Sketsa News
Home Berita Terkini, Headlines, News Bola Panas, Kunjungan Jokowi Ketemu Obama Lewat Makelar, $80 Ribu dan Penjelasan Resmi

Bola Panas, Kunjungan Jokowi Ketemu Obama Lewat Makelar, $80 Ribu dan Penjelasan Resmi

Sketsanews.com – Kunjungan Presiden RI Joko Widodo ke Amerika, belakangan menuai kegaduhan. Politikus Fadli Zon selaku Wakil Ketua DPR RI mempertanyakan adanya berita yang menyebutkan Pemerintah harus mengeluarkan uang sekitar 80 ribu Dolar AS untuk bertemu dengan Presiden Amerika Serikat Barrack Obama.

“Soal itu sebenarnya kita harus kembalikan kepada aturan main. Kalau ada semacam itu harusnya bisa dievaluasi,” kata Fadli di Warung Daun, Cikini, Jakarta, Sabtu (7/11/2015), dikutip dari TribunNews.

Sketsanews.com mencoba menelusuri asal berita $80 Ribu ini, dan didapatkan artikel “Waiting in the White House lobby BY MICHAEL BUEHLER, GUEST CONTRIBUTOR – 6 NOVEMBER 2015.” Penulis merupakan akademisi dari Australia National University yang naskahnya dipublikasikan oleh asiapacific.anu.edu.au.

Hingga kini, Pemerintah belum memberikan klarifikasi terkait artikel tersebut, namun demikian KBRI di Wasington DC secara terserat membantah adanya makelar loby ini.

“Terkait dengan pemberitaan penggunaan Lobbyist di Amerika Serikat, meskipun lobbyist merupakan bagian dari kehidupan politik di Amerika Serikat, Pemerintah RI sejak dilantik pada Oktober 2014 tidak pernah menggunakan lobbyist di Amerika Serikat,” tulis siaran pers dari KBRI di Washington DC, Sabtu (7/11/2015).

 

Tanggapan KBRI Washington DC

KBRI menyatakan adanya spekulasi yang menyatakan bahwa pertemuan antara Presiden Joko Widodo dan Presiden Obama difasilitasi oleh lobbyist sangat tidak berdasar.

Sejak pertemuan pertama Presiden Jokowi dan Presiden Obama di Beijing di sela-sela pertemuan APEC pada Nopember 2014, Presiden Obama telah mengundang Presiden Joko Widodo ke Amerika Serikat.

Selain itu, Presiden Obama melalui suratnya tanggal 16 Maret 2015 telah secara resmi menulis surat kepada Presiden Joko Widodo dan mengundang secara resmi untuk berkunjung ke Amerika Serikat.

“Presiden Joko Widodo pada tanggal 19 Juni 2015 membalas undangan Presiden Obama dan menyatakan akan berkunjung ke Washington DC pada tanggal 26 Oktober 2015 setelah kedua negara menyepakati waktu yang sesuai bagi Kedua Kepala Negara,” tulis siaran pers tersebut yang sketsanews kutip dari TribunNews.

Tanggapan Resmi dari Laman Setkab.go.id

Bantah Diatur Broker, Kemlu: Presiden Jokowi Ke AS Penuhi Undangan Presiden Obama

Kementerian Luar Negeri (Kemlu) menyesalkan artikel yang ditulis Michael Buehler, dosen Ilmu Politik Asia Tenggara di School of Oriental and African Studies di London, “Waiting In The White House Lobby” melalui laman New Mandala //asiapacific.anu.edu.au pada Jumat (6/11), yang menyebut adanya peran broker dalam pertemuan antara Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Barrack Obama, di Gedung Putih, Washington DC, Senin (26/10) lalu.

*** Menlu, Retno LP Marsudi: kunjungan Presiden Jokowi ke Amerika Serikat atas undangan Presiden Barack Obama. (ris) | @RadioElshinta

“Isu yang diangkat sangat tidak akurat, tidak berdasar dan sebagian mendekati ke arah fiktif,” tegas Kementerian Luar Negeri RI melalui siaran persnya Sabtu (7/11).

Ditegaskan dalam siaran pers Kemlu itu, kunjungan Presiden Jokowi ke Amerika Serikat adalah atas undangan Presiden Obama yang disampaikan langsung pada saat pertemuan bilateral di sela-sela KTT APEC 2014 di Beijing pada 10 November 2014.

“Undangan ini kemudian ditindaklanjuti dengan undangan tertulis yang disampaikan melalui saluran diplomatik,” jelas siaran pers Kemlu. Namun karena  jadwal Presiden Jokowi serta perhatian beliau akan berbagai isu penting dan mendesak mengakibatkan undangan ini baru dapat dipenuhi pada tanggal 25-27 Oktober 2015.

Siaran pers Kemlu juga menjelaskan, sama halnya dengan persiapan kunjungan Presiden RI ke negara-negara lain, persiapan kunjungan ke Amerika Serikat tersebut dipimpin oleh Menteri Luar Negeri, berkoordinasi dengan berbagai kementerian dan lembaga, parlemen, KBRI Washington D.C., Konsulat Jenderal RI di San Francisco, Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, serta kalangan bisnis dan para pemangku kepentingan lainnya.

Persiapan untuk kunjungan tersebut, lanjut siaran pers Kemlu, juga mencakup sejumlah pertemuan tingkat Menteri dan kunjungan timbal balik para Menteri dan pejabat tinggi dari kedua negara, sejumlah misi bisnis, dan puncaknya adalah pertemuan antara Menteri Luar Negeri RI dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat di Washington, D.C. pada tanggal 21 September 2015.

“Hal ini menandai pentingnya kesuksesan hubungan bilateral Indonesia-Amerika Serikat yang bukan hanya menjadi kepentingan Pemerintah, namun juga berbagai pemangku kepentingan di Indonesia secara menyeluruh,” jelas Kemlu.

Persiapan intensif itu, lanjut siaran pers Kemlu, memungkinkan ditandatanganinya lebih dari 18 perjanjian bisnis senilai lebih dari 20 miliar dollar AS, dan sejumlah Nota Kesepahaman antara Pemerintah Amerika Serikat dan Indonesia.

“Kunjungan ini juga meningkatkan hubungan kedua negara menjadi mitra yang lebih strategis,” tambah siaran pers Kemlu.

 

Tidak Gunakan Pelobi

Melalui siaran pers itu Kemlu menegaskan, bahwa Pemerintah RI tidak menggunakan jasa pelobi dalam mengatur dan mempersiapan kunjungan Presiden ke Amerika Serikat. Kementerian Luar Negeri juga tidak pernah mengeluarkan anggaran Kementerian untuk jasa pelobi.

Namun Kemlu memahami bahwa penggunaan jasa pelobi merupakan bagian nyata dari dunia politik di Amerika Serikat, dan seringkali digunakan oleh pemangku kepentingan, dan Pemerintah negara-negara lain di dunia untuk memajukan kepentingan mereka di Amerika Serikat.

Terkait tuduhan adanya perselisihan antara Menteri Luar Negeri dengan menteri lain pada saat persiapan kunjungan Presiden Jokowi ke AS, sebagaimana ditulis artikel Michael Buehler, Kemlu  menyesalkan bahwa seorang akademisi yang terhormat dapat menyampaikan suatu pernyataan yang tidak benar.

 

(in)

%d blogger menyukai ini: