Sketsa News
Home Berita Terkini, News Menag: Pesantren Bukan sarang teroris

Menag: Pesantren Bukan sarang teroris

Sketsanews.com – Politikus PDI Perjuangan yang juga Direktur Eksekutif Megawati Institute Siti. Musdah Mulia, menuding sekolah Islam sebagai penyebab munculnya terorisme di Indonesia.

 Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin (foto detik.com)
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin (foto detik.com)

Musdah menyarankan agar sekolah-sekolah Islam termasuk pesantren untuk dikurangi karena menjadi tempat berkembangnya terorisme.

Pernyataan Musdah tersebut, mendapat tanggapan dari Menteri Agama Republik Indonesia. Lukman Hakim Saifuddin menolak jika pesantren dikatakan sebagai sarang terorisme. Menurut dia, institusi pendidikan Islam itu justru mengajarkan toleransi di tengah keberagaman.

“Saya pikir tidak. Pesantren itu selalu memiliki ciri utama keberagaman pesantren. Keberagaman itu mencirikan tiga hal di manapun pesantren itu ada,” kata Menag Lukman di Jakarta, seperti yang dilansir Antaranews.com Selasa (17/11).

Lukman mengatakan pernyataan Musdah itu kebalikan dari pesantren. Sebab, pesantren tidak mengajarkan ekstremitas, tapi justru selalu tumbuh dengan rendah hati.

Tiga hal dari keberagaman dalam pesantren, kata Lukman, di antaranya pesantren itu selalu mengajarkan nilai-nilai Islam yang moderat. Kemudian pesantren tidak mengajarkan nilai-nilai ekstrim dan terakhir pesantren mengajarkan tentang cinta Tanah Air.

“Jadi kalau ada orang yang menyatakan lembaga pendidikannya pesantren itu mengajarkan nilai-nilai ekstrim, itu bukan pesantren. Itu sekedar mengatasnamakan pesantren,” katanya.

Pesantren, kata dia, tidak mengajar ekstrimitas tapi justru selalu tumbuh dengan rendah hati.

Lebih lanjut dikatakannya, sejatinya pesantren adalah yang mengajarkan nilai-nilai serta tidak mengklaim kebenaran itu hanya miliknya. Toleransi di dalam pondok pesantren dibangun secara luar biasa.

“Pesantren itu pasti cinta Tanah Air. Jadi kalau di tengah-tengah masyarkat ada orang yang mengatasnamakan pesantren lalu mengajarkan hal-hal yang bertolak belakang dengan ajaran Islam itu hanya mengatasnamakan Islam saja,” kata dia.

Menurut Lukman, masyarakat sendiri bisa menilai sebuah lembaga pendidikan Islam itu disebut sebagai pesantren atau tidak dengan melihat sepak terjang institusi tersebut.(Ki)

%d blogger menyukai ini: