Sketsa News
Home Berita Terkini, News Hukuman kebiri harus dikaji mendalam

Hukuman kebiri harus dikaji mendalam

Sketsanews.com – Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan Majelis Tarjih Muhammadiyah akan mengkaji dan mengeluarkan pandangan keagamaan terkait wacana hukuman kebiri yang akan diberikan kepada pelaku kekerasan seksual terhadap anak atau pedofilia.

Muhammadiyah (ANTARA FOTO)
Muhammadiyah (ANTARA FOTO)

“Prinsip Muhammadiyah adalah hukuman apa pun harus setimpal, dan jika itu kejahatan yang luar biasa, maka hukumannya harus seberat-beratnya. Tetapi tentang penyiksaan fisik, itu harus kita kaji ulang,” kata Haedar usai menemui Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo di Makassar, Rabu.

Ia mengakui bahwa pedofilia adalah kejahatan yang luar biasa, namun hal ini bukanlah persoalan yang sederhana.

“Karena ini merupakan masalah yang tidak sederhana, maka jangan sampai ada bentuk hukuman yang tergesa gesa,” ujarnya.

Pihaknya mendorong dilakukan dialog dan diskusi yang komprehensif terkait masalah ini.

“Kami lebih mengajak untuk.mendiskusikan secara komprehensif agar solusi yang dihasilkan tidak parsial dan partikular,” terangnya.

Sebelumnya, Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Agus Arifin Numang mengatakan perlu ada hukuman yang berat dan berefek jera untuk menghentikan kasus kekerasan seksual terhadap anak.

“Saya rasa memang harus ada hukuman untuk pelaku kekerasan seksual yang dapat memberi efek jera,” kata Agus.

Sementara itu Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo menjelaskan bahwa pihaknya setuju pemberian hukuman berat untuk pelaku pedofilia.

“Hukuman kebiri setuju saja, namun apakah ini akhirnya bisa mengurangi angka kekerasan seksual khususnya pedofilia. Pemerintah harus benar-benar melihat dampaknya ini akan seperti apa,” tutup Syahrul.

Sementara itu, Psikolog dan pemerhati anak Seto Mulyadi atau Kak Seto mengatakan wacana hukuman kebiri bagi pelaku kejahatan seksual terhadap anak harus dikaji secara mendalam.

“Pada dasarnya semua upaya meningkatkan hukuman supaya menimbulkan efek jera saya sangat setuju, tapi wacana pengebirian syaraf libido perlu dikaji secara mendalam, dipertimbangkan secara masak-masak,” kata Kak Seto di Jakarta, dikutip antaranews.com Sabtu(31/10/2015).

Dewan Pembina Komisi Nasional Perlindungan Anak, Seto Mulyadi atau Kak Seto (ANTARA FOTO/Vitalis Yogi Trisna)
Dewan Pembina Komisi Nasional Perlindungan Anak, Seto Mulyadi atau Kak Seto (ANTARA FOTO/Vitalis Yogi Trisna)

Dia menjelaskan, tujuan dikaji secara menyeluruh agar tidak menjadi “pisau bermata dua”.

“Maksudnya pisau bermata dua adalah, hukuman kebiri kimia dikhawatirkan hanya melumpuhkan syaraf libido pelaku saja, tapi tidak melumpuhkan sisi kekejamannya terhadap anak-anak,” katanya.

Padahal yang diperlukan, kata dia, adalah efek jera agar pelaku tidak mengulangi lagi kekejamannya terhadap anak-anak di masa mendatang.

“Kalau hanya mengurangi dorongan seksual tapi tidak mengurangi dorongan untuk berlaku kejam terhadap anak maka akan sia-sia,” katanya.

Untuk itu, kata dia, kajian harus dilakukan dari berbagai aspek, mulai dari sisi psikologis, ideologis, sosiologis, penegakan hukum, hak asasi manusia, hingga medis.

“Pertimbangkan bukan hanya dari disiplin ilmu, tapi dari psikologis nya juga,” katanya.

Dia menambahkan, hukuman tersebut jangan sampai membuat pelaku menjadi dendam.

“Yang dikhawatirkan pelaku menjadi dendam, lalu semakin kejam di kemudian hari,” katanya.

Karena itu, kata dia, diperlukan kajian mendalam, agar hukuman yang diwacanakan bisa efektif menimbulkan efek jera.

Sementara itu, dalam rapat terbatas terkait dengan pencegahan dan penanggulangan kekerasan terhadap anak di Kantor Presiden RI beberapa waktu yang lalu, Kepala Negara menyampaikan rencana pemerintah untuk memberikan hukuman tambahan bagi pelaku kejahatan seksual terhadap anak. Salah satunya dengan pengebirian syaraf libido.

Pemerintah menilai kasus-kasus kekerasan terhadap anak sudah mencapai tahap yang mengkhawatirkan sehingga diperlukan langkah nyata, salah satunya dengan memperberat hukuman bagi para pelaku untuk memberikan efek jera dan hukuman yang setimpal.(Ki)

%d blogger menyukai ini: