjung tenang sebentar, karena ini masih dalam proses persidangan,” kata ketua Majelis Hakim.

Setelah peristiwa tersebut, Hotma Sitompul langsung minta supaya yang melempar dirinya dibawa keluar sidang. “Bawa keluar saja dulu, saya juga minta pendampingnya juga disuruh keluar. Tidak bisa menjaga dia (Hamidah),” ujar Hotma.

Akhirnya, Hamidah dibawa keluar oleh Siti Sapurah, pendamping hukum Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak Kota Denpasar. (Beritasatu)

 

** Margriet Didakwa Melakukan Pembunuhan Berencana pada Engeline (via @tempodotco)

Margriet Ibu Angkat Engeline Meratap Tangis

Saat jaksa menguraikan peristiwa keji itu tengah persidangan, Margriet yang mengenakan baju kemeja putih setelan celana hitam terus menggelengkan kepala. Margriet seakan menunjukkan dakwaan yang dibacakan jaksa tak benar. (Dream).

Saat jaksa mengurai pembunuhan hingga penguburan jasad Engeline, Margriet menangis. Air matanya jatuh. Jaksa menyebut Agus (tersangka lain) hanya disuruh Margriet. Seperti disampaikan sebelumnya saat penyidikan, Margriet memanggil Agus untuk masuk ke dalam kamarnya.

 

** Kakak Angkat Engeline Sakit Hati dengan Dakwaan JPU via @kompascom

Kakak Angkat Angeline, Yvonne dan Christine Sakit Hati

Kedua kakak angkat Engeline, Yvonne dan Christine, memberi dukungan untuk ibunya yang didakwa membunuh Engeline (8).

“Kita keluarga besar yakin dan percaya bahwa semuanya akan berjalan lancar. Kami percaya bahwa ibu kami tidak bersalah,” kata Yvonne, Kamis (22/10/2015).

Namun, saat mendengar dakwaan jaksa penuntut umum (JPU), keduanya mengaku sakit hati.

“Saya sakit sekali dengarnya. Terus terang saja, buat kami (Yvonne dan Christine), di luar mungkin orang tidak tahu, sayang sama Engeline,” kata Yvonne.

Keduanya mengaku bahwa dakwaan ini tidak memberikan kepuasan kepada keluarganya. (Kompas)

 

** Polisi apel pengamanan sidang Engeline/Foto: Putri Akmal detik.com via @aktwall

Extra Ketat Pengamanan, Dua Peleton Polisi Berjaga di sidang perdana kasus pembunuhan Engeline (9) di Pengadilan Negeri Denpasar

Dua peleton polisi diturunkan untuk mengawal pengamanan sidang perdana kasus pembunuhan Engeline (9) di Pengadilan Negeri Denpasar, Bali. Pengamanan ekstra ketat ini dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan peserta sidang.

“Ada dua peleton yang kita siagakan, pengamanan gabungan dari Polsek Denpasar Barat, Polresta Denpasar dan Polda Denpasar. Pengamanan utama fokus di ruang sidang utama mengantisipasi lonjakan peserta sidang yang keluar masuk,” kata Kapolsek Denpasar Barat, Kompol Wisnu Wardhana usai apel siaga di PN Denpasar, Kamis (22/10/2015). (medanbisnisdaily)

 

(in)

 

(in)

%d blogger menyukai ini: