Sketsa News
Home Berita Terkini, News Kisah Suud Rusli Mantan Marinir Taifib Pembunuh Bos Asaba, Ajarkan Umar Patek Kibar Bendera

Kisah Suud Rusli Mantan Marinir Taifib Pembunuh Bos Asaba, Ajarkan Umar Patek Kibar Bendera

Sketsanews.com – “Dengan binaan Suud Rusli, dengan keyakinannya, Umar Patek mau kibarkan bendera Indonesia pada 17 Agustus tahun ini. Dan Umar Patek selaku pengibar bendera dalam upacara 17 Agustus tahun 2015,” cerita Bambang di Gedung MK, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta, Kamis (21/10/2015), dikutip dari Pemasyarakatan.

** BNPT, Umar patek dan “Deradikalisasi” (twitter.com @ClickBandung)

Pada berita sebelumnya di Sketsanews.comUmar Patek Jadi Pengibar Bendera Upacara HarkitnasKeberhasilan Pembinaan Umar Patek, Inspirasi Bagi Pembinaan Narapidana Terorisme Lain.

Umar ditangkap di Pakistan Januari 2011. Umar merupakan buronan polisi internasional karena tindakan terorismenya. Tapi siapa sangka, Umar berhasil kembali mencintai tanah air berkat bantuan Suud Rusli.

** Umar Patek (alriyadh.com)

“Itu berkat campur tangan Suud Rusli, meski kala itu kalangan radikal menentang Umar Patek untuk jadi pengibar bendera di upacara RI. Namun sentuhan Suud Rusli berhasil membuat dia (Umar) kembali cinta tanah air,” terang Bambang.

 

*** Mantan prajurit Intai Amfibi (Taifib), Suud Rusli, terpidana mati kasus pembunuhan bos PT Asaba, Boedyharto Angsono, dan pengawalnya, Edy Siyep, di Jakarta Utara, pada 19 Juli 2003 silam (twitter.com @detikcom)

Siapakah Suud Rusli?

Mantan prajurit Intai Amfibi (Taifib), Suud Rusli, terpidana mati kasus pembunuhan bos PT Asaba, Boedyharto Angsono, dan pengawalnya, Edy Siyep, di Jakarta Utara, pada 19 Juli 2003 silam. Suud melakukan pembunuhan bersama Letda Syam Ahmad Sanusi yang telah tewas tertembak mati pada 17 Agustus 2007. Keduanya diperintahkan oleh Gunawan Santoso yang juga divonis mati oleh majelis hakim.

Drama pelarian Suud dari tahanan sempat menghebohkan. Saat menanti eksekusi mati pada medio 2005 lalu, dia bersama rekannya sesama anggota Marinir, Syam Ahmad, melarikan diri dari Rumah Tahanan Militer Cibinong, Jawa Barat. Tetapi pelarian Suud tidak lama. Pada 31 Mei 2005 Suud berhasil ditangkap di Malang, Jawa Timur. Tim Pomal harus menembakan 2 peluru ke kaki Suud hingga Suud dan rekannya dapat diciduk.

Rupanya Suud dan Syam tak kapok. Lima bulan berselang, Suud kembali berkolaborasi dengan Syam mengakali sipir penjara. Keduanya berhasil kabur, namun lagi-lagi tak lama. Suud diringkus pada 23 November 2005 dan menghuni Lapas Militer Sidoarjo sebelum akhitnya dipindah ke Lapas Surabaya pada 2008. Ia kini ditempatkan di Blok D, area yang mendapat pengamanan lebih ketat. Adapun Syam tewas tertembak pada 17 Agustus 2007, dihimpun dari Tempo.

Ditemui di sela kegiatannya menjadi mentor para tahanan Lapas Surabaya–dikenal juga dengan sebutan Lapas Porong–Suud terlihat percaya diri. Sebagai instruktur program Admisi Orientasi (AO) di penjara terbesar Jawa Timur itu, Suud diharuskan melatih mental dan kedisiplinan narapidana baru di tahap orientasi.

Saat masa perkenalan yang biasanya berlangsung pada bulan pertama, napi menghuni salah satu sel lapas. Di sini Suud akan melatih kedisiplinan rekan barunya dengan olah fisik. “Saya selalu tekankan pada mereka, kita di sini (lapas) bukan orang jelek karena memang enggak ada orang yang jelek,” ujar pria 43 tahun itu.

Menghujani napi dengan latihan fisik kedisiplinan dan motivasi spiritual menjadi kebanggaan tersendiri bagi Saud. Paling tidak, kata dia, ia tak “menanti” eksekusi mati dengan sekadar mendekam di tahanan. Sejumlah petuah bijak pun sering dia berikan kepada rekan-rekannya. ”Saya katakan pada teman-teman, jangan pernah putus asa. Tiap permasalahan kalau ada niat baik, pasti ada jalan keluarnya.”

 

Eksekusi Mati menanti walaupun sudah minta Grasi dan Ampunan dari Jokowi

“Saya tidak takut mati,” kata Suud singkat kala itu.

Suud tidak lagi ambil pusing dengan eksekusi yang menantinya. Suud menilai, ia masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk melakukan sesuatu yang berguna bahkan hingga saat-saat terakhir hidupnya.

“Saya berpikir positif saja. Sampai sekarang saya masih hidup. Berarti saya masih punya kesempatan,” ujar Suud.

Media Tribunnews memberitakan, Mahkamah Konstitusi (MK) kembali menggelar sidang uji materi Pasal 7 ayat 2 UU tentang grasi yang dimohonkan Suud Rusli, terpidana mati bos Asaba, Budyharto Angsana, Kamis (22/10/2015).

Kuasa Hukum Suud, Boyamin Saiman menilai bahwa legal standing atau kedudukan hukum kliennya dalam uji materi semakin kuat, karena pengajuan uji materi ‎ini ke MK jauh sebelum grasinya ditolak Presiden Jokowi.

“Dalam suratnya, Presiden Jokowi menolak sejak tanggal 31 Agustus 2015, diberitahukan kami awal 8 Oktober 2015. Uji materi ini diajukan awal Januari 2015,” kata Boyamin di Gedung MK, Jakarta, Kamis (22/10/2015).

Atas dasar itu lah, Boyamin meyakini legal standing‎ kliennya dalam permohonan uji materi ini semakin kuat. Apalagi bila melihat perbedaan waktu antara pengajuan uji materi dan keluarnya penolakan grasi.

Mengenai penolakan grasi oleh Presiden, kata Boyamin, pihaknya sudah menduganya. Atas dasar dugaan itu pula, pihaknya menyiapkan opsi atau langkah alternatif lainnya, seperti mengajukan judicial review UU Grasi ke MK.

“Menggugat UU Grasi menjadi salah satu opsi agar pengajuan grasi bisa diajukan kembali,” kata Boyamin.

(in)

%d blogger menyukai ini: