Sketsa News
Home Berita Terkini, Headlines, News Bom Mal Alam Sutera, Kronologi Penangkapan dan Fakta Tersembunyi

Bom Mal Alam Sutera, Kronologi Penangkapan dan Fakta Tersembunyi

Sketsanews.com – Bom yang mengguncang Mal Alam Sutera mencapai klimak dengan ditangkapnya pelaku bom setelah 6 jam dari kejadian. Leopard Wisnu Kumala (29) seorang ahli IT ditangkap saat mengendarai motor dan ditembak kakinya oleh Densus 88  di Serang, Banten.

Awal penangkapan diberitakan Wakil Kepala Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Mabes Polri Kombes Pol Martinus Hukom mengatakan kepada VIVA.co.id, Rabu 28 Oktober 2015. “Iya (pelakunya) sudah ditangkap,” ujar Kombes Pol Martinus Hukom .

Ia menuturkan, ‎tim juga melakukan penggerebekan rumah LO yang berada di Taman Bumi Indah Permai Blok C9, Kelurahan Terondol, Kecamatan Serang Banten, pada pukul 17.45 WIB, Rabu (28/10/2015).

“Polisi sudah melakukan pengamanan di sekitar lokasi. Empat penghuni juga sudah dievakuasi. Yakni istri LO, anaknya, neneknya dan pembantunya,” terangnya. Penangkapan ini, kata dia, merupakan pengembangan olah Tempat Kejadian Perkara dan rekaman CCTV.‎

** Leopard Wisnu Kumala (29) | Jumpa persnya di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (29/10/2015) | @RadioElshinta

Leopard tampak tertunduk dengan tangan terikat borgol. Selama jumpa pers, ia sesekali menjawab pertanyaan yang ucapkan Dirkrimum Polda Metro Jaya, Kombes Krishna Murti. Salah satunya, saat kepolisian menayangkan CCTV mal Alam Sutera yang menggambarkan aksi pelaku di dalam Food Hall mal tersebut pada 6 Oktober 2015.

 

Fakta-Fakta

1. “Lone Wolf” bekerja sendirian dan tidak tergabung jaringan Terorisme

“Dia orang baru dan tidak terkait dengan jaringan teroris yang sudah kita petakan selama ini,” kata Kapolda Metro Jaya Irjen Tito Karnavian mengawali jumpa persnya di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (29/10/2015), dari Detik.

Tito menjelaskan Leopard termasuk dalam kategori Lone Wolf, istilah tersebut ditujukan kepada mereka yang melakukan aksi teror dengan secara otodidak dan melakukan aksi teror sendiri.

2. Leo Ahli IT, Mudah baginya Belajar Bom

Tersangka merupakan lulusan Diploma STIKOM Insan Unggul jurusan Informatika komputer pada Fakultas Manajemen Informatika. Dia bekerja sebagai senior programmer.

“Tersangka Leopard Wisnu Kumala, dia ini seorang ahli IT dan bekerja di sebuah perusahaan (PT JMTI) dengan posisi senior programmer,” kata Direktur Reskrimum Polda Metro Jaya Kombes Krishna Murti, pada Detik.

“Dia belajar dari internet. Baik itu motif ekonomi atau ideologi, kenyataannya telah menimbulkan ketakutan yang luas di masyarakat,” ujar Tito, pada CNNI.

3. Motif Pemerasan dengan memanfaatkan Bitcoin

Kemampuannya di bidang IT membuat polisi sedikit kesulitan melacak tersangka melalui alamat email yang digunakan tersangka untuk mengirimkan ancaman dan pemerasan ke pengelola mal Alam Sutera. Pemerasan pun tak dilakukan menggunakan uang tunai, melainkan lewat bitcoin yang agak sulit dilacak.

“Dia bisa menghilangkan jejak emailnya, emailnya anonymus,” ungkap Krishna, pada Detik.

Leopard lalu mengaku mengancam pengelola mal setelah meledakan bom tersebut. “Saya kirim email ke pihak Alsut (Alam Sutera) dengan minta kirim uang dengan bitcoin. Saya dulu minta 100 bitcoin,” kata Leopard.

Menurut dia, satu bitcoin senilai Rp 3,2 juta. Dengan demikian, total uang yang diminta Leopard Rp 300 juta.

Namun, kata Leopard, pengelola Mal Alam Sutera hanya memberinya uang sedikit. “Alam Sutera cuma kasih 0,25 sekitar Rp 700 ribuan. Saya cairin,” kata dia. Detik.

4. Bahan Bom menggunakan unsur kimia TATP yang pertama kali di gunakan di Indonesia

Jenderal Tito Karnavian menyatakan peledakan bom dengan bahan peledak jenis triacetone triperoxide peroxyacetone (TATP) yang dilakukan oleh Leopard Wisnu Kumala (29) baru pertama kali terjadi di Indonesia.

** Bom TATP Dikenal dengan Istilah Mother of Satan | Detik via @HalloAstri

“TATP bom pertama kali terjadi di Indonesia. Ini yang menarik. Menggunakan chemical bomb namanya,” ujar Tito, pada CNNI.

Kasus pertama yang menggunakan bom jenis ini dilakukan oleh Richard Reid, warga Inggris yang dijuluki shoe bomber (pembom sepatu). Saat itu Richard Reid mencoba meledakkan sebuah pesawat yang terbang dari Paris ke Amerika Serikat pada tahun 2001 dengan menggunakan bahan peledak jenis TATP yang dimasukan ke dalam sepatunya pada tahun 2001. “Dia kemudian mau membakar sepatunya yang berisi TATP dan digagalkan,” ujar Tito.

** ON THIS DAY in 2001, Richard Reid tried to ignite a shoe bomb on a plane, but was subdued by fellow passengers. | @joeman42

Kejadian kedua, kata Tito, terjadi dalam peristiwa ledakan di sebuah stasiun kereta api bawah tanah dan sebuah bis di pusat kota London, Inggris, tahun 2005 lalu. Dalam ledakan tersebut, diketahui bahan peledak TATP yang digunakan seberat 4,5 kilogram. Sehingga daya ledak bom tersebut mampu merusak suatu bangunan dan menyebabkan banyak korban jiwa dan luka.

21july_accessible416-bom-kereta-api-london-imageby-bbc

** Bom London 2005 adalah serangkaian pengeboman yang terjadi di jaringan transportasi umum di London, Britania Raya pada pagi hari 7 Juli 2005, 56 orang telah meninggal, dan 700 lainnya luka-luka.  Dua minggu setelah pengeboman pada 7 Juli, pada 21 Juli empat upaya pengeboman dilakukan di tiga kereta api bawah tanah dan sebuah bus, namun ledakan pada keempat kejadian ini hanyalah ledakan kecil dan tidak seorangpun meninggal dunia atau cedera. Bom London 21 Juli 2005 (BBC.comWikipedia)

 

“Hanya digunakan 4,5 kilogram TATP terhadap bom di underground dan bom di bis London. Korban 52 orang meninggal dunia dan 700 lebih terluka,” ujar Tito.

Tito menyampaikan bahan peledak TATP sangat sulit untuk dideteksi keberadaannya. Bahkan, Tito mengaku, bahan TATP bisa lolos dalam pemeriksaan dengan menggunakan sinar X-ray.

“Selain mudah dibuat, ini sulit untuk dideteksi. Contohnya, untuk masuk ke dalam pesawat bisa lolos X-Ray,” ujar Tito.

5. Buat lima bom, pernah gagal meledak dua kali

“Pelaku sudah membuat lima bom, ada dua bom diledakkan, dua bom gagal meledak, dan satu bom berhasil dijinakkan,” ujar Krishna dalam konferensi pers di Markas Polda Metro Jaya hari ini, Kamis (29/10), pada Detik.

Leopard memaparkan rincian aksinya dalam kronologi berikut:

6 Juli 2015

Leopard tertangkap kamera menaruh bom di rak obat serangga semprot di supermarket Food Hall, Mal Alam Sutera. Namun bom ini tidak meledak. Bom sengaja disimpan di dekat obat serangga agar efek ledakan lebih dahsyat.

9 Juli 2015

Leopard menaruh bom di toilet lantai dasar Mal Alam Sutera. Bom tersebut meledak dan melukai satu orang.

10 Oktober 2015

Leopard mengaku menaruh bom di WC kantin Mal Alam Sutera tapi tak meledak.
 
28 Oktober 2015

Leopard mengaku menaruh bom di WC kantin Mal Alam Sutera. Kali ini bom meledak dan melukai satu orang.

Leopard memiliki 5 bom aktif yang siap diledakkan. Di rumahnya, polisi menemukan satu sisa bom. Rencananya, bom tersebut juga akan diledakkan di mal Alam Sutera.

6. Letak Bom dekat rak Baygon agar effek ledakan tambah besar

Tersangka berharap ledakan bom yang dibuatnya bertambah besar saat membakar kaleng obat nyamuk. “Jika meledak akan ditambah efek racun dari Baygon,” kata Khrisna, pada CNNI. Bom ini tidak meledak, gagal.

** rekaman CCTV di Mal Alam Sutera (@liputan6dotcom)

7. CNN Pernah membuat berita tentang agama Leonardo Katolik, dikritik netizen dan diralat

** Mencantumkan agama Leonardo katolik di protes netizen, CNN ralat berita. | Daniel Giovanni @qronoz

Sudah diralat oleh CNN : Hallo kami telah memperbaik editorial artikel tersebut. Terima kasih atas kritikannya.

(in)

%d blogger menyukai ini: