Sketsa News
Home Berita Terkini, News, Tekno-Sains Juara 1 LKTI : Tiga siswi SMA Kebon Dalem Ubah Arang Plastik dan Garam Jadi Baterei

Juara 1 LKTI : Tiga siswi SMA Kebon Dalem Ubah Arang Plastik dan Garam Jadi Baterei

Sketsanews.com –  Tiga siswi SMA Kebon Dalem Semarang berhasil menemukan sumber energi alternatif yang berasal dari arang plastik dan garam dapur (NaCl). Dua bahan itu diracik sedemikian rupa hingga menjadi sebuah baterai yang menghasilkan energi listrik.

Ketiga siswi kelas XI IPA ini, Benedicta Brigitta, Aulia Felicia Harjito dan Meliana Dewi Sulaksono, membuat riset untuk sebuah proyek yang berkaitan dengan kemandirian energi. Penelitian itu, berhasil menjadi juara I pada Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) tingkat nasional yang digelar Himpunan Mahasiswa Kimia Undip belum lama ini.

Ide itu bermula dari membaca berita rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTS) di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang. Benedicta dan dua temannya berpikir bagaimana memanfaatkan arang plastik dari sisa pembakaran tersebut.

“Kami berpikir, jika dibangun PLTS tentunya akan menimbulkan persoalan baru. Yakni, sisa pembakaran sampah berupa arang dari banyaknya sampah plastik di TPA tersebut,” kata Benedicta Brigitta kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (16/11).

“Inovasi yang kami buat adalah mengolah limbah botol sampah plastik dicampur dengan garam dengan sedikit air. Inovasi itu kami beri judul ‘Pemanfaatan Silikon Dioksida (SiO2) pada Arang Plastik dengan Penambahan Garam Dapur (NaCl) sebagai bahan baku baterai kering.’ Setidaknya seminggu kami melakukan penelitian, akhirnya berhasil membuat baterai ini,” cerita Benedicta.

“Tahapannya antara lain dengan mengelupas kulit luar baterai dan mengosongkan isinya, kemudian membuka tutup baterai. Baterai yang sudah kosong isinya itu kemudian diisi dengan campuran dari arang plastik dan garam dapur serta diberi sedikit air. Setelah itu ditutup kembali dan baterai yang sudah diisi tadi bisa langsung digunakan,” paparnya.

“Sistem kerja pada baterai kering biasa, di dalamnya terjadi reaksi kimia berupa gas hidrogen (H2) yang akan terpolarisasi, sehingga menghambat laju reaksi. Untuk itu, diperlukan suatu zat dispolarisator atau depolisator yang dapat mengikat  H2, dan mengubahnya menjadi H2O. Pada baterai biasa, depolisator yang digunakan adalah MnO2, sedangkan dalam penelitian kami, depolisator yang digunakan adalah SiO2 sebagai pengganti MnO2. Adapun H2O hasil reaksi dapat digunakan oleh garam dapur untuk melepaskan ion-ionnya dalam kondisi lembab,” jelasnya diamini kedua rekannya.

Guru pembimbing ketiga siswi, Andre Sutantyo, guru Fisika lulusan Universitas Kristen Satya Wacana menjelaskan, dengan adanya temuan tersebut diharapkan dapat membantu mengurai permasalahan pada lingkungan akibat banyaknya arang plastik dari hasil pembakaran sampah. Selain itu, penemuan tersebut juga diharapkan mampu menjadi sumber energi alternatif yang memperkaya khazanah diversifikasi energi.

“Dan yang terpenting lagi, penelitian ini sebenarnya dapat diaplikasikan dalam skala rumah tangga, karena mudahnya memperoleh bahan baku untuk membuat baterai ini. Dengan begitu, akan mendorong kemandirian energi di tengah masyarakat,” ujarnya.

Dari hasil olah data penelitian ketiga siswanya, lanjut dia, didapatkan besaran tegangan keluaran rata-rata mendekati 1 Volt (terukur). Hasil ini mendekati nilai tegangan keluaran pada baterai biasa sebesar 1,2 volt (terukur). “Jadi, massa variabel kontrol (NaCl) juga menjadi penentu besaran arus keluarannya (mA). Jika massanya semakin besar, arus yang dihasilkan juga akan semakin besar,” ucapnya.

 

(in)

%d blogger menyukai ini: