Sketsa News
Home Berita Terkini, News Ali Fauzi: Pemerintah Abaikan Anak Teroris

Ali Fauzi: Pemerintah Abaikan Anak Teroris

Sketsanews.com – Pemerintah tidak memberikan perhatian kepada anak-anak dan keluarga dari orang-orang yang dituding sebagai teroris. Akibatnya, mereka cenderung meneruskan perjuangan pendahulunya.

Hal itu, dikatakan mantan kombatan Afghanistan, Moro dan Ambon, Ali Fauzi. ”Faktanya begitu,” ujarnya yang ditulis Tempo.com, Sabtu, 24 Oktober 2015.

Mantan kombatan Afghanistan, Moro dan Ambon, Ali Fauzi ( Foto www.vebidoo.de)
Mantan kombatan Afghanistan, Moro dan Ambon, Ali Fauzi ( Foto www.vebidoo.de)

Menurut pria kelahiran 45 tahun silam itu, saat ini ada sekitar 700 orang yang ditahan sebagai teroris. Dan tentu saja, mereka itu punya anak-anak, keluarga dan juga perkawanan yang kuat. “Mereka satu sama lainnya bisa saling mengenal, karena sama-sama punya dasar yang sama, terkait bermasyarakat dan bernegara,” kata Ali.

Ali mengakui sebagian besar dari para keluarga dan orang-orang yang dituduh sebagai teroris itu adalah teman-temannya. Bahkan mereka ini, sejalan saat masih berada di Afghanistan, Moro, Poso dan Ambon. “Mereka ini, punya kelebihan dalam bidang peperangan. Misalnya merakit bom, menggunakan senjata dan lainnya. Intinya, jika kelebihan mereka dimanfaatkan untuk kegiatan positif, tentu akan berdampak baik,” kata dia.

Ali, yang kini menjadi pengamat Terorisme tersebut menyayangkan, pemerintah kurang memperhatikan hal-hal tersebut. Akibatnya, cap negatif yang sudah kadung melekat di keluarga mereka, berdampak kurang bagus. Disinilah, menurut Ali, pemerintah diminta untuk bisa lebih bijak, dengan memberikan celah dan juga pembinaan. “Karena, dengan mendekati anak-anak dan keluarganya, tentu saja mengurangi kasus-kasus yang berkaitan dengan terorisme di Tanah Air,” ujar Ali.

Menurut Ali, bukti bahwa pemerintah kurang mengakomodasi keluarga teroris adalah kasus bergabungnya Umar Jundulhaq putra almarhum Imam Samudra dengan kelompok-kelompok militan di Timur Tengah. Padahal, jika saja pemerintah mendekati keluarga almarhum Imam Samudra di Banten, tentu tidak seperti ini.

“Ya, saya cukup dekat dengan keluarga almarhum Imam Samudra,” tandas pria yang kini lebih memposisikan diri sebagai pihak yang mendukung pemerintah mengurangi gerakan teroris di Tanah Air ini.

Ali juga mengatakan, sekarang ini masih ada anak-anak dan keluarga di Tanah Air yang bergerak bergabung di organisasi militan di Timur Tengah. Termasuk di antaranya di daerah Lamongan, Jawa Timur. Menurut Ali, kunci untuk mengurangi aktivitas seperti itu adalah pemerintah harus terus menerus melakukan pendekatan secara manusiawi.

“Jangan bersikap keras dan bertindak di luar kewajaran. Karena dengan menghukum mereka dengan tindakan keras, sama saja ini membuat masalah baru. Justru dengan memberikan program pembinaan, dialog dan sejenisnya, bisa membuat mereka sadar,” kata Ali.

Seperti yang dikabarkan di media Direktur Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) Sidney Jones memastikan bahwa Umar Jundulhaq, 19 tahun, putra pelaku bom bunuh diri di Bali, Imam Samudera tewas dalam sebuah pertempuran di Kota Deir ez-Zur, Suriah pada 14 Oktober 2015 lalu.

Menurut Sidney Jones, Umar adalah satu dari 50 warga negara Indonesia yang tewas dalam pertempuan di Suriah sejak Maret lalu, baik dengan pasukan Kurdi maupun dengan pasukan Presiden Suriah Bashar Al Assad. Ada juga yang tewas akibat serangan bom udara dari pasukan koalisi.

Sidney menyebutkan lima orang yang tewas karena bom bunuh diri dan masih ada sekitar 300an warga negara Indonesia yang pergi ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS tetapi 40 persen di antaranya perempuan dan anak-anak dan ikut dengan suaminya.(Ki)

%d blogger menyukai ini: