Sketsa News
Home Berita Terkini, Internasional, News Malaysia Bentuk Regional Digital Counter Messaging Center (RDC3) untuk Tangkal Kelompok Radikal

Malaysia Bentuk Regional Digital Counter Messaging Center (RDC3) untuk Tangkal Kelompok Radikal

Sketsanews.com – Pemerintah Malaysia akan membentuk pusat penanganan pesan digital di kawasan atau yang dikenal dengan Regional Digital Counter Messaging Center (RDC3) yang dipusatkan di ibukota Kuala Lumpur. Badan yang dibentuk dengan bantuan Amerika ini, untuk menangkal sosialisasi, rekrutmen dan penyebaran pesan-pesan ISIS di kawasan Asia Tenggara.

Deputy Prime Minister Datuk Seri Dr Ahmad Zahid Hamidi (pix) (foto thestar.com)
Deputy Prime Minister Datuk Seri Dr Ahmad Zahid Hamidi (pix) (foto thestar.com)

Seperti dilansir thesunDaily.com, Wakil Perdana Menteri Datuk Seri Dr Ahmad Zahid Hamidi (pix) mengatakan rincian tentang inisiatif sedang diselesaikan dengan Amerika Serikat, yang akan membantu dalam tiga aspek – pelatihan, peralatan dan pendekatan operasional.

“Pusat ini akan berlokasi di Kuala Lumpur dan saya percaya itu akan mirip dengan yang ditetapkan oleh Amerika Serikat di Uni Emirat Arab.

“Pusat Kuala Lumpur akan menggunakan keterlibatan secara online langsung untuk melawan pesan teroris digunakan untuk merekrut pejuang, mengumpulkan dana dan meneror penduduk lokal,” katanya dalam konferensi pers setelah membuka 4 Polisi Umum dan Perlengkapan Pameran khusus dan Konferensi (GPEC) Asia 2015 hari ini .

Zahid, yang juga Menteri Dalam Negeri, mengatakan bahwa penting untuk penegakan polisi untuk menerapkan metode modern untuk menangani bentuk-bentuk yang lebih kompleks kejahatan, yaitu transaksi narkoba, perdagangan manusia, kejahatan elektronik dan keuangan dan kejahatan lintas batas.

“Sebuah tampilan baru polisi yang dilengkapi dengan teknologi canggih dan kualitas yang sangat baik akan menjadi tanda kemajuan dalam meningkatkan keamanan publik,” tambahnya.

Dia mengatakan, pemerintah akan mendukung setiap upaya untuk membahas dan mengatasi masalah mendasar penegakan polisi, keamanan internal dan terorisme global di GPEC Asia.

Acara tiga hari akan menampilkan peralatan kepolisian terbaru dan teknologi dari lebih dari 300 peserta pameran.

Sementara itu, Staf Ahli Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Wawan Purwanto hari Kamis (29/10) menyatakan Indonesia mendukung pembentukan pusat penanganan pesan digital di kawasan tersebut.

Menurut Dia, keberadaan ISIS sudah sangat meluas dan berbahaya, tidak Hanya bagi kawasan Timur Tengah tetapi juga Asia Tenggara bahkan dunia. Untuk itu, tambah Dia, informasi yang didapatkan oleh lembaga itu sedianya juga bisa disampaikan kepada Indonesia dan juga negara lain agar menjadi kepentingan bersama untuk melakukan deteksi dini dan cegah dini.

Ia menambahkan, informasi dari pusat penanganan pesan digital di kawasan itu, akan membantu negara-negara lain termasuk Indonesia mendapatkan informasi lebih dini sehingga bisa menurunkan kebijakan-kebijakan yang lebih strategis dan memadai.

“Ini sebagai penyeimbang. Dari sisi early warning system terjadi di mana bisa diketahui dan bagaimana cara menangkalnya, itu bisa bersama-sama antar negara. Di share ke negara itu bisa langsung didalami dan ditindaklanjuti supaya tidak meluas dan melebar,” ujar Wawan Purwanto, seperti yang dilansir VOAindonesia.com.

Lebih lanjut Wawan mengatakan Indonesia sebenarnya sudah pernah diajak bicara oleh Malaysia tentang pembentukan RDC3 ini, tetapi baru secara informal saja. Selama ini pemerintah Indonesia telah berupaya secara maksimal untuk mengantisipasi kampanye dan propaganda ISIS melalui media sosial. Teknologi yang digunakan pun senantiasa diperbarui.

Menurut Wawan, untuk menggalakkan perang terhadap ISIS di dunia maya, BNPT telah melibatkan banyak anak muda. Selain itu, BNPT juga terus berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat untuk tidak menerima mentah-mentah propaganda ISIS melalui media sosial.

Pengamat Intelijen dari Sekolah Tinggi Intelijen Negara, Mardigu Wowiek Prasantyo menyatakan kelompok ISIS sekarang ini memang sangat gencar menggunakan media sosial. Keberadaan pusat penanganan pesan digital di kawasan itu menurut Mardigu akan semakin membantu kerja pemerintah Indonesia melawan ISIS di media sosial, karena harus diakui upaya itu masih kurang.

Ia mencontohkan banyaknya situs-situs radikal yang bersimpati pada ISIS dan bisa begitu mudah diakses masyarakat.

“Harusnya kata-kata jihad sudah mulai disortir, kata-kata Suriah, ISIS, War itu mulai disortir langsung aja ditutup dan itu bisa dilakukan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika,” kata Mardigu. (Ki)

%d blogger menyukai ini: