Sketsa News
Home Berita Terkini, Citizen-Jurnalism, Headlines, News Mana yang Betul Rinjani atau Barujani yang Baru Saja Meletus?

Mana yang Betul Rinjani atau Barujani yang Baru Saja Meletus?

Sketsanews.com – Polemik penyebutan nama gunung yang meletus, -sejak letusan pertama pada 25 Oktober 2015, di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat sempat menjadi perbincangan yang hangat di Media Sosial hingga kini.

Sebagai contoh, berita di BBC,

Gunung Rinjani meletus, Australia batalkan penerbangan ke Bali

di Liputan 6,

Anak Gunung Rinjani Meletus Lagi, 3 Bandara Ditutup

sedang di Detik,

Ini Penampakan Letusan Gunung Barujari, Anak Gunung Rinjani

dan masih banyak lagi cuplikan media di Indonesia yang memberikan julukan yang berbeda terhadap konten pemberitaan gunung yang meletus di Pulau Lombok.

Dalam penelusuran, laman BBC, pernah menanyakan kepada Devy Kamil Syahbana dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) sang pemilik akun twitter@_elangtimur.

Rujukan pertanyaan kepada Devy Kamil Syahbana sangat tepat, kapasitasnya sebagai pejabat Kasubbid Pengamatan dan Penyelidikan Gunung Api Wilayah Timur Indonesia.

Apa Jawabannya?

Semua penyebutan itu betul.

“Rinjani itu adalah sebuah kaldera besar yang terbentuk sudah lama sekali. Di dalam kaldera itu pusat letusannya berpindah-pindah,” kata Devy.

Perlu diketahui Kata “kaldera” berasal dari bahasa Spanyol, yang artinya wajan. Kaldera adalah fitur vulkanik yang terbentuk dari jatuhnya tanah setelah letusan vulkanik. Contoh di Indonesia adalah danau Toba yang berawal dari letusan gunung purba. Kaldera sering tertukar dengan kawah vulkanik. (dikutip dari Wikipedia Indonesia)

“Diameter Rinjani besar sekali, delapan kilometer dari timur ke barat, dan 6,5 kilometer dari selatan ke utara,” tambahnya.

Letusan paling besar tercatat pada 1257, kala itu pusat letusan berada di Gunung Samalas, di kompleks kaldera Rinjani. Kejadian ini terekam sebagai salah satu letusan paling dahsyat di dunia.

Setelah itu, Samalas sudah tidak ada lagi. Tetapi muncul kerucut-kerucut lain yang memiliki aktivitas vulkanik, salah satunya adalah Gunung Barujari, kerucut yang tumbuh dengan ketinggian 2.726 meter.

“Selain Barujari, ada juga gunung lainnya, kawah lain yang merupakan sumber aktivitas Rinjani. Yang kita observasi, ada Gunung Anak Barujari dan Gunung Rombongan.”

Terkait penamaan, dia mengatakan semua penamaan yang ada di media massa selama ini betul, karena “secara keseluruhan, yang meletus adalah Gunung Rinjani, melalui Gunung Barujari.”

Menurut catatan PVMBG, Rinjani telah meletus sebanyak 18 kali tetapi kekuatannya jauh di bawah letusan besarnya pada 1257.

 

Visual Letusan G. Rinjani 5 November 2015 18:11:53 WITA (source: CCTV PVMBG-Badan Geologi | @_elangtimur

 

Kondisi terkini

Aktivitasnya, menurut PVMBG, masih tercatat tinggi dengan abu mencapai ketinggian sekitar 700 meter sampai 2.000 meter di atas Barujari, atau sekitar 3.100 hingga 4.400 meter di atas permukaan laut.

Arah abu vulkaniknya tercatat berpindah-pindah sesuai arah angin: dari awalnya ke arah barat laut, barat, barat daya, sekarang cenderung ke selatan.

“Yang menarik, fragmentasinya sempurna sehingga abunya sangat halus. Inilah yang menjelaskan mengapa abu tersebar ke arah yang jauh, dan saya dengar sudah sampai ke Jawa Timur,” kata Devy.

Bandara Ngurah Rai belum akan dibuka sampai besok (06/11) pukul 08.45 waktu setempat, menurut Juru bicara PT Angkasa Pura 1 Ida Bagus Ketut Juli Adnyana.

“Kabar dari BMKG, belum ada perubahan arah angin yang membawa abu dari Rinjani,” ujarnya, dikutip dari BBC.

Dari Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB; Sutopo Purwo Nugroho @Sutopo_BNPB mengabarkan pada Kamis petang (5/11/2015), Bali aman dari kepungan abu vulkanik G.Rinjani 5-11-2011 pukul 18 Wib. Aktivitas gunung masih tinggi.

Sutopo juga menunjukkan gambar (dibawah ini) dari Citra Satelit Himawari, Pergerakan debu Vulkanik menuju kearah Selatan – Barat Daya.

(in)

%d blogger menyukai ini: