Sketsa News
Home Berita Terkini, Headlines, News Hari Pertama, Pembina Kader Bela Negara Belajar Kekompakan

Hari Pertama, Pembina Kader Bela Negara Belajar Kekompakan

hari-pertama-pembina-kader-bela-negara-belajar-kekompakan-nn4
Sketsanews.com – Hari pertama implementasi bela negara yang dicanangkan Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu berjalan lancar. Ratusan pembina kader bela negara tampak antusias mengikuti pelatihan yang diberikan instruktur di Kantor Badan Pendidikan dan Pelatihan (Badiklat) Kementerian Pertahanan (Kemhan) Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat.

Salah seorang peserta bela negara Robidarma Ismail asal Tangerang Selatan (Tangsel) menuturkan, “Pelajaran di sini, ingin saya terapkan di rumah dan lembaga pendidikan tempat dimana saya bekerja. Nasionalisme generasi sekarang masih dirasa kurang makanya saya tertarik untuk ikut pelatihan bela negara,” ujar seorang pembina di lembaga pendidikan SMK Darussalam, Ciputat itu kepada Sindonews.com, Jumat (23/10/2015).

Menurut dia, materi yang diterima pada hari pertama pelatihan bela negara jauh dari militerisme. “Hari pertama pelatihan, pukul 05.00 WIB kami bangun kemudian latihan senam pagi. Setelah itu, dilanjutkan dengan latihan baris berbaris, yel-yel dan bernyanyi,” imbuhnya.

Dia mengaku, awalnya terasa berat karena baru kali pertama ini mengikuti pelatihan. “Iya awalnya berat karena baru. Kami masih belum mengetahui urutan jadwal kegiatan, soalnya tidak diberikan rinciannya agenda nanti apa dan ngapain aja,” tandasnya.

Untuk hari pertama pelatihan, peserta bela negara dilatih oleh beberapa instruktur baik dari militer seperti, TNI AD dan Marinir serta sipil. Rencananya peserta bela negara akan dipindah ke Sentul, Bogor tempatnya yang lebih luas, karena ada materi lapangan.

Marienty, salah seorang fasilitator Kemhan menjelaskan, untuk hari pertama pihaknya memberikan materi Dinamika Kelompok yakni, melatih kepedulian, kekompakan, di antara sesama peserta bela negara. “Mereka diajarkan untuk mengenal diri sendiri, orang lain, menjaga kekompakan, peduli dengan rekannya,” ujarnya.

Dia mengaku, awalnya sulit memberikan materi karena para peserta memiliki latar belakang pendidikan, usia yang berbeda. “Mereka belum bisa menyatu karena beragam daerah, pendidikan, supaya menyatu kita buatkan games-games, pegangan tangan, main bola, nyanyi dengan menyebutkan nama rekannya. Jadi harus kenal nama sebelah kiri dan kanan,” tegasnya. (Su)

%d blogger menyukai ini: