Sketsa News
Home Berita Terkini, News Tiga wartawan Lumajang korban teror diperiksa Polda

Tiga wartawan Lumajang korban teror diperiksa Polda

Sketsanews.com – Tugas wartawan di bilang penuh resiko dan tantangan. Resiko di teror oleh pihak pihak yang terganggu, selalu mengintai. Seperti yang dialami tiga wartawan Lumajang yang menjadi korban teror SMS dari orang tak dikenal.

Ketiganya Sabtu malam, diperiksa tim penyidik Ditreskrimum Polda Jatim.

“Kami bertiga menerima teror SMS secara berurutan pada Kamis (5/11) mulai 02.54 WIB hingga 02.56 WIB,” kata wartawan TV-One, Wawan Sugiharto, yang diperiksa penyidik pada pukul 15.00-18.00 WIB.

Ilustrasi teror sms
Ilustrasi teror sms

Didampingi dua rekannya yakni Abdurrohman (Kompas TV) dan Ahmad Arif Ulinnuha (JTV) yang menunggu proses pemeriksaan, ia menjelaskan isi SMS teror dan nomer telepon peneror sama.

Isi SMS teror, “Anda itu jangan jadi sok alim, wan. Kalau Anda di lain hari tetap memberitakan pasir, Anda aku bondet rumah atau Anda wan waktu jalan kemana pun. Aku sekarang dekat dari rumahmu, jok. Kenapa mas Agus Yuda juga diberitakan. Apalagi sampai dipanggil KPK, Anda akan aku bondet rumahmu, wan. Wassalam. Team Sak Masek Mutiara Halem. Aku Sahril Klakah”.

Selanjunya, “Coba laporkan aku ke Polres, sebelum melangkah, Anda sudah tewas. Bagi wartawan yang memberitakan tentang kasus Lumajang jangan enak-enak, entar lagi pasti ada yang kena mercon bantingan. Wassalam. Semua Team 32 Lumajang”.

Dalam pemeriksaan, Wawan Sugiharto yang akrab disapa Iwan itu mengaku dirinya ditanya penyidik hingga 30 pertanyaan terkait kronologis teror dan kemungkinan motif peneror.

“SMS teror yang kami terima pada Kamis (5/11) itu kami laporkan ke Polda Jatim pada Jumat (6/11), lalu kami bertiga dipanggil pada Sabtu (7/11) pagi untuk menjalani pemeriksaan, tapi pemeriksaan pertama untuk saya dimulai pukul 15.00 WIB, sedangkan teman lain masih belum,” katanya.

Tentang motif atau tujuan peneror, ia menduga hal itu terkait dengan pemberitaan yang selama ini disoroti ketiga jurnalis televisi itu setelah tewasnya aktivis antitambang Lumajang, Salim Kancil, 26 September 2015.

“Tapi, peliputan kami di lapangan sejak 26 September hingga 4 November tidak ada masalah. Peliputan yang kami lakukan pada 3-4 November terkait penambangan di Sungai Mujur, Desa Lempeni, Kecamatan Tempeh, Lumajang, yang masih operasional di tengah moratorium,” katanya.

Bahkan, peliputan pada 4 November menyoroti razia yang dilakukan Polsek setempat terkait penambangan di Sungai Mujur, Desa Lempeni, Kecamatan Tempeh, Lumajang, yang menyita empat kendaraan penambang.

“Tapi, Kamis (5/11) dinihari itulah, kami bertiga menerima SMS teror secara berantai dengan isi dan dari nomer telepon yang sama, sedangkan teman lain tidak ada, karena itu kami menduga teror itu ada kaitan dengan peliputan kami pada 3-4 November itu,” katanya.

Secara terpisah, Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol RP Argo Yuwono menegaskan bahwa Polda Jatim telah menerima laporan teror itu dan langsung melakukan pemeriksaan.

“Kami juga melakukan pengamanan keluarga pelapor dari berbagai kemungkinan ancaman seperti dalam isi SMS itu, tapi kami belum menangkap pelaku teror itu,” katanya.

Informasi yang diterima Antara dari sumber lain menyebutkan penyidik Polda Jatim sudah mengidentifikasi peneror berinisial HL dan langsung meminta bantuan Polres Lumajang untuk meringkus pelaku teror pada Sabtu (7/11) ini juga.(Ki)

%d blogger menyukai ini: