Sketsa News
Home Berita Terkini, News Polisi dan Media Dianggap Perlakukan beda, Terhadap Pelaku Bom Alam Sutra

Polisi dan Media Dianggap Perlakukan beda, Terhadap Pelaku Bom Alam Sutra

Sketsanews.com – Kasus bom di Mal Alam Sutera Tangerang untuk ketiga kalinya yang disebut-sebut dilakukan oleh orang yang sama, mengundang pertanyaan. Polisi tidak menyebutnya sebagai aksi terorisme, karena pelakunya bukan Muslim dan tidak terkait dengan jaringan “terorisme” yang biasa selama ini dimunculkan. Jadi, karena pelakunya bukan Muslim, maka tidak disebut teroris.

Begitu juga, sikap media dan polisi yang terlihat beda dalam kasus bom alam sutra. Leopard diberi kesempatan diwawancarai media, sementara kasus terorisme lainnya, media tak diberi kesempatan mewawancarai tersangka.

Polda Metro Jaya menghadirkan pelaku Leopard Wisnu Kumara saat gelar pengungkapan kasus bom di Mall @ Alam Sutra (foto merdeka.com)
Polda Metro Jaya menghadirkan pelaku Leopard Wisnu Kumara saat gelar pengungkapan kasus bom di Mall @ Alam Sutra (foto merdeka.com)

“Perbuatan Leopard yang non-Muslim sudah memenuhi unsur terorisme menurut UU Pemberantasan Tindak Terorisme. Hanya saja, dia mengaku bekerja sendirian. Sebuah jaringan teror tidak mungkin terbentuk, kecuali diawali dari aksi/perbuatan pribadi. Maka polisi seharusnya tak perlu ragu mengatakan bahwa ini jaringan awal terorisme,” kata Peneliti Indonesian Crime Analyst Forum (ICAF) Mustofa B Nahrawardaya dikutip salam-online, Kamis (29/10).

Menurut Mustofa, perbuatan Leopard (27 tahun) sudah sama persis dengan perbuatan teroris. Menebar ketakutan massal, menggunakan peledak berdaya ledak tinggi (high explosive), bahkan ditambahi dengan pemerasan.

“Meski bom berdaya ledak tinggi, namun syukur tidak meledak semuanya. Bisa dibayangkan jika bom tersebut meledak, betapa banyak korban para pengunjung mall,” terangnya.

Karena itu, ujar aktivis Muhammadiyah ini, Polri tak perlu ragu melabeli Leopard dengan sebutan teroris, mengingat yang bersangkutan memang melakukan tindak pidana terorisme.

“Agama Leopard dan etnis yang bersangkutan, jangan menghambat profesionalisme Polri,” pinta Mustofa.

“Terungkapnya teroris yang ternyata non-Muslim dan etnis Tionghoa, justru membuktikan teori pemerintah bahwa terorisme itu tidak mengenal agama,” pungkasnya.(Ki)

%d blogger menyukai ini: