Sketsa News
Home Berita Terkini, News, Wawancara Wawancara Bima Arya : “Ini Soal Nyawa Warga … “

Wawancara Bima Arya : “Ini Soal Nyawa Warga … “

Sketsanews.com – Dari informasi intelijen yang diterimanya, bakal ada massa yang siap jihad dari luar Bogor. “Ini soal nyawa warga…” tegasnya.

Bima Arya Sugiarto, Walikota Bogor | @mojokdotco

Dengan cepat Bima Arya Sugiarto meraih ponselnya. Dicari satu nomor di daftar kontaknya: Kepala Kepolisian Resort Kota Bogor, AKBP Andi Herindra Rahmawan. Setelah nomor itu terpampang di layar telepon, ia langsung menekan tombol dial.

“Mas, apakah menyimpan surat kesepakatan dengan pihak Abdullah Assegaf (pimpinan Syiah Bogor) untuk tidak melakukan kegiatan yang mengerahkan massa?’

Andi menjawab, “Ada Pak Wali, saya capture dan kirim ya.”

Telepon seluler Bima bergetar. Ia kemudian membuka pesan dari Andi itu dan memperlihatkannya kepada Beritagar.id isi surat kesepakatan itu.

“Sudah ada kesepakatan, kegiatan dilakukan tertutup dan tidak mengundang orang luar, tapi malah tetap dilakukan,” kata Bima di kantornya, Selasa (27/10/2015), Jalan Ir. H. Juanda Nomor 10, Bogor, Jawa Barat.

Atas dasar surat kesepakatan itu ia menghentikan kegiatan Asyura, yang merupakan peringatan gugurnya Imam Husain, cucu Nabi Muhammad SAW. “Saya mendatangi Habib Abdullah dengan baik-baik, bahkan kami berangkulan.”

Untuk kali kedua, Wali Kota Bogor dari Partai Amanat Nasional (PAN) ini menjadi perhatian. Setelah disorot saat menyegel Gereja Kristen Indonesia (GKI) Yasmin Desember tahun lalu, ia kini menerbitkan kebijakan pelarangan bagi penganut Syiah merayakan hari Asyura di wilayahnya.

Ia sadar keputusannya akan mengecewakan satu pihak. Tapi dia juga tahu persis apa yang harus dilakukannya tentang hal itu. “Ini soal nyawa warga. Saya tidak mau ada konflik kekerasan agama di Bogor,” ujarnya tegas.

Bima terkejut karena kebijakannya itu beberapa sahabat mencecar, bahkan ada pihak yang mengancamnya. “Ini risiko pemimpin untuk menjadi tidak populer,” ujarnya.

Bagaimana sebenarnya perspektif Bima yang sudah 1,5 tahun memimpin Kota Hujan ketika mengambil keputusan dalam konteks kebebasan beribadah –yang membuatnya berada dalam sorotan kembali.

Berikut wawancaranya dengan Heru Triyono dari Beritagar.id. Selasa pekan lalu.

Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto sedang mengontak Kepala Kepolisian Resort Kota Bogor AKBP Andi Herindra Rahmawan, Selasa (27/10/2015) di kantornya, Jalan Ir. H. Juanda Nomor 10, Bogor, Jawa Barat.(foto beritagar.id)
Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto sedang mengontak Kepala Kepolisian Resort Kota Bogor AKBP Andi Herindra Rahmawan, Selasa (27/10/2015) di kantornya, Jalan Ir. H. Juanda Nomor 10, Bogor, Jawa Barat.(foto beritagar.id)

Anda ditekan ketika mengeluarkan surat edaran yang berisi imbauan pelarangan perayaan Asyura itu?

Tidak ada sama sekali.

Apa yang melatarbelakangi Anda mengeluarkan surat edaran itu?

Saya mengambil keputusan berdasar data intelejen, informasi polisi, Muspida (Musyawarah Pimpinan Daerah), Kodim (Komando Distrik Militer) dan tokoh masyarakat. Menurut informasi mereka, ada mobilisasi massa yang siap jihad dari luar Bogor untuk menggeruduk mereka (Syiah). Kalau didiamkan bisa terjadi peristiwa seperti di Ciketing.

Artinya yang mengusulkan surat edaran itu Muspida?

Bersama-sama. Konteksnya murni soal keamanan.

Ada kaitannya dengan persoalan akidah?

Tidak ada hubungannya. Jangan terlalu mudah ambil kesimpulan. Kalau bicara akidah, saya termasuk yang percaya bahwa keberagaman harus dihargai. Saya ada di belakang keberagaman itu.

Sepupu saya sekolah di sekolah Katolik, Budi Mulya, Mardi Yuana dan Regina Pacis. Saya kuliah di universitas katolik, menikah dengan keturunan Tionghoa dan setiap tahun merayakan imlek. Bahkan cinta pertama saya adalah perempuan Katolik keturunan yahudi.
Saya pun juga melarang kegiatan tabligh akbar di Sempur. Apakah itu berarti persoalan akidah? Saya juga terkadang melarang konser musik. Apakah itu soal akidah? Kan tidak. Itu soal keamanan.

Tugas kepala daerah adalah melindungi warganya apapun latar belakang keyakinan dan agamanya. Peserta pengajian Abdullah Assegaf itu banyak ibu dan anak, saya tidak mau sesuatu terjadi pada mereka.

Undang-Undang Pemerintahan Daerah memberi hak bagi kepala daerah untuk melakukan sesuatu atau langkah yang dianggap perlu untuk mencegah konflik di daerah. Itu semata-mata dasar saya. Sebab itu saya sampaikan ke mereka (Syiah Bogor), jangan dirayakan dulu (Asyura), karena berbahaya. Kami mengevakuasi mereka, dikawal, sampai kembali ke daerah masing-masing.

Tapi kebijakan Anda ini menimbulkan kontroversi?

Saya kira duduk di kursi ini (wali kota) kita akan melihat banyak hal, yang tidak bisa dilihat dari luar. Saya melihat potensi kerusuhan. Saya tahu ini bisa jadi tidak populer, tapi bagi saya lebih baik kehilangan popularitas, ketimbang ada tragedi di Bogor. Saya menyimpulkan situasi sudah darurat.

Saya yakin 100 persen bahwa surat itu harus dikeluarkan. Surat itu kan bukan pelarangan ibadah panjang, tapi hanya pelarangan untuk kegiatan di malam itu saja. Karena tidak bisa saya melarang orang beribadah, itu bukan domain saya. Ini yang orang salah tangkap. Barang kali redaksional surat itu menimbulkan banyak tafsiran.

Seberapa bahaya atau darurat situasinya?

Ibaratnya Bank Century. Orang bilang, ngapain di-bail out? Tetapi hari itu Pak Boediono dan Ibu Sri Mulyani pasti dihadapkan pada kondisi, yang dalam perspektif mereka berbahaya. Nah, saya ada dalam posisi seperti itu.

Sebelum mengeluarkan surat edaran itu Anda sudah melakukan dialog dengan komunitas Syiah Bogor?
Sudah. Muspida yang datang berdialog, juga Kapolres dan Dandim. Saya sedang di luar kota. Mereka membuat kesepakatan untuk tidak dilakukan kegiatan. Ditandatangani kedua pihak. Tetapi ternyata tetap ada kegiatan, padahal sudah ada surat kesepakatan hitam di atas putih.

Sebenarnya apakah warga Bogor keberatan dengan kegiatan Syiah itu?

Ulama se-Bogor, kemudian warga di situ (tempat kegiatan Syiah dilakukan) juga merasa keberatan.

Apa tidak ada opsi lain untuk mengantisipasi situasi tersebut?

Tidak ada, karena seperti saya bilang tadi. Ini soal keamanan, dan saya ingin melindungi warga saya dari kemungkinan konflik besar.

Beberapa kalangan yang dekat dengan Anda menilai kebijakan Anda ini diskriminasi terhadap minoritas, bahkan netizen mengecam keras di media sosial. Komentar Anda?

Itu risiko pemimpin. Orang hanya melihat selembar kertas, tanpa melihat keseluruhan. Selalu ada perspektif lain, tapi itu adalah hak mereka, dan saya terbuka untuk dikritisi. Banyak sekali, sahabat dan kawan, yang menghujat, mengkritik, ada juga yang mencaci maki.
Bagi saya, kursi (wali kota) ini membuat saya tidak bisa berdebat panjang tentang banyak hal. Ini kursi untuk memutuskan keamanan dan ketertiban, dengan cepat.

Ada kalkulasi politik terkait kebijakan Anda dan dampaknya?

Tidak ada. Malah saya tidak menduga bahwa kebijakan ini akan meledak isunya. Pas ke Bandung saya bertemu kang Emil (Ridwal Kamil), kami berdiskusi. Karena apa yang saya lakukan di Bogor pasti berpengaruh di Bandung, sebaliknya juga.

Contohnya, ulama anti-Syiah di Bandung meminta dia (Ridwan Kamil) bertindak seperti saya. Ulama pro-Syiah di Bogor, mengharap saya bertindak seperti RK (Ridwan Kamil). Dengan kebijakan ini saya diteror oleh pihak yang tidak suka.

Walikota Bogor | @IrirIrwan

Bukannya banyak yang mendukung Anda?

Buat saya banjir dukungan malah jadi tidak nyaman. Kenapa? Ini akan membelah masyarakat. Saya orang yang sangat menghormati persahabatan. Jadi wali kota hanya lima tahun, setelahnya ya berkawan, baik dengan dewan (DPRD) atau yang lain.

 

Pendeta bertanya tentang Gereja di Yasmin Bogor yang tak punya izin. Jusuf Kalla menjawab | @elyardi78

Soal GKI (Gereja Kristen Indonesia) Yasmin, Anda bisa menjamin mereka tetap bisa beribadah di Bogor?

Yasmin adalah prioritas saya. Supaya mereka bisa beribadah, kini kami sedang carikan tempat yang layak. Karena yang sekarang ini memang sudah penuh. Mereka perlu tempat yang lebih luas. Kalau gereja tetap di situ agak sulit untuk diperlebar karena tempatnya sudah tidak mungkin. Harus di tempat lain, tidak di jalan Pengadilan.

Duduk di sofa kantornya, Bima bercerita bagaimana dia sedang menghadapi perubahan besar dalam hidupnya: Tidak ada hari libur, Sabtu dan Minggu bekerja. “Setiap hari keluar subuh, rapat sampai malam, hampir tidak ada waktu untuk diri sendiri,” kata dia menyoal kesibukannya selama 1,5 tahun menjabat Wali Kota.

Praktis kini ia tidak bisa menyalurkan hobinya, yaitu bersepeda. Hobi yang bisa ia lakukan hanya lari. Itu pun terbatas. Setiap minggu hanya dua sampai tiga kali.

Apa yang menjadi tantangan terbesar dalam 1,5 tahun sebagai wali kota?

Tantangan terbesar adalah memperbaiki sistem, yang melibatkan seluruh jajaran (Wali Kota), untuk bergerak maju ke arah yang lebih positif.

Berapa lama waktu yang diperlukan?

Yang pasti sekarang lebih baik, karena saya bangun sistem birokrasi yang ketat, koordinasi dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Ombudsman. Kalau wali kota tidak korupsi yang lain jangan dong. Saya tidak terima gratifikasi dan segala macam. Itu iklim yang dibangun di balai kota ini. Kami juga terbuka tentang ide dan gagasan dari semua kalangan. Termasuk dengan kampus, mahasiswa, dan anak muda.

Anda memiliki banyak rencana untuk generasi muda, misalnya taman dan Smart City. Apa lagi kebijakan yang paling penting terkait mereka
Duduk di kursi ini (wali kota), saya melihat berbagai peristiwa yang memilukan. Saya bertemu dengan anak usia 16 tahun lagi triping nyaris overdosis ketika sidak dengan Kapolres. Saya juga menyaksikan sendiri bagaimana anak belasan tahun tawuran dengan tubuh penuh tato di tubuhnya.

Pekerjaan dia adalah membuat parang sepanjang dua meter untuk alat perang tawuran itu. Mau dibawa kemana generasi ini? Sebab itu, masalah sosial ini harus diselesaikan dengan edukasi, termasuk mengatur minuman keras lewat peraturan daerah.

Sudah sejauh apa draft itu dibahas di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Bogor?

Masih terus kita dorong. Pokoknya, ketika ada pengusaha tidak punya izin menjual miras akan ditindak. Serta menutup tempat hiburan malam yang melanggar jam malam.

Bagaimana Anda memastikan Bogor sebagai kota yang inovatif?

Pendekatan kami adalah peningkatan pembangunan manusia. Banyaknya taman di Bogor bukan sekadar untuk mempercantik diri, melainkan agar anak mudanya bisa memiliki ruang berekspresi secara sehat.

Waktu kecil saya suka menangkapi kunang-kunang di taman, juga main sepeda di rumah kakek di Paledang (Bogor Tengah). Tapi yang paling seru adalah membuat pedang kecil dari paku. Paku itu saya taruh di atas rel kereta dan ketika digilas kereta paku itu menjadi gepeng, dan jadilah pedang. Ha ha ha…(Ki)

%d blogger menyukai ini: