Sketsa News

Teror Paris

Sketsanews.com – Sekelompok pria bersenjata laras panjang dan bom, mengguncang Paris dalam rangkaian serangan mematikan pada Jumat (13/11/2015) malam waktu setempat.

teror-paris-sketsanews

Ratusan orang tewas dan terluka akibat serangan bom bunuh diri dan penembakan di kota itu. Para pelaku mendesain aksi mereka di enam lokasi berbeda, seperti bar dekat Stade de France, tempat berlangsungnya pertandingan sepak bola antara Prancis dan Jerman. Termasuk di balai konser Bataclan, restoran Le Petit Cambodge, Rue Charonne, Avenue de la Republique, dan Rue Beaumarchais.

Kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) mengklaim menyatakan bertanggung jawab atas peristiwa tersebut. Aksi itu sengaja mereka lancarkan untuk merespons kebijakan politik Prancis yang mendukung propaganda penghinaan terhadap Nabi Muhammad.

Seorang saksi mata, seperti dikutip oleh Guardian, menceritakan bagaimana seorang memegang AK 47  berteriak ‘Allahu Akbar’. Lalu menembak  ‘membabi buta’  ke kerumunan orang di gedung konser Bataclan di Paris, Jumat, 13 November 2015.

Tak lama kemudian, gedung itu seperti medan perang, banjir darah. Apalagi penembaknya tidak hanya satu. “Ada darah di mana-mana, ada mayat di mana-mana“, kata seorang saksi seperti dikutip Guardian. Dia menambahkan, “Saya berada di sisi yang jauh dari lorong.  Ada setidaknya dua orang bersenjata. Mereka menembak dari balkon”.

Saksi mata yang lain, Herve mengatakan, tiga laki-laki penyerbu Bataclan itu tidak memakai topeng, jadi semua orang bisa melihat wajahnya. Mereka memakai jaket dan merangsek ke dalam Bataclan Concert Hall dan menembaki secara acak.

Seperti dilansir dari cnnindonesia.com, bahwa intelijen Israel menyatakan akan memberikan bantuan kepada Perancis, untuk menginvestigasi peristiwa serangan senjata api dan bom.

Mengutip Reuters, Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu mengatakan telah memberi instruksi kepada intelijen Israel untuk membantu Perancis mengungkapkan peristiwa tersebut. “Saya sudah menginstruksikan pihak keamanan dan intelijen Israel untuk membantu Prancis dan negara-negara Eropa lainnya dengan cara apapun,” ujar Benyamin, Sabtu (14/11).

Intelijen Israel melihat ada keterkaitan antara serangan di Paris dengan aksi bom bunuh diri yang terjadi di Beirut, dan jatuhnya pesawat jet milik sebuah maskapai penerbangan asal Rusia di Sinai, Mesir.

Dari 159 korban tewas dari serangkaian teror di Paris itu, lebih dari 80 orang tewas  di gedung konser itu. Seorang reporter radio Prancis yang berada di gedung pertunjukan Bataclan mengambarkan bagaimana serangan biadab itu berlangsung selama 10 menit.

Sebanyak delapan pelaku dalam serangan itu tewas. Sebagian besar tewas karena bom bunuh diri dan hanya satu yang ditembak mati aparat keamanan. Tapi pemerintah Prancis belum bisa memastikan, apakah semua pelaku serangkaian teror itu tewas.

Salah seorang penyerang disebutkan dalam media Prancis sebagai Ismaïl Omar Mostefai. Warga Prancis 29 tahun itu diidentifikasi dari jari yang ditemukan di lokasi pembantaian di gedung konser Bataclan.

Analisis

Populasi kota Paris adalah 2.125.246 jiwa pada sensus 1999, lebih rendah dari puncak bersejarahnya 2.9 juta tahun 1921. Populasi kota kehilangan pengalamannya seperti kota-kota besar di dunia berkembang yang tidak memperluas batasannya. Faktor utama dalam proses ini adalah penurunan besar dalam ukuran rumah tangga, dan migrasi besar ke pinggiran kota antara 1962 dan 1975. Faktor migrasi ini meliputi de-industrialisasi, harga sewa tinggi, gentrifikasi distrik-dsitrik dalam, perubahan lapangan penghunian menjadi perkantoran dan campuran keluarga pekerja.

Kejatuhan populasi kota adalah salah satu masalah yang sedang dihadapi, di antara kotamadya dunia dan masalah besar bagi kota yang pernah mencapai 2.000.000 jiwa. Kejatuhan ini terlihat negatif bagi kota ini, administrasi kota berusaha mencegahnya dengan beberapa kesuksesan. Sementara perkiraan populasi Juli 2004 memperlihatkan peningkatan penduduk untuk pertama kalinya sejak 1954, mencapai 2.144.700 jiwa.

Peran Paris sebagai sebuah pusat perdagangan internasional telah menyebabkan sistem pengangkutannya berkembang cepat sepanjang sejarahnya, dan terus tumbuh cepat hingga sekarang. Hanya dalam beberapa dasawarsa, Paris telah menjadi pusat sistem motorway dan jalan tol, sebuah jaringan kereta berkecepatan tinggi dan, dua bandara besarnya, sebuah hub perjalanan udara internasional.

Berdasarkan fakta dan data yang bisa ditemukan pada peristiwa yang terjadi di kota Paris pada hari Jumat 13 Nopember yang lalu, maka bisa kita ambil analisa dari beberapa sudut pandang. Factor penyebab mengapa Prancis menjadi target serangan. Dalam hal ini ada beberapa sebab atau alasan mengapa sasarannya adalah Prancis :

1.Perancis merupakan negara yang proaktif memerangi teroris, bahkan pada tahun 2013 Prancis memerangi organisasi yang berafiliasi kepada al-Qaeda Islam Maghreb di Mali.
2.Kekecewaan di dalam negeri juga bisa menjadi penyebab serangan teror. Misalnya, soal kebijakan pelarangan burka. Kebijakan ini tak diselesaikan di tingkat bawah.
3.Peredaran senjata ilegal mudah diperjualbelikan dan keluar-masuk di perbatasan Prancis. Tak hanya senjata, bahan peledak juga mudah didapatkan. Senjata itu diduga dari sisa perang Balkan.
4.Babak baru hubungan antara Iran dan Perancis.

Sudut pandang yang berikutnya adalah masalah data intelijen yang menyatakan bahwa situasi keamanan pada saat itu sedang dijaga ketat karena menjelang acara Conference of Parties (COP) 21 di Paris pada 30 November-11 Desember 2015. COP 21 ditargetkan untuk menghasilkan komitmen global terbaru menggantikan Protokol Kyoto. Selain situasi keamanan yang terjaga ketat, masyarakat sudah mengetahui akan terjadi teror.

Kesimpulan

Dari data dan hasil analisa di atas, bisa kita tarik kesimpulan:
1.Teror yang terjadi di Paris bisa saja dilakukan oleh kelompok tertentu karena ada unsur balas dendam.
2.Teror dilakukan oleh orang-orang yang merasa tidak puas dengan kebijakan politik Prancis itu sendiri, yang mana tidak bisa menyelesaikan permasalahan di tingkat bawah.
3.Ada permainan intelijen dalam kasus teror tersebut karena dengan kondisi yang terjaga ketat masih saja bisa terjadi kekacauan. (Jp)

%d blogger menyukai ini: