Sketsa News
Home Berita Terkini, Internasional, News Pasca Serangan Paris, Pengungsi Syria Makin Kelam

Pasca Serangan Paris, Pengungsi Syria Makin Kelam

Sketsanews.com – pasca serangan serangan di Paris, nasib pengungsi Syria kian kelam. Mereka mulai sulit mencari negara yang bersedia memberikan perlindungan pasca terungkapnya fakta bahwa salah seorang pelaku teror di Kota Paris Jumat malam lalu (13/11) mengantongi paspor Negeri Syam itu.

Foto: Marko Djurica/REUTERS Pengungsi asal Syria berjalan di wilayah Serbia pada Agustus lalu
Foto: Marko Djurica/REUTERS
Pengungsi asal Syria berjalan di wilayah Serbia pada Agustus lalu

Amerika Serikat (AS) tak terkecuali memberikan reaksi serius. Kemarin (17/11) 27 di antara total 51 negara bagian di Negeri Paman Sam memilih untuk tidak menerima pengungsi asal Syria.

“Keamanan (bangsa) harus menjadi yang terutama,” cuit Gubernur Texas Greg Abbott melalui akun Twitter-nya.
Dia juga mendesak pemerintah pusat untuk menempuh kebijakan yang sama. Dalam surat resminya kepada presiden, dia menyatakan bahwa belas kasih AS terhadap para pengungsi tidak seharusnya membuat keselamatan rakyat terancam.

Sejak 2011 sampai sekarang, AS telah menampung sedikitnya 1.500 pengungsi Syria. September lalu Presiden Barack Obama menjanjikan tempat bagi sekitar 10.000 pengungsi dan pencari suaka asal Syria. Rencananya, para pengungsi itu bisa mulai masuk AS tahun depan. Tapi, suara 27 negara bagian tersebut bakal menjadi pertimbangan khusus.

Sebanyak 26 gubernur negara bagian yang menolak pengungsi Syria itu adalah politisi Partai Republik. Hanya satu yang tercatat sebagai politikus Partai Demokrat. Dengan alasan keamanan, mereka memilih untuk tidak menampung pengungsi Syria. Kendati demikian, keputusan akhir tentang pengungsi Syria berada di tangan pemerintah pusat, bukan para gubernur.

“Mengalahkan ISIS (Negara Islam Iraq dan Syria, Red) akan melibatkan cara pandang AS (terhadap teror). Sikap para gubernur yang tidak mau mengulurkan tangan kepada para pengungsi dan korban perang itu justru akan berdampak buruk pada cita-cita AS tentang dunia yang damai,” papar Dewan Hubungan Islam-Amerika (CAIR) secara tertulis.

Organisasi muslim itu berharap para gubernur yang sudah berancang-ancang menolak pengungsi Syria tersebut bisa berubah pikiran. Sebab, meski pada akhirnya harus menurut pada aturan pemerintah pusat, para gubernur itu bisa saja mempersulit prosedur penerimaan para pengungsi.

Menurut CAIR, terorisme tidak bisa dilawan dengan pikiran yang sempit.
CAIR menyatakan, menolak para pengungsi atau menentang relokasi bukanlah cara yang tepat untuk menjauhkan AS dari teror. Sepakat dengan CAIR, Gubernur Michigan Rick Snyder mengusulkan kepada Departemen Keamanan Dalam Negeri supaya meninjau lagi prosedur keamanan AS.
“Memperketat pemeriksaan memang perlu. Tapi, kita juga tidak perlu mencurigai seluruh pengungsi,” ujarnya.

Di tempat terpisah, UNHCR merilis imbauan kepada seluruh negara di Benua Eropa supaya tidak lantas mengabaikan para pengungsi. Badan PBB yang mengurusi para pengungsi itu berharap tidak ada penolakan terhadap pengungsi asal Syria hanya karena ada pelaku teror yang menyamar sebagai pengungsi. Sampai sekarang, kepolisian Prancis masih menyelidiki paspor Syria atas nama Ahmad Al Muhammad yang diduga palsu.

“Kami sangat menyayangkan anggapan bahwa pengungsi Syria tak lebih dari kelompok yang perlu dihindari,” terang Jubir UNHCR Melissa Fleming. Padahal, menurut dia, para pengungsi dan pencari suaka Syria itu sangat membutuhkan perlindungan. Saat ini warga sipil Syria menduduki peringkat pertama pengungsi terbesar dunia.

Di sisi lain, kepolisian Prancis dan Belgia masih sibuk melacak jejak Salah Abdeslam dan Abdelhamid Abaaoud hingga kemarin. Belasan razia kembali dilancarkan di dua negara bertetangga tersebut. Meski berfokus pada dua tersangka yang sama-sama berasal dari Distrik Molenbeek, Kota Brussels, tersebut, polisi tetap melanjutkan investigasi. Tidak tertutup kemungkinan ada nama baru.

“Ini bukan sekadar perang (teroris) dengan sebuah negara. Teroris-teroris itu sudah memaklumatkan perang dengan peradaban manusia,” kata Menteri Luar Negeri AS John Kerry.
Dia menyebut para pelaku teror yang merenggut 129 nyawa itu sebagai monster psikopat. Kemarin AS pun melanjutkan serangan udaranya di Syria sebagai bentuk dukungan terhadap Prancis yang melancarkan misi balas dendam.(Ki)

%d blogger menyukai ini: